Potret _ Elsa Ndiwuna Putri Ode
Sabtu, 20 Januari 2018
Kamis, 13 April 2017
Membaca Catatan Buku Lama
fardan ode™®| Bait - bait Catatan didaerah perantauan_Hidup di negeri rantau memang tak semudah yang kita dibayangkan, ada baik ada buruk, ada susah ada senang, ada suka ada duka, dan ada lapar ada kenyang semua ini harus alami di rantau orang. Terpisah dengan keluarga terutama ayah dan bunda bukan suatu yang menyenangkan. Apapun tujuannya, entah untuk bekerja atau untuk menuntut ilmu. Semua tak terlepas dari keinginan untuk membahagiakan mereka, terlebih pada saat mereka masih mengirimi kas bulanan kepada anak tercinta.
Adakah keinginan mengecewakan mereka di negeri rantau? Semua orang tua menginginkan agar anak-anak mereka menjadi anak yang berguna dan bermanfaat bagi orang-orang disekitarya. Mereka menginginkan sebuah perubahan pada prilaku, tidak lagi menjadi seorang anak kecil yang hanya tahu dengan dunia bermain. Tapi, menjadi seorang yang lebih dewasa dalam bertindak maupun berpikir.
Berikut ini adalah beberapa catatan anak rantau, selamat di baca...!!!
Catatan Anak Rantau
Kala senja datang menghampiri bumi......
Kegelapanpun datang dengan sendiri......
Kesejukkan udara meniup rambut helai demi helai.....
Keramaian berubah menjadi sepi dan sunyi.......
Hanya terlihat percikan mentari yang membenamkan diri......
Tiada terasa air matapun ikut membasahi bumi.......
Kala jiwa teringat tanah kelahiranku....
Kala hati rindu akan kampung halamanku......
Kala siang akan berganti malam.......
Hidup dirantau bukanlah senang dalam berjuang namun...
Kadang makan kadang hanya sarapan air putih....
Kadang nyanyian perut kosong yang di bawah untuk bertangan......
Begitulah rintangan yang harus di hadang, dan
Begitulah nasib anak rantau....
Laksana para pejuang yang kelaparan dalam berperang......
Puisi anak rantau
Dengan tintah hitam tangan ini menari-nari
Selembar kertas tumpuan imajinasi hati
Meski terkadang air mata berurai membasahi
Begitu pahit hidup yang harus di lewati sendiri
Bagaikan berjalan dibara api tanpa alas kaki
Panas udaranya mencekik sampai ke lubuk hati
Begitu nasib anak rantau yang kepedihan datang silih berganti
Berminggu-minggu sudah hidup di rantau orang,,
Berbulan-bulan sudah hidup di rantau orang,,
Bertahun-tahun sudah hidup di rantau orang,,,
Rela tinggalkan kampung halaman yang ku cintai
Rela jauh dari kasih sayang kedua orang tuaku
Rela jauh dari saudara-saudariku,,
Hanya untuk mencari sebongkah ilmu
Hidup di rantau orang tanpa sanak saudara
Laksana seorang anak yang tinggal sebatang kara
Hidup penuh tantangan dan bahaya di depan mata
Seakan dikelilingi kulit putih dan rambut lurus
Namun tak ada rasa takut di dalam jiwa
Demi kebahagiaan dan senyum keluarga
Rasa takutpun sirna dan berubah menjadi kekuatan yang nyata
Kadang rindu membelenggu jiwa
Dikala kesunyian menikam hitam bola mata
Namun doa keluarga menjadi pengobat lara
Dalam meniti kehidupan dunia pana
Meskipun hinaan dan caci maki yang di dengar
Namun itu tak menjadi penghalang dalam berlayar
Karena hinaan menjadikan aku seorang yang tegar
Karena caci maki menjadikan aku orang yang sabar
Untk menempuh perjalanan hidup menuju kesuksesan...
RATAPAN ANAK RANTAU
Saat mentari mulai meredupkan sinarnya di ufuk barat...
Aku coba torehkan sebercak tulisan ungkapan rasa hati saat ini...
Merenungi nasib seorang perantau...
Menjadi seorang anak rantau,
bergerilya di negeri orang, tiada sanak saudara,
hanya teman sebagai andalan,
Begitulah nasib yang ku alami saat ini...
Walau terkadang keadaan tidak seperti yang kuinginkan,
tapi itulah yang harus kuhadapi...
Sesuatu yang terkadang sulit untuk diterima sering kali muncul menghadang sebagai pertanda kesabaran diuji...
Orang tua, sanak keluarga yang nan jauh disana,
tidak akan tahu apa yang kualami, yang mereka hanya tahu bahwa keadaanku baik-baik saja,
dan itulah yang kuharapkan....
Aku tak ingin selalu bergantung pada mereka,
Aku tidak ingin terlena dengan kehidupan yang membuat mati langkahku.
Ku harus berjalan menemukan siapa diriku, bagaimana aku bisa mempertahankan hidup walau dengan sesuap nasi setiap hari...
Walau terkadang hati ini menangis meratapi nasib,
Namun
sebenarnya tangisanku ini yang membuat lemah.
Tapi apalah daya, hanya ini yang dapat kulakukan sebagai ungkapan suara hati.
Entah bagaimana masa depanku, tidak pernah kupikirkan, semua berjalan apa adanya.
Apa yang ada didepanku saat ini itulah yang harus ku hadapi...
Entah esok atau lusa akan terjadi apa dengan diriku, hanya Tuhan yang tahu...
Tapi ku bersyukur, kasih sayang TUHAN masih tercurah kepadaku...
TUHAN masih memberikan kepadaku orang-orang yang terbuka hatinya untuk menolong,,,
Memberikan tempat berteduh, dan memberikan dukungan kepadaku untuk tetap bisa kuat menjalani hidup...
Aku tak akan terlena dengan semuanya...
Aku tak mungkin terus berharap kepada mereka...
Mungkin saja disuatu saat nanti, bisa saja terjadi keadaan yang tidak semulus dengan harapan...
Aku harus siap dengan segalanya, walau ku tak tahu kemana lagi kaki ini akan melangkah...
ANAK RANTAU
Menangis Pun Seakan aku tak sanggup Lagi
Air Mata Seperti mengering Karena letih
Semua tak sederhana yang terpikirkan oleh hati
Menjalani hidup sendiri di tempat yang asing dikota ini
Seakan saat menatap semua tak sanggup untuk berjuang sendiri
mencari kesana kemari untuk bisa bertahan hidup disini
bekerja siang dan malam hanya untuk mengisi seuntai perut yang lapar
Hendak pulang tapi kampung halamanku nan jauh
Kini Berusaha mandiri dengan diri sendiri
memperjuangkan hidup yang tak tahu bagaimana harusnya
makan tak makan
tidur tak tidur di tempat ini mengalami sendiri kisah ini..
Namun
Aku yakin Tuhan selalu bersamaku dan suatu saat nanti aku jadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.
|Creative : D 4 Ni |
|www.fardanode.blogspot.com|
Minggu, 09 April 2017
Disuatu Sisi Kehidupan
Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya dorongan untuk menulis kembali lagi. Hanya saja, kali ini aku tidak sedang ingin menulis catatan perjalanan seperti biasanya. Catatan perjalanan yang kali ini aku tulis cukup berbeda, namun hal yang umum dialami dan dirasakan semua manusia. Perjalanan cinta. Cielah.
=============================================
Umur dan cinta memiliki korelasi yang kuat, itu menurutku.
Seiring bertambahnya umur dan pengalaman, pandangan kita mengenai ‘cinta’ berubah. Entah ke arah positif maupun negatif. Yang jelas, umur benar-benar merubah cara pandangku mengenai cinta; bagaimana aku melihat, memahami, merasakan, dan mengalami cinta.
Semakin tua, terutama mendekati pertengahan umur 20, aku semakin pesimis melihat cinta. Aku tidak lagi melihat cinta sebagai suatu anugrah pun mencari cinta layaknya kisah di novel dan film-film roman. Mencari pun sudah tak kulakukan lagi; lelah. Kalau memang ada seseorang yang ditakdirkan untuk bersamaku, pasti dia akan hadir suatu saat nanti di waktu yang tepat.
Tetapi apabila aku pikirkan lagi, pemikiranku ini benar-benar seperti seseorang yang sudah menginjak umur 30-an. Umur dimana ego sudah benar-benar menguasai diri, tidak lagi dapat menerima kehadiran orang lain karena sudah terlalu nyaman dengan ruang lingkup kehidupannya sendiri. Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini. Tapi nyatanya, pengalaman dan umur telah memberiku terlalu banyak pelajaran pahit; cikal bakal matinya pohon pengharapan.
Di sela-sela rasa penat dan lelah terhadap kehidupan percintaan, aku mencoba menghabiskan hari-hari bersama buku; satu-satunya hal yang dapat mengajakku kabur dari dunia abu-abu ini.
Adalah satu buku yang berisikan tulisan-tulisan pendek mengenai cinta, penulisnya merupakan para pegiat suatu komunitas di Korea Selatan. Belum pernah aku membaca buku karangan penulis Korea Selata sebelumnya. Judulnya pun sederhana,Things to Know When in Love. Entah apa yang terbesit di kepalaku sampai aku mengangkat buku tersebut dari tumpukan buku-buku keluaran terbaru di toko buku yang tak jauh dari rumahku.
Buku yang dikategorikan sebagai novel graphic ini menyajikan tulisan-tulisan pendek (benar-benar pendek, bahkan ada yang satu kalimat saja) yang dikemas dengan menarik yang penuh dengan makna.
Adapun salah satu tulisan pertama yang aku baca dari buku tersebut, Penyebab “Semakin Berumur, Percintaan Semakin Sulit”, yang membuat aku terperangah. Sedikit. Begini kutipannya:
“Penyebab ‘semakin berumur, percintaan semakin sulit’ hanya satu.
Kau dan dia telah terlalu lihai.
Telah memberikan cinta sepenuhnya
dan mencurahkan seluruh perasaan, tapi akhirnya tidak menjadi apa-apa.
Percintaan pun bukan lagi ‘sesuatu yang ingin dilakukan’.
Tapi menjadi sesuatu yang ‘kalau bisa, bagus’ atau ‘kalau tidak bisa, apa boleh buat’.”
Hok. Rasanya ada sesuatu yang menghujam dada saat membaca kalimat-kalimat tersebut. Benar juga. Semakin berumur, pengalaman dalam menjalin hubungan dengan orang lain pun telah banyak didapatkan. Pengalaman, baik itu baik maupun buruk, akan benar-benar mempengaruhi hati kita. Pengalaman yang buruk akan membuat kita memandang cinta sebelah mata.
Teringat ketika salah seorang teman pernah berkata, “Menikahlah sebelum kamu menginjak umur 30 tahun. Memasuki umur 30, kamu akan terlalu keras untuk menerima kehadiran orang dalam hidupmu. Ego dan prinsip hidup yang sudah tertata sekian kokohnya tidak akan mudah untuk dicampurtangani oleh pasangan nantinya. Semakin besar kemungkinan cekcok muncul karena ego tersebut. Terlebih untuk kaum lelaki; menjomblo sampai umur 30 akan membuat laki-laki semakin sulit mencari pasangan, karena mereka sudah terlalu nyaman berada dalam zona kesendiriannya tersebut.”
Tetapi, bukankah begini,
menjelang pertengahan umur 20, kita akan lebih fokus untuk membangun diri dan karir; untuk masa depan yang lebih baik, mereka bilang. Bagi mereka yang tidak memiliki pasangan, hal tersebut akan menjadi tujuan utama dalam hidup;kehadiran pasangan akan mengganggu proses menuju sukses, mereka bilang. Aku pun berpikir seperti itu. Padahal aku tahu, kalimat itu hanyalah alasan bagi mereka yang sudah “malas” mencari pasangan.
Bertemu yang baru, mencoba mengenal satu sama lain dari awal. Menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Menerima sifat-sifat satu sama lain, baik itu sesuai dengan kita maupun tidak. Mencoba beragam hal baru yang belum pernah dilakukan berdua. Menghadapi permasalahan yang biasa dialami pasangan layaknya roda yang berputar. Memikirkan kembali keputusan yang telah diambil. Memikirkan apakah hubungan layak untuk dilanjutkan atau tidak. Apabila berhasil maju, ya syukur. Kalau tidak bisa, ya mungkin belum jodoh. Seperti itulah. Kita tahu, menjalankan proses itu melelahkan.
Rasa malas dan takut. Ya, takut. Takut mengalami kegagalan lagi dalam menjalankan hubungan kiranya menjadi hal terbesar yang menjadi penyebab timbulnya rasa malas dalam menjalin cinta.
Takut menyakiti dan takut disakiti. Tentunya semua manusia takut akan hal tersebut.
Pada akhirnya, semua akan menunggu. Menunggu jodohnya untuk datang tanpa perlu usaha lebih untuk menariknya. Duduk tenang dan menanti keajaiban datang, atau berjalan-jalan di toko buku berharap ada seseorang yang tak sengaja bertubrukan dengan kita dan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Di sisi lain, di seberang, entah di mana, seseorang melakukan hal yang sama dengan kita. Menunggu sampai salah satu merobohkan tembok kemalasan dan berani mengambil resiko untuk menyakiti dan tersakiti.