Rabu, 18 Juli 2018

La Ode Muhamad Fardan - Dalam Cerita Rakyat

Pemimpin adalah Cerminan Rakyat

Perhitungan jumlah suara secara quick count dari berbagai lembaga survei telah mengumumkan hasilnya, hanya tinggal menunggu perhitungan real count dan pengumuman resmi dari pihak KPU sebagai lembaga independen penyelenggara Pilkada, maka pemimpin baru pun hadir.

Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk memilih pemimpin. Seiring berjalannya waktu yang silih berganti, estafet kepemimpinan juga berganti dari satu pemimpin ke pemimpin selanjutnya, dari satu periode ke periode berikutnya. Dan setiap pemimpin memiliki karakter dan sikap yang berbeda dalam memimpin. Terkadang kita menemukan pemimpin yang amanah menjalankan roda pemerintahan, tidak jarang juga pemimpin bersikap culas terhadap roda pemerintahan dan rakyatnya.

Seperti yang sudah-sudah, menjadi suatu kebiasaan bagi sebagian kita rakyat yang dipimpin, mengkritik dan mengkritisi pemimpin kita dalam masa kepemimpinannya. Bahkan, ada juga yang sampai menghujat dan mencaci maki pemimpin yang dulunya ia dukung, puja, dan pilih. Namun karena kekecewaannya, ia balik menyerang, membenci dan marah, jika kita gunakan istilah anak muda sekarang lebih tepatnya “ dikecewakan pas lagi sayang-sayangnya” .

Namun demikian, kita jangan pernah lupa, bahwa pemimpin adalah cerminan dari yang dipimpin. Pemimpin yang baik untuk rakyat yang baik, pemimpin yang buruk untuk rakyat yang buruk. Kita harus ingat, bahwa pemimpin juga awalnya berasal dari rakyat biasa yang kemudian kita usung dan kita pilih untuk memimpin kita. Kita mempercayai bahwasanya orang tersebut dapat merealisasi dan menjalankan aspirasi dan adil dalam menyejahterakan kita dan lainnya. Kita seide dan sependapat dengan visi dan misi yang dikampanyekannya. Maka ketika ia jadi pemimpin dan membuat kesalahan, nasihatilah ia dengan baik sebagai bentuk tanggung jawab kita, karena sebelumnya, suara kita yang menghantarkannya pada posisi tersebut.

Dalam satu riwayat, Sultan Abdul Malik bin Marwan pada suatu hari Jumat berkata dalam khotbahnya: “Saudaraku-saudaraku dan rakyatku yang aku muliakan dan cintai! Kalian semua selalu menuntut aku agar memimpin dan berperilaku seperti Abu Bakar dan Umar bin Khaththab, padahal tidaklah kalian sadari bahwa kalian semua tidak berperilaku sebagaimana rakyat Abu Bakar dan Umar bin Khaththab? “.

Maka, alangkah baiknya bagi kita untuk bijak dalam memilih pemimpin yang akan memimpin kita bersama rakyat lainnya. Pelajari visi misi, track recordnya, dan program-program yang ditawarkan. Berdoalah kepada Allah agar Dia memberi petunjuk bagi kita untuk memilih pemimpin yang baik bagi nusa, bangsa, negara, dan agama. Semoga Indonesia semakin jaya. Aamiin.

"La Ode Muhamad Fardan"

Selasa, 20 Februari 2018

Suara Petani Dalam Pilgub Sultra

Oleh : La Ode Muhamad Fardan

Tepat pada Tanggal 27 Juni 2018 mendatang Provinsi Sulawesi Tenggara akan melangsungkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak gelombang  1 bersamaan dengan beberapa Kabupaten/Kota di Tahun 2018 . Kiranya penting menurut penulis untuk memberikan sedikit pandangan ekonomi politik dalam pelaksanaan  evoria pesta Demokrasi yang akan digelar tersebut. Penulis memaknai, bahwa pilkada bukan hanya untuk menunjukkan kemajuan berdemokrasi, memilih pemimpin baru, mengukur partisipasi politik rakyat, akan tetapi pilkada 2018 harus menjadi ruang pertarungan Gagasan dan program-program kerakyatan oleh masing-masing Kandidat. Satu hal yang ingin penulis sampaikan bahwa masyarakat indonesia sampai hari ini dan tak terkecuali masyarakat Sulawesi Tenggara sangat percaya bahwa akan ada suatu perubahan secara politik, kemajuan secara ekonomi, pelayanan publik yang baik dan program-program yang pro rakyat akan lahir ketika ada Pemilu, Pilkada, Pilwalkot bahkan Pilkades sekalipun, hal ini dibuktikan bahwa ketika event demokrasi digelar, rakyat masih berbondong-bondong menyalurkan hak pilih nya (suara) dengan berbondong-bondong datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) pada saat Voting Day.

Praktis saat ini ada banyak isu yang sudah beredar di masyarakat tentang calon gubernur/wakil gubernur yang akan memperebutkan posisi no 1 (Satu) di Provinsi Sulawesi Tenggara, sejumlah nama pun bermunculan baik itu dari kalangan tokoh-tokoh politik, tokoh pemuda, anggota DPRD, maupun Birokrasi. sejauh ini sudah bisa terpastikan siapa-siapa saja yang akan tampil dan maju secara terbuka dan mendapat dukungan politik dari partai-partai politik (Koalisi Partai) dan dukungan rakyat melalui jalur independent sebagai calon gubernur/wakil gubernur 2018 mendatang. Di partai politik sendiri masih melakukan penjaringan kader dan survey internal untuk menentukan sikap politiknya, dan dijalur perorangan (Independen) masih melakukan konsolidasi politik dan mencari dukungan rakyat untuk memastiak tiket masuk dalam perhelatan pilkada 2018 nanti, dan tepatnya minggu kemarin KPU Provinsi telah menentukan 3 calon gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Tenggara untuk memperebutkan kursi Nomor Satu di Sultra.     Saat ini, praktis sejumlah isu yang berkembang, nama yang bermunculan tengah melakukan konsolidasi politik dan penggalangan dukungan politik rakyat seperti menaikkan elektabiltas untuk menggenjot popularitas personal kepada masyarakat secara luas  dan bisa menembus lingkaran kemenangan.

Tulisan kali ini akan lebih mengarah dan akan dikerucutkan pada sektor kesejahteraan petani. Penulis memilih sektor ini karena kelas petani merupakan representatif kelas masyarakat Sulawesi Tenggara, bukan nya tidak ingin membahas sektor-sektor yang lain seperti pariwisata, maritim, pengembangan ekonomi kreatif, pemberantasan korupsi ataupun program kesehatan pendidikan dan lain nya, Tapi paparan ekonomi politik ini akan lebih banyak menyentuh sektor pertanian. Sektor pertanian ini merupakan sandaran ekonomi mayoritas masyarakat di wilayah sulawesi tenggara, baik itu sebagai petani kebun (Kakao, cengkeh, Kelapa) atau petani musiman (jagung, Jahe, semangka, Nilam dan lain nya)

Problem Umum Petani saat ini

Pergerakan ekonomi nasional saat ini memang mengarah pada negara indusri, akan tetapi sebagai negara yang mempunyai lahan yang luas dan subur  tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia adalah sebagai negara Agraris. Tanah indonesia adalah tanah yang subur seperti lirik lagu yang di nyanyikan Alm Gombloh bahwa tongkat dan kayu bisa jadi tanaman, lagu itu secara tidak langsung mau menyampaikan bahwa tanah indonesia sangat subur. Makanya jangan heran para pemilik modal dari luar sangat masif menanamkan investasi nya di Indonesia. Lahan yang sangat luas dan subur itulah faktor pendukung nya. Apalah daya bagi negara yang memiliki tanah luas dan subur itu tetapi masih melakukan Impor pangan dari negara luar, ironisnya Program pemerintah Raskin pun masih harus impor dari negara tetangga.

Pertama, Skala kecil : Percaya ataupun tidak alat produksi yang sangat kecil yang dimiliki petani kurang dari 1 hektar Tanah merupakan faktor sehingga hasil dari produksi petani sangat kecil dan hanya mampu memenuhi sebagian kebutuhan hidup petani di beberapa wilayah yang ada disulawesi tenggara, hanya beberapa orang saja yang menguasia alat produksi (Tanah) yang luas antara 2 sampai 5 Hektar. Kedua, Modal yang terbatas dan penggunaan teknologi sederhana: modal yang sangat minim pun turut mempengaruhi kualitas dan hasil produksi petani seperti membeli obat-obatan, pupuk dan alat pertanian yang modern, alhasil tanaman mudah di serang penyakit dan hasil produksi (Panen) nya pun sudah bisa di pastikan tidak memuaskan masalah modal diakibatkan akses kredit petani pun sangat sulit karena hampir tidak maksimal wadah yang ada disetiap desa seperti koprasi petani, dan bantuan modal dari pemerintah harus digenjot. selain kendala modal yang dihadapi petani juga masih menggunakan alat-alat pertanian yang sangat sederhana dan cara-cara nya masih menggunakan metode lama, di negara tetangga sudah menggunakan alat-alat pertanian yang sudah maju di negeri kita petani masih bertani dengan peralatan sederhana. ketiga. Sangat dipengaruhi oleh musim :Musim dalam pengertian penulis bahwa bukan hanya dilihat dari segi geografis, akan tetapi budaya yang sering dialami petani diwilayah sulawesi tenggara, contoh : ketika orang ramai menanam Nilam (Tanaman Musiman) masyarakat ramai menanam nilam. Ketika ada seorang petani sukses dengan tanaman Tomat atau Cabai, petani pun melakukan hal yang sama yaitu beramai-ramai menanam tomat dan cabai (Ikut-ikutan) ini adalah fenomena yang terjadi. Praktis tidak ada satu tanaman prioritas pun yang menjadi unggulan di suatu daerah.  Ke empat, Wilayah pasarnya lokal : Pasar adalah salah satu faktor yang menyulitkan petani apalagi ketika menghadapi musim panen, harga setiap komoditi yang tidak stabil (Naik/Turun) sehingga praktis membuat petani tidak menetap pada satu jenis tanaman. Fenomena seperti ini seharusnya harus di ketahui oleh pemerintah dan para anggota DPRD, agar bisa dicarikan solusinya. Pasar komoditi pertanian yang sifatnya mono/oligopsoni yang dikuasai oleh pedagang-pedagang besar sehingga terjadi eksploitasi harga yang merugikan petani.

Ekspansi perkebunan kelapa sawit dan kesejahteraan Petani di Provinsi Sulawesi Tenggara

Pilkada 2018 di Provinsi sulawesi tenggara ini akan membuka ruang Investasi dan para tuan investor pun akan memainkan peranan nya dalam pilkada, Sesuai rencana Reezim SBY-Boediono ketika menjabat sebagai presiden dan wakil Presiden Repulik Indonesia 2009-2014, ada keinginan untuk menjadikan negara indonesia sebagai negara pengekspor minyak sawit terbesar di dunia menyaingi negara tetangga Malysia, dan keinginan itu pun akan terus berlangsung dibawah rezim Jokowidodo-Jusuf Kalla. hal tersebut secara tidak langsung akan adanya ekspansi besar-besaran pembukaan perkebunan kelapa sawit khusunya di wilayah Propinsi Sulawesi tengagara yang tanah nya masih cukup luas dan menjanjikan untuk dibukanya perkebunan kelapa sawit, apa lagi situasi perkebunan Kakao masyarakat yang sudah mulai kurang produktif akibat tanaman kakao sudah tua dan rentan kena penyakit (Hama) sehingga kualitas tanaman dan hasilnya pun menurun. Akibat nya pengalihan jenis tanaman dari kakao ke sawit pun menjadi salah satu jalan keluar menurut rezim saat ini untuk bisa meningkatkan ekonomi petani.

Keinginan rezim tersebut bukan hanya sekedar wacana semata, ekspansi tersebut juga masuk ke beberapa wilayah yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara.  walaupun hingga hari ini belum kelihatan secara masif kerja-kerja perusahaan. Mendiskkusikan persoalan Perkebunan kelapa Sawit pun harus utuh dan waktunya panjang, karena akan membahas persoalan politik, ekonomi dan budaya, serta posisi petani. apalagi keterlibatan pengusaha dalam perkebunan kelapa sawit sangat kuat didalam nya. Mungkin persoalan ini akan penulis uraikan secara utuh melalui tulisan dilain kesempatan.
(seperti  isu yang beredar akhir akhir ini, akan ada perusahaan kelapa sawit yang masuk wilayah kabupaten muna _ sultra) yang digunakan oleh perusahaan pun langsung menyentuh tanah-tanah produktif dan non produktif milik masyarakat, Kategori Produktif disini tanah tersebut di isi tanaman seperti Kakao, Cengkeh, Coklat, ataupun Tanaman Musiman karena berada di pemukiman. Dan Non Produktif yaitu tanah yang tidak difungsikan atau dikerjakan oleh pemilik tanah. Pilihan areal pemukiman pun sangat tepat, karena apabila perluasan tersebut memilih kewilayah pegunungan (HUTAN) praktis hanya kawasan Hutan Lindung lah yang akan di dapat karena hampir separuh kawasan pegunungan sudah di isi tanaman oleh petani khusunya Kakao dan cokelat yang masih sangat produktif dan hasilnya dinikmati oleh petani. ,,,,,,,,,,,,,,,??

Apa yang harus dilakukan

Dalam momentum pilgub kali ini, program-program setiap calon Gubernur dan Wakil gubernur sultra, disektor pertanian harus mampu menjawab dan  menyentuh secara langsung  pada akar persoalan yang di hadapi petani, program tersebut harus menjadi program prioritas tiap-tiap kandidat calon Gubernur dan Wakil gubernur kedepan, apalagi kalau kita bicara soal kesejahteraan sosial petani.

Pertama, sesuai semangat pasal 33 UUD 1945 dan amanat dalam Undang-Undang Pokok Agraria No 5 Tahun 1960, tanah-tanah yang belum produktif (Lahan Tidur) harus segera di fungsikan, hal ini akan membantu masyarakat (petani) untuk menggenjot perekonomian dan meningkatkan pendapatan per kapita petani, baik itu diisi oleh tanaman musiman atau tanaman lain nya.

Kedua, petani harus diberikan bibit-bibit yang unggul untuk tanahnya, alat pertanian yang lebih modern untuk menggarap tanah nya, diberikan pupuk gratis untuk mendongkrak hasil produksi nya,

Ketiga, pemerintah harus memperhatikan sarana pasca panen petani (Pasar) hal ini untuk menjamin hasil produksi petani mendapatkan pasar untuk menjual hasil produksinya (Tanaman), pemerintah juga harus membangun koprasi-koprasi petani sebagai wadah penyediaan modal, penyediaan bibit, penyediaan pupuk, penyediaan alat-alat pertanian yang modern untuk kelangsungan produksinya.

Ke empat,harus ada Peraturan Daerah (Payung Hukum) yang progresif dan pro rakyat (Petani) yang mengatur masalah-masalah pertanian dikeluarkan dengan harapan aturan hukum tersebut akan menjawab segala masalah yang dihadapi petani di wilayah sulawesi tenggara.

#Sekian
Semoga Bisa Bermanfaat

(La Ode Muhamad Fardan)

Pesta Demokrasi 2018 dan Detik-Detik 73 Tahun Kemerdekaan Indonesia

CATATAN AWAL TAHUN: 2018 Tahun Pesta Demokrasi atau Intrik Politik?

Oleh : Laode Muhamad Fardan

Ilustrasi

Tahun ini, yang baru berusia beberapa hari setelah melewati 2017, Indonesia akan menggelar pesta demokrasi di sejumlah daerah. Pesta lima tahunan itu, yang dikenal dengan nama pemilihan kepala daerah atau Pilkada, secara bersamaan di sejumlah daerah adalah yang pertama kali. Sejak negeri ini memasuki era reformasi, usai tumbangnya kekuasaan Orde Baru, di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto selama 32 tahun, pada 1998.

"Calon Kepala Daerah Sultra : Mengasah Dua Wajah Baru atau I`M Back To Sultra (Aman) ☺"

Pasangan para bakal calon pemimpin daerah Sultra, yang akan bertarung di Pilkada 2018, mulai bermunculan. Partai pengusung, sudah mengelus, 'menjual' para jagoannya untuk ditawarkan kepada masyarakat, yang akan menjadi pemilihnya. Ya, pilihan akhir ada di tangan masyarakat. Baik atau buruk hasilnya, itu tergantung masyarakat yang memilih.

Istimewanya, Pilkada 2018, akan digelar pada saat negeri ini detik -detik memasuki usia 73 tahun sejak bangsa ini mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah bangsa yang merdeka, 17 Agustus 1945. Namun, pertengahan tahun lalu, Badan Pengawas Pemilu RI --lembaga penyelenggara Pemilu yang bertugas mengawasi penyelenggaraan Pemilu di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia  dan diatur dalam bab IV Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum--  sudah memprediksi. Gelombang kampanye dan hasutan bermuatan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) pada Pemilihan Kepala Daerah 2018 akan kembali hadir.

Penggunaan isu SARA bahkan telah dimulai sejak saat ini di beberapa wilayah penyelenggara Pilkada 2018. Salah satu daerah yang telah dibumbui isu SARA adalah Sulawesi Tenggara (SULTRA).

Angka 73 tahun, seperti halnya manusia, harusnya sudah jauh dari matang. kata lainnya adalah ketuaan. Artinya, dengan usia itu, jika bangsa ini diperumpamakan sebagai manusia, telah kenyang makan asam garam kehidupan. Sudah kenyang dengan pergulatan dan bahkan melewati berbagai persoalan, dari yang baik hingga yang terburuk. Bahkan sudah banyak belajar dari bangsa lain, yang gagal menjaga perdamaian dan terus menerus bergelut dengan pertikaian.

Bangsa ini, yang menegaskan sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia alias NKRI, terdiri dari beragam suku, agama, ras dan antargolongan. Ada Muna, ada Buton, ada Bugis, ada Tolaki,  dan sebagainya. Kondisi itu, yang dalam jangka waktu 73 tahun mampu hidup bersama secara berdampingan dan saling mengisi secara damai, membuat takjub banyak bangsa lain.

Saya pernah membaca tulisan Mohammad Abdul Mannan, Managing Director and CEO of Islami Bank Bangladesh Limited & the recipient of Asian Banker Leadership achievement award 2016. Tulisannya berjudul National unity and good governance: Keys to economic progress.

Dalam tulisan itu dia mengatakan perasaan persatuan nasional (national unity) sangat penting untuk memimpin bangsa menuju kemajuan dan kemakmuran. Kesatuan mempromosikan kedamaian dan cinta di suatu negara. Di mana orang bersatu, [di situ] mereka bisa melakukan upaya penghapusan keburukan seperti korupsi. Ini memberikan orang rasa aman karena mereka bisa saling mengenal lebih baik dan saling memahami kepekaan.

Persatuan mempromosikan kerja sama dan membuka kesempatan untuk mencapai yang terbaik. Semangat persatuan nasional itu dan good governance memainkan peran penting dalam meningkatkan kecepatan roda ekonomi suatu negara.


Kita tentu ingat dan harus menghindari bagaimana Uni Soviet menjadi luluh lantak. Dalam tulisan berjudul Exploring 5 Reasons for the Collapse of the Soviet Union, yang dirilis Graduate Degrees Norwich- Online Master of Arts in Military History, jatuhnya Uni Soviet bisa dikaitkan dengan struktur negara itu sendiri.

Uni Soviet adalah sebuah negara yang terdiri dari 15 republik yang berbeda secara radikal. Di seantero negeri ada puluhan etnis, bahasa, dan budaya, yang banyak di antaranya tidak sesuai satu sama lain.Bullying etnis minoritas oleh mayoritas Rusia menciptakan ketegangan di sepanjang provinsi-provinsi terpencil, terutama di benua Eropa.

Pada 1989, gerakan nasionalis di Eropa Timur membawa perubahan rezim di Polandia, dan gerakan tersebut segera menyebar ke Cekoslovakia, Yugoslavia, dan satelit Soviet di Eropa Timur. Banyak dari sekutu Soviet ini mulai berpisah di sepanjang garis etnis, yang memicu gerakan separatis di Ukraina, Belarus dan Baltic States. Karena republik-republik Soviet ini memberikan kebebasan dan menarik diri dari Uni Soviet, kekuatan negara pusat melemah secara fatal, dan pada 1991, Uni Soviet tidak ada lagi.

Tentu, banyak faktor lain yang menyebabkan jatuhnya Uni Soviet, perubahan ideologis, tekanan asing, dan keputusan ekonomi mempercepat kemunculan negara sosialis yang dulu kuat ini.

Namun, bila orang memiliki belas kasihan, persahabatan, dan persatuan, mereka berbicara dan berpikir secara konstruktif untuk memastikan kemerdekaan dan kemakmuran nasional. Itulah kata-kata bijak Bhumibol Adulyadej.

Pilkada serentak 2018 akan lebih besar daripada Pilkada sebelumnya. Ada  sekitar  171 daerah akan berpartisipasi pada ajang pemilihan kepala daerah tahun ini. Dari 171 daerah tersebut, ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang akan menyelenggarakan Pilkada 2018. Beberapa provinsi di antaranya adalah  Sulawesi Tenggara,Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dan lain lain.

Makna Pilkada 2018 adalah memilih pemimpin daerah yang mampu membawa kemakmuran lahir batin bagi warga daerahnya. Bukan demi kekuasaan yang menguntungkan pribadi atau golongan atau kelompok tertentu. Hingga kemakmuran itu berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Hindari cara-cara yang merongrong,  merusak NKRI. Kemenangan, dengan cara yang buruk dan berujung tidak mensejahterakan lahir batin warganya, menjadikan Pilkada sia-sia. Usia 73 tahun cukup memberikan kita pemahaman yang kuat betapa memakai isu SARA untuk meraih kekuasaan tidak pernah berujung pada kedamaian. Melainkan, kehancuran dan kehancuran. "Jangan sampai pilkada berikutnya dibawa lagi ke isu-isu yang berkaitan dengan SARA," ungkap Presiden Jokowi. Ya, semoga tahun ini bukan tahun pertarungan para politisi 'idiot' yang menghamba pada kekuasaan dan harta.

Simak syair lagi Di Bawah Tiang Bendera karya   Franky Sahilatua/Iwan Fals/Ian Antono:             

Kita adalah saudara dari rahim ibu pertiwi ditempa oleh gelombang

dibesarkan jaman
dibawah tiang bendera

Dulu kita bisa bersama
dari cerita yang ada

Kita bisa saling percaya
yakin dalam melangkah
lewati badai sejarah

Pada tanah yang sama kita berdiri
pada air yang sama kita berjanji
karena darah yang sama jangan bertengkar
karena tulang yang sama usah berpencar
Indonesia Indonesia

Mari kita renungkan
lalu kita bertanya
benarkah kita manusia
benarkah bertuhan
katakan aku cinta kau

by : Laode Muhamad fardan°

serangkaian tulisan tulus dari masyarakat pesisir sultra ..

Sabtu, 20 Januari 2018

Tentang Anak Kesayangan Kita

Potret _ Elsa Ndiwuna Putri Ode

Putri Kesayangan Kami

Masih panjang jalanmu
Masih besar peluangmu
Masih begitu luas duniamu
Masih terbuka luas masa depanmu

Putriku.....
engkau masa depan kami
Engkau tunas bangsa kami
Engkau permata kami

Putriku...
Kami tak ingin kau bangga pada kami
Karena kamulah kebanggaan kami
Kami tak ingin kamu seperti kami
Tapi jadilah yang lebih baik dari kami

Putriku....
Keberhasilanmu adalah keberhasilan kami
Keinginanmu adalah kewajiban kami
Kebahagiaanmu adalah tanggung jawab kami
Keceriaanmu adalah pelepas lelah kami

Putriku......
Semoga tanggan kecilmu sekarang bisa pegang dunia
Semoga suara indahmu bisa mengagungkan Nabidan Tuhanmu.
Semoga langkahmu tegakkan agamamu
Semoga asamu bisa memajukan negaramu
Semoga pundakmu mampu memapah orang tuamu kelak

Putriku....
Kami hanya bisa berdoa untuk kemajuanmu
Kan ku lakukan apapun untukmu
Kan ku pasrahkan masa tua kami kepadamu
Jadilah permadani kami

La Ode Muhamad Fardan'
Nurhikmah'
Elsa Ndiwuna Putri'

Jumat, 27 Oktober 2017

Sumpah Pemuda "Bukan Sumpah Biasa"

Memperingati Hari Sumpah Pemuda

"Bukan Sumpah Biasa"

Pada tanggal 28 Oktober, tepatnya hari ini, kita semua kembali mengingat hari Sumpah Pemuda, dimana seluruh pemuda Indonesia mengikrarkan janji mereka terhadap Indonesia. Supaya kita, para pemuda di abad ke-21 masih tetap mengingat apa yang ada didalam Sumpah Pemuda, ini dia beberapa poster untuk membangunkan semangat pemuda-mu!

1. Kita semua satu berbahasa Indonesia!

Sumber Gambar : memecrunch.com

2. Bangkit dan berjuang, pemuda Indonesia. Jangan malas!

Sumber Gambar : www.fardanode.blogspot.com

3. Sumpah pemuda, kemajuan suatu bangsa dalam genggaman para pemuda.

Sumber Gambar : micrositehai-online.com

4. Satu pemuda dapat mengubah dunia.

Sumber Gambar : fardanode.blogspot.com

5. Buktikan sumpahmu!

Sumber Gambar : fardanode.blogspot.com

6. Indonesia = ONE.

Sumber Gambar : fardanode.blogspot.com

7. Satu Indonesia.

Sumber Gambar : fardanode.blogspot.com

8. Sumpah Pemuda jangan hanya jadi slogan!

Sumber Gambar : fardanode.blogspot.com

9. Kemajuan bangsa hanya bisa diraih dan dilakukan oleh pemuda.

Sumber Gambar : fardanode.blogspot.com

10. Para pemuda harus bersatu untuk terus berkreasi.

Sumber Gambar : fardanode.blogspot.com

11. Ayo, kumandangkan kembali Sumpah Pemuda dalam hatimu sekarang juga!

Sumber Gambar : fardanode.blogspot.com

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

"28 Oktober 2017

Creative by : La Ode Muhamad Fardan

Alumnus Universitas Halu Oleo

S1 Ilmu Komunikasi"

Kamis, 17 Agustus 2017

Lanjutan Kisah Nur Alam

Puncak Kemerdekaan RI dan Puncak Kekalahan Nur Alam

Puncak Kemerdekaan RI dan Puncak Kekalahan Nur Alam

 ZONASULTRA.COM, KENDARI – Puncak Perayaan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-72 pada 17 Agustus 2017 ini dirayakan gegap gempita seluruh masyarakat Indonesia yang merasa benar-benar “merdeka”.

Titik puncak perayaan itu adalah upacara pengibaran bendera sangsaka Merah Putih. Jika di Istana Negara yang menjadi inspektur upacara (Irup) adalah Presiden Jokowi, maka di Sulawesi Tenggara (Sultra) seharusnya adalah Nur Alam yang sudah dua periode memangku jabatan gubernur.

Momen ini adalah kesempatan terakhir bagi Nur Alam untuk manjadi Irup yang masa jabatannya akan berakhir pada Februari 2018. Sayang, Nur Alam saat ini tidak berada dalam kondisi megahnya suatu protokoler kegubernuran. Sebagai tersangka KPK, ia mungkin memang “merdeka” namun terbatas oleh jeruji besi Rutan Pomdam Guntur Jaya, Jakarta Selatan.

Entah apa yang dilakukan sang gubernur nonkatif di hari kemerdekaan ini, mungkin saja ia menjadi peserta upacara bendera, atau bisa jadi hanya terdiam di ruang tahanan tanpa kipas angin dan tak ber-AC. Satu hal yang pasti, upacara pengibaran bendera di kantor gubernur berlangsung khidmat oleh Irup Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Sultra Saleh Lasata.

Status Nur Alam saat ini masih sebatas tersangka, dalam arti sederhana orang yang disangka berbuat sesuatu dan bisa saja tak bersalah. Namun adakah peluang tak bersalah ketika sudah di tangan KPK? Publik pasti paham bagaimana ketika tokoh-tokoh di pusat tak berdaya ketika jadi tersangka KPK.

Di antara tokoh itu misalnya Andi Malarangeng ketika menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga, Anas Urbaningrum saat masih Ketua Umum Demokrat, dan masih banyak lagi. Apalagi, KPK sudah melakukan perhitungan kerugian negara sekitar Rp. 3,4 triliun dari kasus Nur Alam tentang tambang.

Tentang kekalahan Nur Alam maka ada dua hal yang jadi poin bahasan penting yakni kalah persoalan hukum atau kasus tambang yang menjeratnya dan kalah di dunia yang melambungkan namanya, politik. Nur Alam sesungguhnya tidak jatuh dengan cepat setelah mencapai klimaks kejayaan. Butuh berbulan-bulan sejak kasusnya menyeruak hingga ia benar-benar melemah.

Sebagai batasan dalam tulisan ini, yang dimaksud kalah persoalan hukum adalah karena ia belum mampu melepas status tersangka dan ditahan sehingga juga dinonaktifkan sementara sebagai gubernur. Sedangkan kalah di dunia politik karena merosotnya pencapaian politik dalam jenjang karirnya.

Jeratan Kasus Tambang

Kasus yang melilit Nur Alam mulai mencuat ke publik pada tahun 2015 lalu. Saat itu publik Indonesia khususnya Sultra dihebohkan dengan penyelidikan dugaan Tindak Pencucian uang (TPPU) Nur Alam berdasarkan hasil temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

PPATK menemukan adanya transaksi keuangan melalui rekening mencurigakan yang kemudian populer dengan sebutan rekening gendut. Kasus rekening gendut ini merupakan satu dari 10 rekening gendut kepala daerah.

Berdasarkan hasil temuan mencurigakan itulah, PPATK langsung melaporkannya ke Kejaksaan Agung (Kejagung) RI untuk ditindaklanjuti. Seolah menjemput “bola”, Kejagung langsung mengambil langkah dengan membentuk tim untuk melakukan penyelidikan terkait aliran dana.

Alhasil, Kejagung menemukan fakta bahwa memang benar Nur Alam menerima sejumlah uang dalam jumlah cukup besar di rekeningnya. Jumlah uang yang masuk di rekening Nur Alam sebesar 4,5 juta dolar Amerika Serikat (USD).

Uang dengan nilai fantastis itu diduga dari transferan pengusaha tambang asal Taiwan bernama Mr. Chen kepada Gubernur Sultra untuk mengamankan wilayah konsesi tambangnya di Sultra. Dolar itu ditransfer sebanyak empat kali dalam bentuk polis asuransi melalui bank di Hongkong.

Dalam sebuah wawancara di salah satu TV swasta ketika itu, Nur Alam membenarkan menerima dana transfer. Namun versi dia, dana itu berasal dari seorang teman yang dititipkan ke rekeningnya karena dianggap dipercaya. Nur Alam mengaku telah mengembalikan dana tersebut ke pemiliknya.

Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Kejagung RI menghentikan penyelidikan kasus dugaan TPPU Nur Alam, masih pada tahun yang sama, 2015. Hingga tutup Oktober di tahun itu, Nur Alam masih tampak powerfull dan merdeka dari kasus itu.

“Saya kira nda usah ditanggapi kalau sudah selesai, kan,” ujar Nur Alam pendek namun dengan mimik serius, usai mengikuti rapat paripurna di Sekretariat DPRD Sultra, Senin (21/9/2015).

Namun kenyamanan sang gubernur tak bertahan lama. Bagai geledek menyambar tiba-tiba publik Sultra heboh dengan masuknya petugas KPK di Kendari pada November 2015. Di bulan itu, KPK memeriksa 29 pejabat di Sultra diantaranya Kepala Dinas (Kadis) Pertambangan Provinsi Burhanuddin, mantan Kadis Pertambangan Provinsi Hakku Wahab, dan lainnya.

Fase masuknya KPK ketika jadi babak baru dengan lingkaran kasus yang ternyata lebih besar dari pada TPPU yang hanya 4,5 juta dolar (USD). Perlahan dan pasti, Nur Alam akhirnya ditetapkan tersangka oleh KPK pada 3 Agustus 2016. Kekalahannya melawan KPK dimulai ketika kalah praperadilan.

Nur Alam dijerat dugaan tindak pidana korupsi dalam persetujuan pencadangan wilayah pertambangan, persetujuan IUP eksplorasi dan persetujuan peningkatan IUP eksplorasi menjadi izin usaha pertambangan operasi produksi kepada PT. AHB di wilayah Sultra tahun 2008-2014.

KPK menjerat Nur Alam dengan Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Kemerosotan di Dunia Politik

Catatan kemerosotan pencapaian politik Nur Alam dimulai 2014. Di tahun itu, Hatta Rajasa yang merupakan ketua umum PAN maju jadi calon wakil presiden. Nur Alam yang memasuki periode ketiga jadi nahkoda PAN Sultra tak mampu menghadiahkan kemenangan. Di Sultra, Hatta yang berpasangan dengan Prabowo tak bisa melampaui perolehan suara Jokowi-Jusuf Kalla.

Begitu kalender berganti, tahun 2015 kader-kader di bawah kendali Nur Alam mulai menunjukkan perlawanan dan berani membelakangi. Awal perlawanan para kader yakni ketika Hatta yang kalah Pilpres hendak mempertahankan kedudukannya di PAN dengan maju Ketua Umum PAN periode kedua, melawan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan.

Saat itu Nur Alam konsisten berada di jajaran pemenangan Hatta. Namun tak semua jajaran PAN di Sultra benar-benar mengekor pada Nur Alam. Hatta Rajasa kalah tipis 6 suara dan ada 4 suara rusak.

Awalnya kader-kader PAN Sultra terutup dengan berpalingnya sejumlah suara dari Hatta Rajasa dan adanya suara rusak. Namun hal itu kemudian diakui oleh Ketua PAN Konawe Selatan Djainal, bahwa penyebab Zulkifli Hasan menang tipis karena suara dari Sultra.

Efek domino dari kemenangan Zulkifli tersebut terus bergulir dengan kepentingan politik kader dan kepentingan Nur Alam. Dalam perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pikada) 2015 mulai banyak kader yang unjuk gigi, secara terang-terangan berlawanan dengan Nur Alam. Diantaranya Ketua PAN Konawe Utara (Konut) Raup, Ketua PAN Kolaka Timur (Koltim) Farida dan Ketua PAN Konawe Selatan (Konsel) Djainal.

Di Pilkada Konut Nur Alam mendukung Aswad Sulaiman sedangkan Raup maju calon wakil bupati mendampingi Ruksamin dengan rekomendasi PAN. Di Pilkada Koltim Nur Alam mendukung Toni Herbiansyah sedangkan Farida maju calon wakil bupati berpasangan dengan Syamsu Alam juga dengan rekomendasi PAN. Sementara di Konsel Djainal menolak menandatangani SK rekomendasi PAN untuk Asnawi Syukur, yang tak lain kakak kandung Nur Alam.

Langkah perlawanan dari dalam itu membuat Nur Alam yang dikenal sebagai sosok pemain tenang dalam percaturan politik, tiba-tiba murka. Ketika berkampanye di Koltim untuk Toni, Nur Alam menyindir Raup dan Farida sebagai Malin Kundang. Tokoh cerita rakyat asal Sumatra Barat yang durhaka terhadap ibunya dan dikutuk jadi batu.

“Iya benar mereka (Malin Kundang) tidak melalui proses dan mekanisme kepartaian. Desk (tim penjaringan) Pilkada di daerah itu tidak pernah ada, gak pernah berkordinasi dengan DPW langsung ke pusat,” aku Nur Alam di kantor Gubernur Sultra, Kamis (6/8/2015).

Imbas perlawanan tersebut, membuat sejumlah calon kepala daerah yang didukung Nur Alam mengalami kekalahan, Asnawi kalah di Konsel, Aswad Sulaiman di Konut, LM Baharuddin di Muna, Ridwan Zakariah di Buton Utara, dan Nur Sinapoy di Konawe Kepulauan.

Jelang Pilkada Februari 2017, Nur Alam juga menunjukkan dukungan terhadap beberapa calon namun tak begitu gencar turun kampanye seperti di Pilkada 2015. Salah satu kader PAN yang didukungnya adalah Abdul Rasak dalam pemilihan wali kota Kendari, ada banyak baliho yang menyandingkan keduanya.

Rasak tak mendapatkan SK rekomendasi pencalonan dari PAN dan yang jadi pengusung justru Golkar dan Nasdem. Pada akhirnya, Rasak mengalami kekalahan dan di hari pemilihan Nur Alam tak terlihat di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Di tubuh PAN sendiri, Nur Alam mulai tersisihkan ketika Musyawarah Wilayah (Muswil) PAN Sultra Februari 2016. Ia yang terwacana memegang rekor baru kepemimpian PAN provinsi 4 periode pupus. Penyebabnya dari 5 formatur yang dibentuk ada yang tak memilih Nur Alam yakni Asrun karena juga berkeras maju sebagai ketua.

Tiga bulan kemudian 19 Mei 2016, DPP PAN akhirnya mengumumkan nahkoda PAN pasca Nur Alam. Umar Samiun jadi Ketua dan Sekretarisnya Adriatma Dwi Putra (ADP), putra kandung kedua Asrun. Nur Alam pada akhirnya ditarik jadi Wakil Ketua Umum PAN di pusat dan Asrun tetap di PAN Kota Kendari.

“Tidak bisa ditempatkan begitu saya harus diminta kesediaan orang karena saya bukan pegawainya partai. Kalau pegawai itu siap ditempatkan dimana saja. Jadi kalau mau ditempatkan ditanya dulu. Jadi tidak otomatis apa yang menjadi keinginan mereka di Jakarta saya langsung terima,” ujar Nur Alam, Jumat (20/5/2016).

Sebulan kemudian, 10 Juni 2016 Nur Alam meluapkan kekecewaannya dengan berucap di media massa bahwa telah hengkang dari PAN baik sebagai kader maupun pengurus. Namun pernyataan itu hanya sebatas lisan, secara tertulis dirinya masih di PAN.

Estafet Kepemimpinan

Pada pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Tenggara (Sultra) 2018, Nur Alam nampaknya ingin estafet kepemimpinanannya dilanjutkan oleh istrinya sendiri, Tina Nur Alam. Namun bisa juga, itu keinginan sepihak dari Tina untuk melanjutkan kepemimpinan suaminya.

Dalam beberapa kesempatan di tahun 2015, Nur Alam mengaku tidak bermaksud mendorong istrinya untuk maju menjadi calon Gubernur Sultra setelah masa kepemimpinannya berakhir. Kendati demikian, Nur Alam menyebut Tina secara pribadi mempunyai hak untuk maju sebagai calon gubernur.

“Dalam kehidupan ini kita tidak hanya mengejar kedudukan, ada nilai-nilai tertentu yang harus kita pertahankan. Cukup saya saja sebagai suaminya yang jadi gubernur supaya tidak menambah kedengkian rakyat. Mungkin kalau saya tidak mengizinkan istri saya calon gubernur maka rakyat akan semakin cinta sama saya,” kata Nur Alam usai menghadiri rapat paripurna di DPRD Sultra, Jumat (10/7/2015).

Kemudian pada tahun 2016, Nur Alam melempar wacana bahwa sudah giliran figur kepulauan (Buton-Muna) menjadi gubernur. Ia mengaku secara pribadi memberikan dukungan kepada kader-kader dari kepulauan.

“Kalau kita bicara dari sisi konsensus para leluhur yang membentuk daerah ini, ini pendapat saya pribadi bahwa sekarang sudah giliran kepulauan menjadi Gubernur atau memimpin Sulawesi Tenggara,” ujar Nur Alam usai Musyawarah Perencanaan Pembangunan di Hotel Clarion Kendari, Selasa (11/4/2016).

Terlepas dari pernyataan politis yang demikian, begitu Tina mulai gencar mendaftar di sejumlah partai politik pada Juni 2017, Nur Alam juga memberikan dorongan. “Saya mendukung istri maju. Orang lain saja saya dukungapalagi istri. Dan mendaftar itu bukan menjadi jaminan bahwa itu sudah jadi. Jadi di satu partai pun bukan jaminan bahwa itu cukup pintunya. Jadi masih banyak tahapan yang mesti dilalui,” kata Nur Alam di Kendari, Jumat (16/6/2017).

Namun langkah Tina untuk meraih tongkat estafet nampaknya mulai buyar begitu Nur Alam ditahan KPK sejak 5 Juli 2017 lalu. Tina yang anggota DPR RI tidak hadir dalam acara pemaparan visi misi yang digelar PDIP dan Demokrat (Juli-Agustus), padahal ia sudah mengajukan pendaftaran di dua partai tersebut.

Siapa yang akan jadi pelanjut Nur Alam akan ditentukan melalui pemilihan gubernur 27 Juni 2018 nanti. Jika melihat keadaan Nur Alam saat ini maka sangat sulit baginya turun campur tangan menentukan pelanjutnya. Terkecuali ia lihai menjadi dalang dari balik Jeruji besi di kejauhan Jakarta.  (A*)

(Sumber : Http//zonasultra.com)