
SKRIPSI
atau yang Orang Tua lebih Mengenal dengan kata
LULUS
Satu per satu teman dan sahabat se Angkatan Saya Mulai bertebaran di Luar Sana dengan memangkul Gelar Sarjana " itu Sarjana apa…???

SKRIPSI
LULUS
Cerita Rakyat Si Bujang Miskin
Oleh La Ode Muh Fardan Disusun dengan berbagi Sumber Cerita
Si bujang hidup bersama amaknya, ayahnya sudah lama meninggal dan mereka hidup dalam kemiskinan, karena itu ia dipanggil oleh orang kampungnya dengan ”sibujang miskin” dan iapun tidak merasa kecil hatinya dipanggil dengan sibujang miskin itu.
Pada suatu hari sibujang berkata pada amaknya bahwa ia akan pergi mengail. Maknya melarang, karna dengan apa nantinya ikan akan dimakan, karna kita tidak punya beras. Amaknya menganjurkan bujang untuk pergi berburu rusa atau kijang dapat mengenyangkan perut.
Mak.....bagaima kalau aku pergi marantau..? apa...? pergi merantau,..? hendak engkau tinggalkan amak seorang diri...?jawab maknya. Mak ini sudah tua dan sering sakit – sakitan. Mak aku pergi tidak lama, kata bujang pada amknya. Jangan pula mak sedih dan bimbang, aku sayang mak. Karena itu aku ingin merubah nasib kita. Mudah – mudahan allah mengabulkan do’a kita.
Akhirnya sibujang dibolehkan pergi merantau oleh amaknya, sebelum pergi sibujang minta dibuatkan perbekalan dan sebuah keris peninggalan ayahnya yang bermatakan sembilu nibung.
Pergilah nak..mak do’akan semoga engkau selamat dan jagalah dirimu baik – baik. Kuatkan imanmu jujur dan setialah kamu. Iyalah mak.. apa yang mak pesankan akan ingat dan amalkan baik – baik, sahut sibujang miskin.
Berjalanlah sibujang miskin meninggalkan maknya, dia terus berjalan masuk hutan keluar hutan, lama berjalan belum juga lagi terdapat tanda – tanda akan bertemu kampung, bekal ketupan dan minuman sudah mulai habis sehingga ia merasa letih dan kehausan. Sehingga ia tertidur dibawah pepohonan.
Setelah terbangun, terasa perut lapar dan haus, untuk menghilangkan rasa lapar, maka ia mencari apa saja yang bisa dimakan, ketika itulah ia mendengar kokok ayam kemudian ia memanjat pohon dan dari atas pohon itu ia melihat bubung sebuah rumah. Setelah turun dari pohon sibujang langsung menuju rumah tersebut. Saat sampai didepan rumah kemudian ia mengucapkan salam. Tak lama kemudian keluarlah seorang nenek sambil menjawab salam sibujang miskin. Dari mana engkau datang nak..? dan hendak kemana nak..? tanya nenek yang punya rumah.
Ketika mereka sedang berbincang – bincang terdengarlah orang – orang berkuda dan ribut. Nek..nek..apa itu nek..? tanya sibujang kepada nenek. Ia Jang, kampung ini mendapat kemalangan anak raja dilarikan ular besar, sampai sekarang belum ada orang yang sanggup mengambilnya. Barang siapa yang dapat membunuh ular itu dan dapat mengambil putri raja maka akan dikawinkan dengannya, tapi jika ular itu tidak mati maka orang itu yang akan dipancung oleh raja.
Keesokan harinya datanglah nenek itu kerumah sang raja dan mengatakan kepada raja dan waktu itu juga raja langsung mengutus bujang seamat untuk menjemput sibujang miskin untuk dibawah keistana. Setelah sampai diistana sibujang miskin menghadap sang raja dan raja berkata “oo..oo kamu sibujang miskin yang akan membunuh ular itu” ampun hamba tuanku jawab sibujang miskin. Hamba akan mencobanya. Hai si miskin kata raja jika kamu gagal membunuh ular itu maka kamu yang akan saya bunuh..Mengerti....? Yaa ..tuanku. hamba mengerti, ujar sibujang apapun hukuman yang tuanku berikan akan saya terima.
Dengan tidak membuang waktu lagi berangkatlah sibujang miskin dan bujang selamat ketempat ular dimana putri raja dutahan.
Dengan mengucapkan bismillah sibujang miskin berdo’a dan mohon kepada Allah agar ular itu tertidur. Rupanya do’a sibujang miskin makbul dan ular tersebut tertidur. Dengan sigap dan cepat bujang mencabut keris yang bermatakan sembilu nibung dan langsung menikan kepala ular, ular itu langsung tidak bergerak lagi. Rupanya pada waktu sibujang miskin membunuh ular ada raja hijau yang sembunyi dan mau membunuh ular itu juga, tapi ia tidak berani karna ia juga ingin menikahi putri raja tersebut.
Sewaktu sibujang miskin membawa putri kebawah ia terpegang pada dahan yang lapuk sehingga ia terjadi dan putri terjatuh dan langsung disambut oleh raja hijau.
Putri langsung dilarikan keistana oleh raja hijau jika sampai diistana nanti, ia akan mengatakan bahwa ialah yang membunuh ular itu dan menyelamatkan putri raja. Hal itu telah dikatakan kepada bujang selamat. Tapi sebelum sampai keistana kakinya tersandung dan putri tepelanting jauh dari raja hijau. Putri jatuh didekat raja katam sehingga raja katam menawannya, ketika raja hijau hendak mengambil putri ia dikejar katam besar yang hendak menjepitnya.
Tiba – tiba datang sibujang miskin. Ia langsung mencabut kerisnya dan langsung menikannya kekatan tersebut, dan katampun langsung mati. Kemudian sibujang miskin menghampiri putri raja dan menyerahkan sarung keris padanya. Ketika mereka sedang berbicara, datanglah raja hijau yang langsung merampas dan membawa putri keistana.
Saat raja hijau mengatakan bahwa dialah yang menyelamatkan putri raja , maka ini ingin dinikahkan dengan putri raja , rajapun memanggil putri sambil mengatakan bahwa ia akan dinikahkan dengan raja hijau kemudian memancung leher sibujang miskin.
Ayah,..kata putri, sebelum ayah menikahkan saya dengan raja hijau, saya akan memanggil orang – orang kerajaan yang mempunyai keris, keris siapa yang cocok dengan sarung ini dialah sebenarnya yang telah membunuh ular itu dan dialah yang akan menjadi suami saya nanti.
Satu – persatu orang mencoba memasukkan kerisnya pada sarung yang dipegang oleh putri raja namun tidak ada yang cocok. Kemudian tibalah giliran raja hijau, namun tidak juga cocok. Raja hijau sangat terkejut dan sangat ketakutan. Setalah itu majulah sibujang miskin kedepan dan memasukkan kerisnya, ternyata kerisnya cocok dengan sarungnya, akhirnya sibujang miskin terhindar dari hukuman pancung dan dia akan menikah dengan putri raja.
Pada waktu yang telah ditentukan, dilangsungkanlan pernikahan sibujang miskin dengan putri raja dengan pesta yang sangat meria. Raja hijau sangat sakit hati kepada sibujang miskin. Setelah acara pernikahan selesai sibujang miskin dipanggil oleh sang raja dan rajapun menanyai sibujang miskin. Kamu ini anak siapa dan berasal dari mana..? kata raja. Sibujangpun menjawab “saya anak pulau sepakok dan merantau kegeri ini dan menumpang dirumah nenek kebun bunga”...
Pada suatu saat sibujang sibujang ingat dengan amaknya yang tinggal dikampung kemudian ia mengajak istrinya melihat keadaan ibunya dikampung.
Setelah bersiap – siap berangkatlah sibujang bersama istrinya menuju pulau sepakok kampung halamannya, kemudian raja berpesan agar tidak singgah dipulau kecil sebelum pulau sepakok, karna dipulau itu banyak hantu kalakiwi.
Belum lama berlayar ia ditunggu oleh perampok, setelah dekat perampok itu naik kekapal si Bujang, setelah menghadapi sibujang rupanya perampok itu adalah si raja hijau yan sakit hati padanya. Dengan gagah perkasa sibujang menghadapi raja hijau dan anak buahnya deng keris bermata sembilu nibung peninggalan ayahnya dia dapat membunuh raja hijau serta anak buahnya
Karna bertempur sangat lama sibujang akhirnya kehabisan air minur, sehingga harus singgah dipulau kecil didekat pulau sepakok untuk mengambil air. Sewaktu sibujang turun untuk mengambil air datanglah hantu kalakiwi kekapal sibujang, dan membuang istrinya kelaut kemudian dimakan oleh ikan hiu, kemudian hantu kalawiki itu berubah bentuk menjadi putri raja ataupun istri dari sibujang miskin.
Setelah kembalinya dari mengambil air sibujang kembali kekapal dan meneruskan perjalanannya menuju kampung halamannya. Dia tidak tahu bahwa istrinya itu adalah hantu kalakiwi. Akhirnya ia sampai kerumah. Ketika maknya melihat kepulangan sibujang dia merasa sangat gembira sekali, maka maknya memotong ayam dan istrinya disuruh untuk memasak ayam tersebut. Karna dia adalah hantu, maka daging ayam itu langsung dimakan, alangkah terkejutnya sibujang melihat gulai yang dimasak oleh istrinya hanya tinggal bulu ayam.
Sejak kejadian itu, tahulah sibujang bahwa yang ada dirumahnya itu bukan istrinya, tetapi hantu kalakiwi, akhirnya orang sekampung mengetahui peristiwa itu.
Pada suatu hari , terdamparlah seekor hiu ditepi pantai dan rupanya ikan hiu membawa putri istri sibujang. Atas pertolongan nenek tompok putri dapat dikeluarkan dari perut ikan tersebut. Setelah putri kembali kepada sibujang, orang – orang kampung beramai – ramai membunuh hantu kalakiwi kemudian dicincang – cincang dan dibuatkan pekasam kemudian dikirim kepulau dimana kedua orang tua hantu itu tinggal. Pada waktu hantu kalakiwi membuka sambal itu mereka terkejut karna ditemui kaki dan tangan anaknya. Atas perbuatan orang – orang kampung itu, mereka anak – beranak berangkat kekampung sibujang. Sedang mereka berlayar bersama burung murai, Tupai, dan Burung Pelatuk.
Hendak kemana kita ini...? tanya mereka kepada hantu kalakiwi. Hendak membunuh orang kampung, jawab bapak hantu kalakiwi karna mereka telah membunuh anakku.
Mendengar itu, kawanan hewan itu sepakat, tupai dan Pelatuk mematuk kapal, murai berkicau agar keluarga hantu itu terlena dan tertidur. Akhirnya kapal itu bocor dan karam. Setelah kapal karam, burung terbai dan tupai berenang, sedangkan mereka tidak jadi membunuh orang sekampung, sedangkan sibujang dengan istrinya kembali bersatu.
Disusun dengan beberapa sumber !!!
A
Adagium : Pepatah atau peribahasa
Adegan : Bagian dari babak dalam lakon atau bagian dari peristiwa yang ditampilkan dalam sebuah lakon
Aforisme : Majas berisi pernyataan tentang kebenaranataupun sikap hidup. Misalnya: Tak kenal maka tak sayang.
Agon : Adegan dalam drama atau filmyang menampilkan perbedaan anatara sifat antagonis dengan sifat protagonis.
Ahli sastra : Orang yang memiliki pengetahuan luas atau yang menguasai ilmu-ilmu sastra.
Aksara : Simbol-simbol grafis yang digunakan untuk melakukan komiunikasi.
Aksarawan : Orang yang ahli dalam ilmu tentang menulis dan membaca.
Akseptasi : Suatu kata atau istilah yang maknanya telah dikenal secara umum.
Akting : Tingkah laku seseorang diatas pentas, radio atau film untuk mengekspresikan karakter tokoh yang dimainkannya.
Aktor : Pria yang memainkan suatu tokoh di atas pentas, radio, telefisi atau film.
AKtor karakter : Aktor yang dapat mmerankan dengan baik suatu peran yang bertentangan atau berbeda dengan karakter di actor sendiri.
AKtor pembantu : Aktor pendukung, yang perannya tidak sebesar dan tidak sepenting tokoh utama.
Aktor Paratean : Aktor yang sering berganti kostum untuk tampil diatas pentas.
Aktor utama : Aktor yang memegang peran utama atau peran yang tampil penting dalam suatu lakon.
Aktris : Tokoh atau pelaku wanita.
Alegori : Majas perluasan yang menggunakan perbandingan utuh, biasanya berupa cerita singkat yang mengandung kiasan.
Alias : Nama samaran, nama sebutan.
Alihaksara : Pengubaha aksara ke aksara lain.
Alihbahasawan : Penerjemah, juru bahasa.
Alkisah : Cerita lama yang dipakai untuk memulai suatu cerita baru yang hendak dibuat atau dibicarakan.
Alur : Rangkaian peristiwa yang terjalin secara sebab akibat dari awal sampai akhir menuju klimaks cerita atau justru sebaliknya.
Alur Antiklimaks : Alur cerita yang dimulai dari peristiwa klimaks atau peristiwa yang menonjol ke peristiwa yang biasa-biasa saja.
Alur Flashback : Alur sorot balik, pengarang mendahulukan akhir cerita sebagai pembuka cerita kemudian menuju awal cerita.
Alur Klimaks : Alur yang dimulai dari suatu peristiwa yang biasa-biasa saja menuju peristiwa yang memuncak.
Alur Kronologis : Alur yang susunan peristiwanya berjalan sesuai susunan atau urutan waktu.
Alur Maju : Alur yang susunan peristiwanya berjalan teratur dari awal hingga akhir cerita.
Alur Mundur : Alur yang menceritakan masa lampau.
Alusi : Majas perbandingan yang menggunakan ungakapan atau istilah yang lazim digunakan orang. Misalnya: Tua-tua keladi makin tua makin jadi.
Amanat : Pesan atau gagasan yang hendak disampaikan oleh pengarang kepada pembacanya yang dituangkan dalam karyanya.
Amsal : Kalimat pendek yang mengajarkan suatu kebaikan. Misalnya: Habis manis sepah dibuang.
Anafora : Majas perulangan kata pertama dari kalimat pertama menjadi kalimat pertama dalam kalimat berikutnya. Misalnya: Benahi dirimu, benahi yang lain, benahi hingga semuanya terbenahi.
Anak Judul : Judul yang mengawali suatu karangan.
Anak Komedi : Pelawak atau pemain komedi.
Anak Panggung : Orang yang hidupnya berprofesi sebagai pemain di panggung pertunjukan.
Anakulaton : Majas yang selalu menggunakan kalimat yang menyimpang dari aturan.
Anakronisme : Menempatan, menghadirkan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan zamannya. Misalnya: Ptih Gajah Mada sedang bermain game computer.
Analisis Bahasa : Menelaah bahasa, biasanya dilakukan oleh pakar bahasa.
Analisis Novel : Menganalisa isi dari sebuah novel.
Analisis Puisi : Menganalisa arti dari sebuah puisi serta menelaah unsur-unsur penting dari sebuah puisi seperti pengulangan kata di depan kalimat, persamaan akhiran vocal dari suatu bait.
Anekdot : Cerita sindiran atau lucu mengenai seseorang atau kehidupan social yang belum tentu kebenarannya.
Angkatan : Generasi, kelompok yang sezaman atau sepaham dalam bidang sastra.
Angkatan ’45 : Suatu angkatan yang lahir pada tahun ’45-an, disebut juga Angkatan Chairil Anwar, yaitu pelopornya.
Anonim : Tanpa nama, kebiasaan pengarang untuk tidak mencantumkan namanya pada karyanya.
Anotase : Catatan yang dibuat oleh pengarang utnuk memberi kritik dan saran hasil karya orang lain.
Anatagonis : Tokoh yang memiliki karakter yang bertentangan dengan tokokh utama. Biasanya, tokoh antagonis ini memiliki sifat dan karakter yang jelek atau buruk.
Anatwacana : Suara dalang yang khas disesuaikan dengan tokoh yang yang sedang dimainkannya.
Antitesis : Majas pertentangan yang menggunakan kata atau frase yang berlawanan. Misalnya: Tua-muda berkumupul dan bergotong royong membersihkan selokan desa.
ANtiklimaks : Suatu majas penegasan yang menyatakan hal yang akan ditegaskan secara berurutan, makin lama, tingkatannya makin menurun. Misalnya: Tak peduli gubernur, bupati, camat, sampai lurah dan kepala desa harus menggunakan uang Negara seefektif mungkin.
Antologi : Kumpulan karya pilihan, baik prosa maupun puisi.
Antonomasia : Majas perbandingan dengan menyebutkan nama lain yang sesuai dengan sifat orang tersebut. Misalnya: Si keras kepala itu tidak pernah mau mengalah.
Apendiks : Lampiran atau tambahan pada akhir buku atau karangan.
Apresisasi Sastra : Suatu kegiatan memahami, menghayati serta menikmati suatu karya sastra baik prosa maupun puisi.
Arsis : Tekanan suara naik, suku kata yang mendapat tekanan pada suatu kaki sajak. Misalnya:
Bukan beta bijak berperi, Pandai mengubah madahan syair. Bukan Beta budak negeri, Mustu menurut undangan mair.
Artis : Pelakon / pelaku seni
Artis tamu : Artis terkenal yang ikut serta dalam suatu pertunjukan, baik layar perak, layar kaca, drama, atau pertunjukan seni ada umumnya.
Artistik : Mempunyai nilai seni atau sifat yang menyeni.
Asindentron : Majas penegasan yang menyatakan beberapa benda, hal, atau keadaan secara berturut-turut tanpa memakai tanda penghubung. Misalnya: Wanita cantik, irama indah.
Asonansi : Perulangan bunyi vocal dalam deretan kata.
Asosiasi : Majas prbandingan antara suatu keadaan yang sesuai dengan keadaan dilukiskan. Misalnya: Wajahnya pucat pasi bagaikan nulan kesiangan.
Autobiografi : Suatu karangan tentang pengarangnya sendiri.
Awanama : Sama seperti anonym.
B
Babad : Sama seperti riwayat, sejarah dan tambo.
Babak : Bagian drama yang terdiri dari beberapa adegan atau peristiwa. Biasanya, pergantian babak ditandai perubahan setting, pemberian jeda dengan intermeso music atau perubahan lighting.
Bahasa Klise : Bahasa tiruan yang biasa dipakai sehingga tidak asing didengar atau tidak bermakna lagi untuk pendengarnya.
Bait / strope : Kebulatan arti dan irama dalam karangan berbentuk puisi. Misalnya: Bait pantun, yang terdiri atas empat baris. Gurindam terdiri dua belas bait.
Balada : Sajak tentang kisah yang mengharukan.
Balai Pustaka : Nama penerbit yang didirikan pada tahun 1917, kemudian menjadi nama suatu angkatan dalam dunia sastra, yaitu Angkatan Balai Pustaka.
Bibliografi : Daftar pustaka atau daftar buku.
Bidal : Bahasa kias untuk mengungkapkan perasaan yang sehalus-halusnya sehingga pendengarnya merasa terharu atau terhanyut. Bidal banyak digunakan dalam satra lama.
Biografi : Karangan sejarah hidup seseorang sejak kecil hingga dewasa ataupun hingga meninggal dunia.
Bombas : Ucapan yang sifatnya dilebih-lebihkan, diindah-indahkan, atau diucapkan secara menggebu-gebu.
Bujangga : Pujangga, ahli sastra, penyair yang lagendaris.
Buku Picisan : Karangan picisan; karangan atau buku yang tidak bernilai sastra.
Buku komik : Buku cerita bergambar.
Buku seri : Buku cerita yang dibuat secara berseri atau berjilid.
C
Candra : Makna tersirat dari yang tersurat.
Cauda : kauda: tmbahan baris dalam karya sonata karena pengarang belum merasa puas atau belum terselesaikan perasaannya dalam sonata tersebut; ekor sonata.
Cerber : Cerita bersambung: cerita yang disajikan secara berturut-turut atau sebagia-sebagian yang dimuat dalam majalah atau surat kabar.
Cergam : Cerita bergambar: cerita yang disajikan dalam bentuk gambar dan dijelaskan dengan bentuk tulisan secara singkat atay seperlunya.
Cerita berbingkai : Cerita rekaan yang di dalamnya terdapat suatu crita y7ang dituturkan oleh para pelakunya.
Cerita binatang : Fabel: cerita rekaan tentang binatang yang diperlakukan seperti manusia.
Cerita Fantasi : Kisah yang kadang-kadang susah diterima atau dilakoni oleh manusia biasa, bersifat supranatural.
Cerita fiksi : Cerita rekaan yang dibuat oleh pengarang berdasarkan kekuatan imajinasinya atau daya khayalnya. Cerita-cerita tersebut terkadang terjadi dalam kehidupan sebenarnya.
Cerita Ibarat : Cerita untuk menyampaikan ajaran-ajaran moral atau kebenaran dengan menggunakan perbandingan atau parallel.
Cerita Jenaka : Cerita tentang kelucuan tingkah laku tokoh dlam cerita tersebut. Misalnya: Kabayan, Pak Belalang dan Bayan Budiman.
Cerita Nonfiksi : Cerita yang dibuat berdasarkan pristiwa atau kisah nyata.
Cerita Panjang : Cerita yang disusun dengan panjang lebar. Misalnya: Novel dan Roman.
Cerita Panji : Cerita atau hikayat yang dibuat berdasarkan kisah-kisah kepahlawanan suatu kerajaan pada masa silam yang bersifat melegenda. Misalnya: Panji Semirang, Panji Tirta Tilam.
Cerita Pendek : Cerita singakat, situasi dan tokoh digambarkan secara terbatas.
Cerita Pokok : Suatu cerita yang mendahului dan melingkupi crita lain dalam cerita berbingkai.
Cerita Rakyat : Cerita dalam kehidupan rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan.
Cerita Rekaan : Sama degan cerita fiksi.
Cerita Sejarah : Cerita yang mengandung nila-nilai sejarah atau cerita yang dilukiskan berdasarkan fakta-fakta sejarah.
Citraan : Cara membentuk gambaran sesuatu seolah-olaj dapat ditangkap dan dinyatakan dengan indra. Misalnya: Gelomang laut itu tak henti-hentinya menampar pantai. ( Seolah-olah gelombang menampar pantai )
Character : Karakter, watak, sifat, serta sikap yang dimiliki oleh tokoh dalam usia lakon.
Characterization : Perwatakan yang dilukiskan oleh pengarang tentang tokoh-tokoh dalam cerita karangan secara jelas.
Conflict : Ketegangan yang timbul akibat hal yang saling bertentangan atau ketidakcocokkan antartokoh dalam suatu lakon.
D
Dalang : Orang yang memainkan wayang.
Daya empati : Kemampuan merasakan sesuatu yang dialami oleh orang lain; atau kemampuan merasakan suatu kejadian atau persistiwa tanpa masuk kedalamnya.
Deklamasi : Menampilkan puisi dengan gerak dan seluruh kemmpuan mimic di depan penonton.
Deklamator : Orang yang membaca puisi di depan penonton.
Dekorasi : Tempat utnuk pentas yang dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai dengan tempat kejadian yang dituntut dalam naskah.
Dekorator : Orang yang membuat dekorasi.
Denotasi : Makna sebenarnya dalma suatu kata atau dari suatu pernyataan yang diungkapkan.
Denovement : Teknik mengakhiri suatu cerita ( dalam bentuk komedi tragedy atay perenungnya ).
Deskripsi : Karangan berbentuk gambaran tentang suatu keadaan peristiwa atau kejadian, perilaku seseorang degan kata-kata yang jelas sehingga pembaca mendapat gambaran yang jelas.
Dialog : Percakapan dalam lakon antara dua orang atau lebih.
Dialog batin : Dialog atau percakapan antara si pelaku dengan dirinya sendiri untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
Degresi : Penyimpangan pokok masalah atau pembicaraan yang sedang dihadapi.
Dinamis : Penuh gerakan, penuh semangat, mudah berubah sesuai dengan keadaan.
Distikon : Puisi baru yang setiap barisnya terdiri dari dua bait.
Dongeng : Cerita yang sepenuhnya merupakan imajinasi atau daya khayal pengarangannya dan yang diceritakannya seluruhnya belum pernah terjadi.
Drama : Karya sastra dalam bentuk dialog untuk ditampilkan di atas panggung pertunjukan.
Drama absurd : Drama yang menyimpang dari hokum drama konvensional, setting, struktur atau alur yang ditampilkan secara tidak teratur.
Drama baca : Drama yang tiadk cocok dtampilkan di atas pentas, tetapi lebih cocok untuk dibaca saja.
Drama Borjouis : Drama yang berlatar belakang kehidupan kaum bangsawan.
Drama domestik : Suatu drama yang menceritakan rakyat biasa.
Drama duka-ria : Tragedi-komedi; drama yang diawali oleh kedukaan, namun diakhiri dengan kebahagiaan.
Drama heroic : Drama peniruan bentuk tragedy yang umumnya bertema cinta dan masalah nama baik.
Drama komedi : Drama yang sifatnya selalu ceria dan lucu.
Drama kontemporer : Drama yang dipertunjukkan secara nonrealis, yang tidak biasa ditemukan dalam keadaan sehari-hari.
Drama Liris : Drama dalam bentuk puisi atau drama yang sifatnya puitis.
Drama moralis : Drama yang menampilkan cerita-cerita tema moral kebaikan dan kejahatan, kebanyakan diambil dari tema-tema agama.
Drama rakyat : Drama tradisi: Drama yang hidup dan berkembang dalam masyarakat, biasanya belum tersentuh pengaruh drama modern dari barat. Misalnya: Ranjai.
Drama realis : Drama yang menceritakan tentang kehidupan sehari-hari dan ditampilkan sesuai dengan kenyataan kesehariannya.
Drama ria :Drama yang bersifat menghibur.
Drama Rumah : Drama yang menampilkan cerita-cerita kehidupan rumah tangga.
Drama Satire : Drama sindiran, kebanyakan bersifat komedi.
Drama seri : Drama yng ditampilkan berseri.
Drama Tari : Drama yang ditampilkan melalui tarian-tarian.
Drama Tendens : Drama yang berisikan berbagai masalah social, kepincangan dalam kehidupan bemasyarakat.
Drama tradisional : Drama yang mengungkapkan kehidupan rakyat dan drama ini sangat melekat dalam kehidupan masyarakattertentu dari generasi ke generasi.
Drama tragis : Drama yang menyedihkan atau mengharukan.
Dramatik : Dramatis: segala sesuatu yang bersifat drama, mengarukan atau menyedihkan.
Dramatikus : Seorang ahli drama.
Dramawan : pengarang, pelakon, sutradara yang seluruh hidupnya ditujukan untuk masalah-masalah drama.
Dramatisasi : Segala sesuatu yang ditampilkn seperti pertunjukan drama.
Dramaturg : Ahli drama, pengarang naskah drama.
Dramaturgi : Ilmu atau pengetahuan tentang seluk beluk drama.
Dukacarita : Cerita atau lakon sedih.
E
Edisi : Bentuk buku yang diterbitkan pada waktu dan tempat tertentu.
Editor : Orang yang mempunyai keahlian mengedit naskah buku, majalah, bulletin, surat kabar, film, atau naskah televisi.
Edukatif : Sesuatu yang bersifat mendidik.
Esklamasaio : Majas yang menggunakan kata-kata penyerta untuk penegasan. Misalnya: Ah, begitu saja menangis.
Eksposisi : Paparan, karangan berbentuk penjelasan atau pemaparan sehinggapembaca memahami cerita.
Ekspresi : Wajah, atau muka yang tampak ( menamilkan suatu bentuk wajah dan muka dalam suatu lakon ).
Ekspresionisme : Suatu aliran dalam sastra atau seni yang umumnya lebih memntingkan soal-soal kejiwaan dari pada kejadian yang nyata.
Ekstrinsik : Hal-hal luar, factor luar yang memengaruhi factor-faktor dalam.
Ekuivokasi : Penggunaan kata atau istilah yang sama untuk pengertian berlainan. Misalnya: Bisa berarti racun dan bisa berarti mampu mengerjakan.
Elegi : Syair, sajak atau nyanyian yang mengandung ratapan atau ungkapan duka cita.
Enjambemen : Perloncatan baris: baris kalimat yang bertugas untuk menghubungkan bagian yang mendahuluinya dengan bagian berikutnya.
Enumerasio : Suatu majas penegasan yang melukiskan suatu peristiwa agar keseluruhan maksud kalimat lebih luas dan lebih jelas. Misalnya: Gelombang pasang itu melumatkan Maumere, tak ada satu pun tersisa, rumah, pasar, masjid, sekolah dan lainnya lenyap sekaligus.
Epifora : Suatu majas paralelisme yang menempatkan kata atau kelompok kata yang sama pada akhir larik dalam puia secara berulang-ulang. Misalnya:…………………………… Bila kau mau, aku kan datang……………………………….. Bila kau ingin, aku kan datang………………………………. Bila kau ingin, aku kan datang.
Epigon : Orang yang hanya mengikuti pikiran pendahulunya, tidak mempunyai pemikiran dan gagasan sendiri.
Epigram : Syair atau ungkapan pendek yang mendukung gagasan atau peristiwa dan diakhiri pernyataan menarik, biasanya merupakan sindiran; peribahasa yang padat dan penuh mengandung paradox.
Epilog : Bagian penutup karya sastra yang berfungsi menyampaikan intisari cerita atau menafsirkan maksud cerita pada akhir cerita drama.
Episode : Seri cerita; bagian peristiwa yang berdiri sendiri.
Erata : Daftar pembetulan kesalahan yang terdapat dalam buku yang sudah tercetak; ralat.
Erotik : Cerita sastra yang lebih menekan pada unsure-unsur keintiman atau masalah birahi.
Esai : Karangan rposa yang mengupas masalah secara sepintas dan padat dari sudut pandang penulisannya secara subjektif.
Esais : Seorang penulis esai.
Etika : Ilmu tentang moral, mengenai baik dan buruk, salah dan benar.
Eufemisme : Majas perbandingan yang mengganti satu pengertian dengan kata lain yang hamper sama untuk menghaluskan maksud.
Evokasi : Seala sesuatu yang bersifat menggugah rasa.
F
Fabel : Cerita tentang kehidupan manusia, yang para pelakunya adalah binatang.
Fantasi : Khayalan, gambaran, angan-angan tentang sesuatu.
Farabel : dongeng tentang binatang atau benda-benda mati yang mengandung nilai pendidikan.
Figur : Idola, orang yang menjadi teladan bagi orang lain, tokoh wujud, bentuk.
Figuran : Tokoh pendukung dalam drama atau film.
Fiksi : Rekaan, Khayalan, tidak sesuai dengan fakta.
Film : Cerita atau lakon yang diwujudkan dengan gambar hidup.
Flashback : Sebuah alur balik.
Flat Character : Watak dasar, watak tunggal yang tidak mengalami perubahan dari awal hingga akhir cerita.
Folklor : Cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun.
Foreshadowing : Membayangkan sesuatu setelah membaca, melihan, mendengar atau merasakan suatu peristiwa atau kejadian yang mengesankan.
Fotografi : Karangan dalam sastra yang merupakan hasil tangkapan sekilas apa yang ditangkap mata.
Fragmen : Cuplikan atau petikan cerita.
G
Ganjaran : Karangan yang tidak bersajak; prosa; karangan bebas.
Gaya : Cara pengarang menggunakan bahasa untuk menyajikanperasaan dan pikirannya dalam karya-karyanya.
Gaya Bahasa : Kata-kata kiasan yang digunakan oleh pengarang untuk menghaluskan kata yang digunakan dalam karangannya.
Gazal : Sebuah puisi atau sajak berwujud 8 baris yang tiap baris terakhir menggunakan kata-kata yang sama. Berasal dari Persia.
Generasi : Angkatan; turunan; atau sekelompok orang yang hidup pada kurun waktu tertentu.
Gerak Muka : Gerak pengungkapan perasaan yang terlihat dari raut dan gerak gerik muka.
Gubah : Gubahan; menggubah, menyusun, mencipta karya sastra dari unsur-unsur yang telah ada.
Gurindam : Puisi lama berbentuk dua seuntai, berirama, baris pertama adalah syarat dan baris kedua adalah jawabannya.
Gurit : menggurit; yaitu mengarang tembang atau puisi yang berirama.
Guritan : Karangan yang berbentuk puisi berirama.
H
Harfiah : Bukan arti bebas, arti yang belum mendapatkan tambahan.
Heksa-meter : Baris sajak atau puisi yang bersuku kata enam
Heota-meter : Baris puisi yang bersuku kata tujuh.
Hieroglif : Tulisan abjad Mesir Kuno, terdiri atas 700 gambar dan lambang.
Hikayat : Cerita panjang yang sebagian isinya mungkin terjadi sungguh-sungguh, tetapi terdapat pula hal-hal yang tidak masuk akal.
Himne : Sajak tentang ketuhanan, sajak pujian.
Hiperbola : Majas yang melukiskan suatu peristiwa atau kejadian secara berlebih-lebihan.
Historiografi : Penulisan sejarah; historikus; sejarahwan.
Holografis : Tulisan tangan yang indah.
Homofon : Kata yang pngucapannya sama tetapi ejaan dan lafalnya berbeda. Contoh: Bang dengan Bank.
Homograf : Kata yang ejaannya sama tetapu lafal dan makannya berbeda. Contoh: Mental ( kejiwaan ) dengan mental ( terpelenting ).
Homonim : Kata yang lafal dan ejaannya sama tetapi artinya berbeda. Contoh: Bisa ( mampu ) dengan bisa ( racun ).
Humor : Sesuatu yang bersifat lucu yang menghibur.
Humoris : Seorang ahli dalam bidang humor.
Humoristis : Secara humor ( lucu ), atau mengandung sesuatu yang bersifat lucu.
I
Ibarat : Suatu perbandingan terhadap sesuatu.
Idealisme : Karangan yang selalu mengejar kesempurnaan.
Imiah Populer : Karangan ilmiah dalam abhasa yang mudah dibaca serta dipahami msyarakat umum.
Ilustrasi : Lukisan, diagram, foto, atau sesuatu utnuk menjelaskan suatu karangan atau tulisan lainya.
Imajinasi : Kemmampuan membayangkan atau mengkhayalkan sesuatu; menciptakan karya berdasarkan kenyataan atau pengalaman orang lain.
Imrpovisasi : Mempertunjukan sesuatu di depan penonton tanpa persiapan terlwbih dahulu.
Indeks : Daftar kata atau istilah penting dalam buku atau karangan, untuk memberikan informasi tentangnya.
Inspirasi : Seuatu yang datang dalam diri seseorang sehingga menimbulkan semangat berkreasi atau menciptakan karya.
Interprestasi : Penafsiran terhadap sesuatu.
Interupsi : Suatu majas penegasan yang menggunakan kata yang disisipkan di antara kalimat pokok untuk menjelaskna kalimat sebelumnya.
Inveri : Suatu majas yang membalikkan susunan kalimat, subjek didahului predikat.
Irama : Bunyi atau gerak yang berurutan secara teratur.
Ironi : Majas yang menyataka makna bertentangan dengan hal yang sesungguhnya dengan maksud menyindir.
Ironi Dramatik : Informasi yang diberikan kepada penonton melalui ucapan seorang tokoh tentang tokoh dalam peristiwa.
Ironis : Suatu hal yang bersifat ironi.
J
Jalan Cerita : Susunan peristiwa yang terdapat dalam suatu karya sastra prosa yang dibuat oleh pengarangnya.
Jnaturan : Cerita yang dibawakan oleh dalang dalam perwainan wayang.
Jargon : Kosakata khusus yang digunakan dalam waktu, tempat, serta bidang tertentu.
Jenaka : Lucu; membangkitkan kelucuan.
Jiplak : Mencontoh sesuai dengan apa yang dilihat, dibaca, atau yang tertulis dalam karya orang lain.
Jontoh : Cerita yang bertaliat kuat dengan adat istiadat.
Judul : Nama yang dipakai untuk menamai suatu karya sastra.
K
Kakafoni : Rangkaian kata yang tidak harmonis, dibuat untuk mencari efek artistic.
Kakofoni : Suara music sumbang, tidak enak didengar.
Kakologi : Bahasa yang menyimpang dari ucapan atau bahasa berlaku.
Kanon : Karya drama yang dianggap ciptaan asli seorang penulis.
Karakter : Lihat character.
Karakterisasi : Lihat Characterization.
Karang : Mengarang, menulis, dan menyusun sebuah cerita, buku, sajak dan karya sastra lainnya.
Karikatur : Gambar yang bersifat sindiran atau olok-olok tentang seorang tokoh atau peristiwa tertentu yang dianggap menarik.
Karikatual : Bersifat olok-olok atau sindiran lucu.
Karikaturis : Pembuat karikatur atau ahli karikatur.
Karmina : Pantun kilat, pantun dua seuntai, baris pertama sebagai sampiran, dan baris kedua sebagai isi yang berupa sindiran dan bersajak a-a.
Karya Sastra : Ciptaan manusia dalam bentuk tulisan yang dapat menimbulkan rasa indah, haru, benci dsb.
Katarsis : Kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan atau pertikaian batin akibat kejadian dramatis.
Katastrofa : Penyelesaian akhir suatu drama.
Kegiatan sastra : Segala usaha atau pekerjaan yang berhubungan dengan dubia sastra.
Kepala Lakon : Peran utama dalam sebuah lakon.
Kesusastraan : Karangan indah, baik dalam bentuk tulisan atau lisan.
Kisasan : Perumpamaan, ibarat, arti kata yang bukan sebenarnya.
Kisah : Cerita tentang kejadian, riwayat hidup seseorang.
Kit’ah : Puisi berasal dari Arab Parsi yang tiap barisnya terdiri atas 5 bait.
Klasik : Karya sastra tradisional; karya sastra yang kekal.
Klimaks : Majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang makin lama makin menghebat.
Koda : Lihat cauda.
Kodeks : Naskah kuno yang dikarang dengan tulisan tangan.
Kolofon : Catatan penulis tentang tanda-tanda penerbitan pada bagian penutup naskah, muali tempat hingga waktu penerbitan.
Komik : Cerita dalam bentuk gambar yang dijelaskan dengan bentuk tulisan.
Konflik : Suatu ketegangan atau pertentangan antartokoh dalam drama maupun karya prosa lainnya.
Konflik Mental : Pertentangan batin tokoh untuk menentukan suatu pilihan dengan berbagai pertimbangan baik buruk.
Konflik social : Pertentangan yang terjadi antartokoh.
Konotasi : Kata yang menimbulkan banyak pemahaman, pikiran.
Kontradisio Interminis : Majas pertentangan dengan penjelasan sebelumnya, berupa pengecualian.
Koreksio : Majas penegasan berupa pembentukan kembali sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya.
Kreasi : Sebuah hasil cipta.
Kritik : Tanggapan objektif dari seseorang terhadap karya orang lain dengan menguraikan secara rinci mengenai baik-buruknya atau salah-benarnya.
Kronologi : Ururtan waktu dan sejumlah kejadian atau peristiwa.
Kronologis : Alur Kronologis; Alur yang disusun sesuai dengan urutan kejadian secara teratur.
Kuartin : Saajk empat seuntai, yang terdiri atas empat baris dalam satu bait.
Kuin : Sajak lima seuntai, yang terdiri atas lima baris daalm satu baitnya.
Kutipan : Petikan satu kalimat atau lebih dari karya tulisan orang lain untuk memperkokoh atau memperjelas argument dalam tulisan sendiri.
L
Lakon : Cerita berbentuk percakapan drama, pentas, radio, film; pemeran atau pelaku dalam sebuah cerita.
Laku dramatic : Perwatakan; berperan sesuai dengan karakter atau watak yang dikehendaki tokoh dalam naskah.
Larik : Baris atau bait dalam sajak atau puisi.
Latar : Segala sesuatu yang melingkupi seluruh bagian dalam cerita \, mulai tempat, waktu, suasana, hingga alat.
Lagenda : Cerita lama atau klasik yang masih terus dikenang dan sulit dilupakan; cerita yang selalu dihubungkan dengan sejarah atau asal muasalsuatu kejadian, tempat, lahirnya suatu benda, sejarah tokoh besar dsb.
Lelucon : Penggembira, penggeli hati, sesuatu yang membuat orang tertawa.
Lenong : Drama tradisional dari Jakarta yang diiringi oleh alat music keroncong gambang.
Lirik : Karya Sastra yang berisi curahan perasaan pengarang secara subjektif.
Lirik dramatik ; Cakupan tunggal dramatik.
Liris : Penuh perasaan; emosional.
Literator : Sastrawan, pujangga, pengarang professional.
Litotes : Majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan kata yang berlawanan artinya dengan kenyataan yang sebenarnya dengan maksud untuk merendahkan diri. Misalnya: Inilah gubuk ( rumah ) kami.
Logat : Dialek, cirri khas berbahasa yang sesuai dengan logat berbicara daerah asal si pembicara.
Logogram : Huruf, lambang, tanda yang melambangkan suatu kata.
M
Madah : Sajak, puisi, syair.
Majas : Gaya bahasa; bahasa berkias.
Majas perbandingan : Majas yang menggunakan perbandingan-perbandingan data melukiskan sesuatu.
Majas pertautan : Majas yang melukiskan sesuatu dengan mempertautkan sesuatu dengan yang lainnya.
Majas pertentangan : Majas yang melukiskan sesuatu dengan mempertentangkan sesuatu dengan yang lainnya.
Majas perulangan : Majas yang melukiskan sesuatu dengan cara mengulangi kata, kelompok kata, frase, atau kalimat dengan maksud memberikan penegasan atau penekanan pada sesuatu yang dimaksud.
Makna denotasi : Makna sesungguhnya dan belum mendapat pengertian lain.
Makna konotasi : Makna yang sudah mendapat tambahan baru dalam pengertiannya.
Mantra : Puisi lama yang dianggap dapat mendapatkan kekuatan gaib, Mantra banyak digunakan dukun atau pawang yang diucapkan secara lisan.
Masnawi : Puisi lama yang berasal dari Parsi yang berisi puji-pujian. Irama sajaknya berbarengan dua-dua (a-b atau b-b).
Matra : Bagan yang dipakai dalam penyusunan baris sajak yang berhubungan dengan jumlah, panjang atau tekanan pada kata atau suku kata.
Melonis : Majas yang mengandung pernyataan merendah untuk menekan atau mementingkan hal yang dimaksud agar lebih mengesankan dan bersifat ironis.
Melodrama : permainan drama atau sandiwara yang mendayu-dayu serta mengharukan.
Metafora : majas perbandingan yang diungkapkan secara singat dan padat.
Metonimia : majas yang menggunakan nama lain dalam menyebutkan sesuatu sesuai dengan nama cirri atau nama hal yang ditautkan dengan orang atau benda sebagai penggantinya.
Metrik : Ilmu mengenai Irama atau ritme dalam puisi.
Mimik : Gerak-gerik muka.
Mistik : Segala sesuatu yang dihubungkan dengan masalah ketuhanan, dewa, atau kegaiban.
Mistisme : Aliran dalam sastra yang lebih menonjolkan cerita-cerita mistik.
Mite : Cerita yang mengandung dan berlatar belakang sejarah atau hal yang sudah dipercayai banyak orang bahwa cerita tersebut pernah terjadi dan mengandung hal-hal gaib.
Mitos : Segala sesuatu ayng telah diyakini banyak orang.
Monodrama : Drama yang dimainkan oleh satu orang.
Monolog : Percakapan yang dilakukan seorang diri.
Musikal : Cerita yang ditampilkan dengan menonjolkan musik.
Musikalisasi puisi : Menampilkan puisi dengan jalan memasukan unsure-unsur music secara dominan.
N
Nada : Bunyi yang jelas tinggi rendahnya.
Narasi : Cerita; karagan yang terbentuk dari berbagai pristiwa yang saling berkaitan menjadi satu bentuk cerita yang utuh.
Naskah : Karangan yang merupakan karya asli.
Nazam : Puisi yang terdiri dari dua belas larik yang berirama.
Niraksara : Tidak mampu baca dan tulis.
Novel : Karangan yang berbentuk prosa panjang dan mendetail mengenai tokoh-tokoh yang diceritakan di dalamnya.
Novela : Karangan cerita fiksi yang lebih panjang dan kompleks daripada cerpen.
Novelis ; Penulis novel maupun Novela.
Nuansa : Kemampuan menyatakan suatu pergeseran kecil tentang makna atau perasaan.
O
Objektif ;
Oktava :
Oksimoron :
Okupasi :
Opera :
Operet ;
Opini ;
Ortografi :
Otobiografi ;
P
Pagelaran ;Pementasan,pertunjukan drama,tari,atau musik
Palindron :Kata atau rangkaian kata,atau bilangan yang dapat dibaca dengan baik dari depan maupun dari belakang.
Pantonim :Pertunjukan dengan gerak tubuh tanpa penggunaan suara
Pantun : Puisi lama yang terikat dengan syarat-syarat tertentu.
Pantut Adat :Pantun yang berisi nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat,biasanya bersifat mendidik.
Pantun Agama :Pantun berisi nilai-nilai agama.
Pantun Berkait : Pantun yang tersusun secara berangkai, saling mengkait anatara bait.
Pantun Dagang :Pantun yang digunakan dalam bidang dan isinya pun mengupas masalah perdagangan
Pantun Jenaka :PAntun berisi cerita-cerita jenaka
Pantun Muda-mudi :Pantun untuk anak muda atau remaja,biasanya berisi cinta kasih dan bersifat humoris
Pantun Modern :Pantun yang barisnya tidak mengandung sampiran.
Pantun Nasihat ;PAntun berisi nasihat,biasanya bersifat mendidik
Pantun Perceraian :Pantun berisi masalah hubungan cinta kasih
Pantun Rantai :Pantun berkait,pantun empat seuntai yang baris ke-2 dan baris ke-4nya menjadi baris ke-1 dan baris ke-3 dalam bait berikutnya.Dan seterusnya
Pantun Sukacita :Pantun berisi kesukaan dan kegembiraan
Pantun Teka-teki :Pantun yang berisi pertanyaan yang harus dijawab oleh pembaca atau pendengar
Pantun Tua :Pantun yang biasa dipakai orang tua,bersifat mendidik,baik dalam hal moral,adat atau agama.
Parabel :Cerita fiksi (rekaan) pendek,yang isinya melukiskan sikap moral dan keagamaan yang menggunakan ibarat atau perbandingan
Paradoks :Suatu majas yang mengandung pertentangan nyata dengan fakta-fakta yang ada
Parafrase :Mengungkapkan kembali suatu penuturan dari suatu bentuk bahasa menjadi bentuk bahasa lain tanpa mengubah makna atau isi yang terkandung dalam bentuk semuala (misalnya mengubah bentuk puisi menjadi bentuk prosa)
Paralelisme :Suatu majas yang diwujudkan dengan cara mengulang suatu kata berkali-kali guna member penjelasa atau penegasan pada kata diulang ataupun maksud yang dipentingkan;perumpamaan yang mengandung nilai tertentu dengan maksud tertentu pula.
Pars pro toto ;Majas sinedhoke yang melukiskan sebagian untuk maksud keseluruhan. Misalnya: sudah tiga bulan,dia tidak kelihatan batang - batang kehidupannya
Pastarol :karangan yang melukiskan kehidupan kedesaan yang tentram dan damai
Pelopor :Pelopor sastra:orang yang pertama memulai,merintis jalan:atau menghasilkan suatu karya yang pada masa berikutnya banyak diikuti.
Pemeo : Ucapan yang terkenal dan diulanh-ulang yang berfungsi sebagai semboyan.
Pemeran :Pemain;orang yang memainkan tokoh dalam naskah drama atau film.
Pemeran Utama :Seseorang yang memerankan tokoh utama,tokoh yang paling penting
Pemeran Tambahan :Seseorang memerankan tokoh pendukung
Penokohan :penentuan took,pemilihan tokoh yang dilakukan pengarang dengan meninjau dari segala sudut,mulai dari karakter sampai bentuk fisik tokoh yang hendak dimunculkan dalam karya sastranya
Pentas :Panggung,stage,tempat untuk pertunjukan
Penyair :Ahli puisi;orang yang profesinya sebagai pembuat puisi
Pepatah : Kiasan tetap yang dinyatakan dalam aklimat selesai.
Peribahasa : Kalimat lengkap yang mengungkapkan keadaan atau kelakuan seseorang dengan dengan mengambil perbandingan dengan alam sekitar.
Periodisasi Sastra :Pengelompokan waktu menurut masa tertentu yang didasarkan pada cirri tertentu dari karya-karya yang dihasilkan pada suatu masa
Personifikasi :Majas perbandingan yang melukiskan benda mati seolah-olah bernyawa dan bertingkah laku seperti manusia.Misalnya:buih-buih bermain denagn lincah diatas gelombang bercengkrama dengan angin dan burung camar
Persuasi :ajakan,bujukan;karangan yang berisikan atau ajakan kepada pembaca untuk melakukan sesuatu sesuai dengan harapan penulisnya
Perumpamaan :majas perbandingan yang dilakukan dengan membandingkan dua hal berbeda yang dianggap sama.misalnya:air matanya sudah menganak sungai
Perwatakan :karakterisasi
Pleonasme :majas yang menggunakan kata keterangan yang berlbihan atau menegaskan kata yang sebenernya tidak diperlukan.misalnya:dia naik ke atas dengan tergesa-gesa.(naik ke atas sangat berlebihan karena naik itu sudah pasti keatas.)
Plot :alur(lihat alur)
Point Of View :sudut pandang titik acuan pengarang
Polisendenton :majas penegasa dengan menyebutkan beberapa benda secara berturut-urut menggunakan kata sambung.
Prapustaka :kebudayaan yang belum mengenal baca-tulis
Praterito :majas yang digunakan pengarang untuk menyembunyikan sesuatu kepada pembaca sehingga pembaca harus menerka hal-hal yang disembunyikan pengarang tersebur.
Prawacana :kata pendahuluan,prakata
Prifase :majas perbandingan dengan cara menggantikan kata dengan beberapa kata atau kalimat.
Profil :bentuk,bentuk wajah
Prolegomenia :pengantar kata dalam karangan ilmiah
Prolog :pengantar,kata-kata pendahuluan sebelum dimulainya suatu pertunjukan;kata pembuka
Prosa :karangan bebas atau karangan yang tidak terikat seperti puisi
Prosa baru :kaarya prosa yang ditulis dalam bahasa Indinesia dan meninggalkan bahasa Melayu pasaran
Prosa Berirama :karya prosa yang bernuansa puisi secara kental;disebut juga prosa liris(lirik) atau prosa puintik
Prosa lama :karya prosa yang masih menggunakan bahasa Melayu
Prosa Liris : Prosa yang didalamnya masih terdengar adanya irama.
Prosadi :pengkajian atau penganalisan suatu karya sajak
Protagonis :tokoh utama yang memerankan tingkah laku yang baik dan membawa nilai-nilai kebenaran
Puisi :ragam sastra yang diwujudkan dengan kata-kata atau bahasa yang indah dan padat nilai
Puisi baru :puisi yang lahir pada dunia baru di Indonesia dan telah ditulisa dalam bahasa Indonesia serta mulai meninggalkan cara penulisan puisi lama
Puisi bebas :ouisi yang diungkapkan secara bebas tanpa menghiraukan acuan konvesional yang berlaku dalam penulisan puisi
Puisi berpola :puisi yang larik dan barisnya disusun secara geometris
Puisi Lama :puisi yang mementingkan masalah irama persajakan,sampiran,dan isi serta persajakan abab
Puisi Modern :puisi yang mengutamakan isi dari pada bentuk
Puitisasi :mengubah karya prosa ke dalam bentuk puisi
Pujangga :pengarang sastra
Purisme :aliran yang selalu mempertahankan kemurnian suatu bahasa
Q
Quatrain :sejak empat seuntai;puisi baru yang terdiri atas empat baris setiap baitnya
Quint :puisi baru yang tiap-tiap baitnya terdiri atas 5 baris.puisi lima seeuntai
R
:
Radif :rima,penyesuaian bunyi,persajakan
Realisme :suasana cerita yang memuncak,penuh dengan perdebatan dan pertentangan antar tokoh
Repetisi :majas perulangan yang mengemukakan kata-kata yang sama secara berulang-ulang dalam kalimat lainnya untuk menekankan atau memberikan penegasan
Retoris :majas yang menggunakan kalimat Tanya yang tidak memerlukan jawaban
Rima :perulangan bunyi yang sama dalam puisi
Rima Akhir ;rima dengan kata yang berirama pada akhir b aris dalam sebuah puisi
Rima Aliterasi :perulangan bunyi kata yang sama pada awal kata dalam kalimat sebaris
Rima Awal :rima dengan kata berirama pada awal baris dalam sebuah puisi
Rima bebas :rima yang ditetapkan sebagaimana diinginkan pengarangnya dan dianggap bagus olehnay
Rima datar :rima dengan kata berirama pada larik yang sama
Rima Disonansi :rima dengan kata yang berirama pada vocal yang menjadi rangkaian kata dan memberikan kesan bunyi-bunyi berlawanan
Rima Kembar :rima dengan kata yang berirama pada akhir bait berurutan sama dua-dua
Rima Mutlak :rima dengan bunyian yang sama pada seluruh kata
Rima Paruh :rima dengan bunyi sama pada bagian akhir saja
Rima Pasangan :rima kembar
Rima Patah :rima yang satu kata tidak mengikuti rima yang lain tambahannya
Rima Paut :rima yang salah satu katanya tidak mengikuti lima larik yang lain tambahannya
Rima Pecah :rima patah
Rima Peluk :rima paut
Rima Rangkai :rima dengan kata berirama pada setiap larik berurutan
Rima Rupa :rima dengan bentuk,tampak serupa,tapi bunyinya berlainan
Rima Salib :rima silang
Rima Sama :rima rangkai
Rima Sejajar :rima dengan sepatah kata yang dipakai berulang-ulang dalam tiap barisnya secara berurutan
Rima Sempurna :rima dengan kata berirama pada seluruh bunyi suku akhir
Rima Serupa :rima rupa
Rima Silang :rima dengan kata berirama pada akhir baris dalam setiap bait secara berselang-selang
Rima Tegak :rima dengan kata berirama pada awal larik-larik yang berlainan
Rima Terbuka :rima dengan kata berirama pada awal larik-larik puisi
Rima Tertutup :rima dengan kata yang berirama pada suku kata akihir yang bersuku tertutup atau berakhir dengan konsonan yang sama
Ritma :irama,pertautan suara tinggi-rendah,keras-lemah,panjang-pendek,yang terjalin secara teratur;tenaga gaib yang menimbulkan berbagai keindahan dan perasaan tertentu kepada manusia
Roman :karangan berbentuk prosa yang panjang dan menceritakan suatu peristiwa secara rinci dan menditail.tokoh-tokohnya dilukiskan secara rinci dari kecil sehingga meninggal dunia,dan mengalamiperubahan nasib
Roman Adat :roman berisikan cerita tentang pertentangan adat,konflik adat
Roman Anak :roman yang berisikan cerita tentang kehidupan anak-anak,biasanya bersifat menghibur,mendidik,serta penuhwejangan dan nasihat
Roman Bertendens :roman bertujuan;roman yang isinya mengandung maksud tertentu
Roman Detektif : roman yang berisikan cerita tentang detektif,spionase,biasanya berisikan kelicikan-kelicikan yang tersembunyi,pencurian,pembunuhan,dan sebagainya
Roman Dewasa :roman yang berisikan cerita tentang pergolakan jiwa yang dialami para tokohnya.
Roma Kejiwaan :roman psikologis,roman yang berisikan cerita tentang pergolakan jiwa yang dialami pada tokohnya
Roman Masyarakat :roman social,roman yang bertema tentang masalah sosial
Roman Perjuangan :roman sejarah,roman yang berisikan tentang cerita tentang perjuangan dan perang melawan penindas
Roman Picisan :roman yang tak bernilai sastra dan tak bermutu,kebanyakan berisi cerita yang berbau seksual
Roman Sejarah :roman perjuangan
Roman Wanita :roman yang pelaku utamanya wanita
Romansa :ilmu yang mempelajari bahasa dan kesastraan romawi
Romantik :bersifat romantis
Romantisme :aliran sastra pada abad ke-18 yang mengutamakan masalah perasaan,tindakan spontanitas,aliran drama yang lebih menekankan perasaan,imajinasi,serta emosi sentimental
Rubai :puisi empat seuntai.tiap bait mengandung 4 baris.puisi ini berasal dari arab
S
Sadur :menyadur
Sage : Dongeng yang mengandung unsure sejarah meskipun tidak seluruhnya berdasarkan sejarah.
Sajak :puisi,persamaan bunyi
Sajak Awamatra :sajak yang mantranya tidak teratur,bahkan tanpa mantra
Sajak Gema :sajak yang pada suku kata akhirnya pada setiap barisnya digemakan atau disebutkan pada baris berikutnya,baik berubah jadi arti lain atau tidak berubah arti
Sajak Anak-anak :sajak yang melukiskan kehidupan anak-anak atau bersifat mendidik dan menasihati anak-anak
Sajak kisahan :sajak berbentuk narasi dan melukiskan tentang suatu peristiwa
Sajak Main-main :sajak yang bersifat hiburran
Sajak Peristiwa :sajak yang melukiskan tentang suatu peristiwa
Sajak Prosa :sajak lirik
Sajak SIndiran :sajak yang mengandung sindiran atau kritikan terhadap suatu kejadian yang dianggap tidak wajar atau tidak semestinya terjadi
Sampiran :separuh,bagian dari pantun yang sajaknya sama dengan separuh baris kedua dalam pantun atau puisi lama
Sandiwara :drama,tonnel,teater,atau hanya permainan
Sandiwara Radio :sandiwara atau drama yang direkam dalam audio dan diperdengarkan alat radio
Sanjak :karangan pendek dengan bentuk tertentu
Sarakasme :majas sindiran dengan menggunakan kata kasar
Sastra :karya tulis yang indah yang mengandung nilai-nilai moral,pendidikan,dan agama
Sastra Bandingan :analisis karya sastra dengan membandingkannya dengan karya sastra tertentu untuk mencari kemungkinan persamaan,dan penbedaannya
Sastra Daerah :sastra yang dikembangkan di daerah dan diungkapkan dengan menggunakan bahasa daerah tempat sastra tersebut berkembang
Sastra Dunia :karya sastra milik dunia,bersifat universal
Sastra Hiburan :jenis sastra yng bersifat hiburan ringan untuk menghilangkan kejenuhan dan stres
Sastra Indonesia :sastra klasik
Sastra Klasik :sastra lama yang belum terpengaruh sastra asing ,terutama sastra barat
Sastra Kontemporer :sastra masa kini
Sastra Melayu :sastra yang ditulis dalam bahasa melayu
Sastra Modern :sastra Indonesia yang telah banyak dipengaruhi oleh sastra asing
Sastra Nusantara :sastra yang ditulis dalam bahasa daerah tertentu yang tersebar di seluruh pelosok tanah air
Sastra Otonom :sastra yang tidak mengacuh pada sastra lain
Sastra Pelarian :sastra yang isinya menceritakan usaha pembebasan seorang dari penjara,khususnya pada perang dunia 2
Sastra Rakyat :sastra yang berbentuk lagenda,balada,dongeng,teka-teki yang berkembang di tengah kehidupan masnyarakat
Sastra Sejarah : Sastra Indonesia lama yang berhubungan dengan sejarah
Satire :majas sindiran terhadap keadaan seseorang
Sektet :sajak enam seuntai
Seloka : Pantun yang terdiri dari empat baris sebait tetapi persajakannya datar ( aaaa ).
Sentimental : Cepat tersentuh perasaannya, sensitive.
Septin : Puisi 7 seuntai.
Silsilah : Sejarah asal-usul.
Simbolik : Majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda lain sebagai symbol atau lambang.
Simentri : Suatu majas yang satu kalimat dengan kalimat lainnya sebanding.
Simile : Perumpamaan.
Senekdokhe : Majas yang melukiskan sebagian untuk seluruhnya.
Sinisme : Majas yang emnyatakan sindiran secara langsung.
Sinonim : Majas yang menggunakan kata yang sama dan searti.
Situasi : Tahapan atau bagian cerita berupa situasi yang diciptakan pengarang untuk melukiskan keadaan.
Sinopsis : Ringkasan cerita dari berbagai karya sastra.
Skenario : Naskah film.
Soneta : Sajak baru yang berasal dari Italia, berbentuk empat belas baris, terbagi menjadi dua bait pertama yang masing-masing trdiri atas 4 baris, dan 2 bait kedua masing-masing terdiri atas 3 baris.
Suspense : Ketegangan pikiran dan perasaan pembaca setelah dia membaca konflik mental dan konflik social yang terdapat dalam cerita kemudian.
T
Tableau : Tablo; drama yang dipertunjukkan hanya dengan gerak-gerik tanpa dialog.
Talibun : Pantun yang selalu berbaris genap, namun jumlah barisnya lebih dari empat dan ebrirama silang, separuh bait pertama adalah sampiran, separuhnya lagi isi.
Tambo : Cerita tentang sejarah daerah yang bercampur dengan dongeng.
Tamsil : Ibarat, kiasan pendek yang bersajak dan berirama, seperti dalam pantun dan syair.
Tautologi : Majas penegasan dengan mengulang beberapa kali suatu kata dalam kalimat atau menggunakan beberapa kata yang bersinonim berturut-turut dalam sebuah kalimat.
Teater : Tempat pertunjukan drama.
Teater Modern : Teater yang setting, perwatakan, serta hokum aktingnya dilakukan dengan cara formal.
Teater Terbuka : Tempat pertunjukan terbuka, tidak menggunakan stage atau panggung.
Tema : Pokok pikiran yang dapat menjadi dasar bagi keseluruhan cerita yang hendak diciptakannya.
Tersina : Sajak 3 seuntai, sajak yang terdiri atas 3 abris dalam setiap baitnya.
Tokoh : Pemeran atau pemain drama, dsb.
Totem Pro Parte : Seluruhnya untuk sebagian. Menyebutkan keseluruhan, tetapi yang dimaksud haya sebagian saja. Misalnya: Indonesia memenangkan Liga Sepak Bola International.
Tragedi : Kisah atau peristiwa yang menyedihkan dan menyengsarakan.
Tragedi Komedi : Kisah atau peristiwa yang menyedihkan, namun dibalut dengan hal yang membahagiakan.
Trilogi : Kumpulan karangan yang terdiri atas tiga satuan yang saling berhubungan dengan tema bahasan yang sama.
Tropen : Majas yang mempergunakan kata-kata sejajar artinya. Kata-kata tersebut merupakan analogi dari kata lainnya yang bermakna mirip atau hampir semakna.
U
Umum : General; segala sesuatu yang sudah dikenal banyak orang.
Ungkapan : Kiasan tentang keadaan atau kelakuan yang dinyatakan dengan seberapa atau beberapa patah kata.
Utopi : Sesuatu yang bersifat khayal.
V
Veritisme : Gaya pertunjukan drama dengan menghilangkan unsure kepura-puraan ketika melakukan acting.
Volta : Peralihan dari oktaf menjadi sektet ( kesimpulan pada sonata ).
W
Wacana : Karangan utuh yang dibentuk oleh bahasa ayng lengkap.
Watak : Kejiwaan yang dipengaruhi segala tingkah laku dan pikiran manusia.
Wira Carita : Cerita kepahlawanan, atau cerita yang tokoh utamanya adalah seorang kesatria yang gagah berani.
X
Xenografi : Ahli membaca tulisan bahasa asing atau naskah kuno atau klasik.
Z
Zaman Sastra : Segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu dalam kaitannya dengan masalah sastra.
Malam telah tiba
Mengitari bumiku
Alam telah sunyi
Di cakrawala
Indonesia tumpah darahku
Kekayaanmu milik negara
Di sanalah aku berdiri
Tanpa sandang pangan dan papan
Indonesia tumpah darahku
Tanah sawahku direbut orang
Kepadamu harus berbakti
Maaf sibuk harus cari nasi
Tetapi sunyi itu api
Yang Menyala dan membakar bumi
Tetapi engkaulah hujan
Yang menyirami api
1.
Hatimu milikmu, kamu tuannya, mau merasa senang atau tidak, kamulah yang menentukan (PB)
2.
Ini bumi, tempat yang luas penuh kenangan. Ada sedih, ada senang, duka, suka, ketika bisa semuanya dirasakan, hati brfungsi dengan baik (PB)
3.
Bagi kami yang jelek, sudah siap kalau besok jadi cakep. Yang cakep, siap gak kalau besok jadi jelek? Enggak kan? Enggak kan? Payah! (PB)
4.
Ya inilah bumi, sebelum kita meninggalkannya. Tempatmu tumbuh, bersama yang lain, menjdi bagian dari cerita hidupmu, mudah-mudahan yang indah dikenang (PB)
5.
Jadi, Sia-sia kata-kata. Aku sedang setuju. Kita pernah senang. Harus lagi. Mari mulai (PB)
6.
Kadang-kadang aku brfikir, Tuhan sudah menjodohkan kamu denganku, ketika kau tak mau kau sudah berani menentang ketentuan-Nya dan menolak kemauanku :) (PB)
7.
Aku selalu brdoa berharap kamu mau denganku, kukira Tuhan lebih berkuasa daripada kau (PB)
8.
Kau pikir aku mmperhatikanmu? Tidak, Sayang. Aku memperhatikan lingkunganmu, barangkali ada yg akan mngganggumu, kuhajar dia (PB)
9.
Kau sangat berharga, tidak bisa mudah kudapatkan hanya dengan bilang "Aku Mencintaimu". Ya, aku tahu dan sekarang kau sudah tahu bagaimana aku kepadamu (PB)
10.
Gitarku harus keren, setidaknya untuk menutupi akunya yang tidak (PB)
11.
Sakit hati sebetulnya adalah potensi kreativitas, setidaknya dengan itu kau bisa membuat puisi (PB)
12.
Aku bingung mana yang lebih menyayangi anak-anak. Mungkin Kak Seto, tapi Syekh Puji tidak cuma bicara, dia menikahinya (PB)
13.
Jauh-jauh ke Amsterdam, yang kudapat cuma rindu Indonesia. Di Malaysia juga ada! (PB)
14.
Santai di dalam pembawaan, serius di dalam pemikiran, ya itu sangat baik (PB)
15.
Kerajaan Tuhan tak akan runtuh, bahkan ketika semua memaki-Nya (PB)
16.
Ya itu dia, ketika kamu sibuk berpikir mencari inspirasi, orang lain justeru sedang berkarya tanpa banyak pikiran (PB)
17.
Aku imigran dari sorga yg diselundupkan ke bumi oleh ayahku di kamar pengantin dan tegang (PB)
18.
Lelaki kemana pergi, mereka naik burung (PB)
19.
Tidak ada satu pun manusia yg ingin dihina, aku juga, tetapi ktika aku ingin dipuji aku mrasa sdg mnghina diriku sndiri (PB)
20.
silakan smua org mmbnciku, aku msh pny diriku yg akan mncintaiku. Silakan diriku mmbnciku, aku ttap tnang, krn itu tak mungkin (PB)
21.
Kesenangan bukan dicari, tetapi diciptakan (PB)
22.
Jika kau ingin sama dengan orang lain, tidakkah kamu merasa sedang menjalimi dirimu yang khas? (PB)
23.
Bahkan seorang pemabuk adalah guru bagiku, ketika dia teler dan nyungsep di comberan, dia mengajarkan aku untuk jangan jadi pemabuk (PB)
24.
Orang yang kau anggap istimewa, mungkin akan menjadi biasa saja setelah kau dapatkan (PB)
25.
Cinta lebih mudah dirasakan daripada harus dimengerti, itulah mungkin mengapa lebih butuh balasan daripada alasan (PB)
26.
Cinta kpd seseeorang adalah urusan perasaan, jika engkau ingin mendapatkannya, segera menjadi urusan pemikiran (PB)
27.
Seni budaya tradisional yang kini diselenggarakan orang dengan serius adalah yang dulu diciptakan orang atas dasar bermain-main (PB)
28.
Kuba tidak menerima bahasa Indonesia yang baik dan benar karena mereka tidak mengerti (PB)
29.
Kalau kamu galau, kamu sedang menikmati keresahanmu, bukan sedang menyelesaikannya (PB)
30.
Nabi Adam harusnya punya ibu untuk mengurusnya waktu bayi (PB)
31.
Mungkinkah Malin Kundang terkenal kalau tidak durhaka? (PB)
32.
Manusia tidak bisa terbang seperti burung karena bisa membuat pesawat terbang (PB)
33.
Membalas dengan tidak mengakui dia sebagai anakmu, kukira itu lebih adil daripada mengutuknya menjadi batu (PB)
34.
Jangan takut polisi, kalau tidur kita gilas (PB)
35.
Istrimu adalah wanita yang sudah bersedia dinikah olehmu (PB)
36.
Kewarganegaraan adalah urusan administrasi (PB)
37.
Di saat kunikmati, hidup ini indah. Dan langsung pusing ketika mulai kupikirkan (PB)
38.
Murid yg nyontek mungkin disebabkan oleh karena mereka merasa dirinya bukan mesin yg bisa hafal semua (PB)
39.
Kalau kau terlalu ambisius ingin berhasil, dengan sendirinya kau sedang menciptakan rasa takut mendapatkan kegagalan (PB)
40.
Kurang ajar! Selalu saja dia punya cara, untuk bisa membuat aku mencintainya. Merepotkan! (For Tera Errau) (PB)
41.
Ketika malam, semua berkumpul dalam kepala, lebih berwarna, lebih hidup. Ya. Dan rindu, menjadi sesuatu yang jauh lebih mendesak ketika bisu (PB)
42.
Aku mungkin salah, tapi bahagia ketika berkarya dengan berusaha menjauh dari prinsip-prinsip umum yang sama skali tidak mendasar (PB)
43.
Aku sering harus seperti gila untuk menjadi nyaman berkarya (PB)
44.
Untuk berkembangnya sebuah kebudayan, dibutuhkan seorang pemberontak (PB)
45.
Aku tahu aku tidak dapat mengubah kehidupan, tapi mungkin aku bisa mengubah cara pandangku terhadap kehidupan (PB)
46.
Seni itu, mungkin spt aku rindu Amsterdam, tinggal kunikmati, tanpa harus kumengerti ("Manuskrip Amsterdam") (PB)
47.
Mungkin ada org yang menulis untuk mengatakan kata hatinya, maafkan aku kalau salah, karena aku menulis untuk mndengarkan kata hatiku (PB)
48.
Aku tahu harta tak akan dibawa mati, tapi aku masih hidup, masih membutuhkannya(PB)
49.
Ikhlas membiarkan diri tenang, Pasrah membiarkan diri kalah (PB)
50.
Kebahagiaan secara teknis adalah tujuan pencapaian, tetapi jiga bisa menyebabkan kecemasan karena takut itu akan berakhir(PB)
51.
waktu kecil disuruh-suruh makan, sudah besar disuruh-suruh kerja (PB)
52.
Sederhana itu tidak perlu harus lebih untuk merasa senang dan baik-baik saja (PB)
53.
Mungkin setan juga akan menyebut "Setan" kepada orang baik yang mengganggu tujuannya (PB)
54.
Syair lagu The Panasdalam adalah suka cita kata-kata, untuk membungkus maksud yang sesungguhnya (PB)
55.
Tujuan pacaran adalah untuk putus, bisa karena menikah, bisa karena berpisah (PB)
56.
Kebutuhan akan inspirasi adalah kebutuhan pelaku seni yang masih amatir (PB)
57.
Anak itu, waktu membuatnya tegang, waktu menunggu kelahirannya juga tegang (PB)
58.
Org tampan mndekati prempuan akan berbeda hasilnya dengan orang jelek, meskipun dilakukan dengan cara yang sama (PB)
59.
Tirani Kekuasaan sering akan menyalahkan Kebenaran apabila hal itu dianggap merongrong (PB)
60.
Kau tak akan bisa sampai ke sorga tanpa kehidupan dunia ini sebagai kendaraannya (PB)
61.
Kalau Rhoma Irama begadang malam ini, pasti ada artinya. Tidak mungkin tidak, kecuali dia menasihati apa yang ia sendiri tidak melakukannya (PB)
62.
Orang yang kepadamu menjelek-jelekkan orang lain, adalah dia juga yang akan menjelek-jelekkan kamu kepada orang lain (PB)
63.
Sayangilah orang yang ada di belakangmu dalam satu antrian, krn dia pun ingin kamu segera dapat giliran (PB)
64.
Saat aku jengkel, aku akan melihat sifat buruk manusia termasuk diriku (PB)
65.
Manusia selalu ingn punya tempat khusus, bahkan hanya untuk tinjanya (PB)
66.
Ada yang lebih besar dari rasa takut, yaitu keberanian yang akan mengalahkannya (PB)
67.
Jika bukan waktunya untuk aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa menahannya (PB)
68.
Terus terang, kalau aku pulang, tempatnya di atas pelangi yg indah, Tuhan, saya masih ingin di sini menemani ibu (Puisi SMA) (PB)
69.
Aku adalah highlander, hidupku sudah 125 ribu kali, ini yang trakhir kali di bumi hanya untuk mencintaimu (PB)
70.
Ah, Bunda, siapa sih engkau? Cuma jantung di dalam hatiku (PB)
71.
Waktu akan membuatku lupa, tapi yang aku tulis akan membantu membuatku ingat (PB)
72.
Dalam setiap keliaran bawah sadarku, aku ingin yakin ada bayanganku yg selalu bersujud kepadaNya, agar terlepas dari belenggu kseombongan( PB)
73.
Kalau aku sudah pandai, aku tak akan rajin lagi, takut kembali ke awal proses untuk mencapai pangkal (PB)
74.
Kalau tujuan kuliah adalah untuk bekerja, ya setuju, bekerja menyelesaikan tugas kuliah (PB)
75.
Kalau kehidupan ini palsu, kenapa uangnya harus asli? (PB)
76.
Sahabat adalah dirimu yang kedua (PB)
77.
Aku harus pergi dulu dari rumah kalau aku ingin pulang ke rumah (PB)
78.
Ya Allah, mudah-midahan sederhana, tetapkanlah pikiran kami selalu melangit. Dan, dengan hati yang terus membumi (PB)
79.
Tetap tenang, hanya itu caranya kalau kamu ingin tetap tenang (PB)
80.
Dengan aku mengaku jelek, maka orang yang bilang aku jelek, itu bukan menghina, tetapi mendukung pernyataanku (PB)
81.
Tangan dicuci dengan air, mulut dicuci dengan pisang. Aku mlihat ada manusia yg membedakan tangan dan mulutnya dengan cara begitu setelah makan (PB)
82.
Kesalahanku adalah ketika aku merasa paling benar (PB)
83.
Lagu yang dia bikin untuk mengacu pada selera umum akan tercerabut dari kemauannya sendiri (PB)
84.
Bersatu untuk nafsu kkuasaan. Berpolitik untuk kepentingan sendiri. Berkuasa untuk meraih kenikmatan. Berkampanye untuk meraih semua itu (PB)
85.
Kau boleh kecewa ditolak cinta, tetapi disebabkan oleh karena dia tidak mendapatkan dirimu yang ingin membahagiakannya (PB)
86.
Puisi Khairil Anwar mungkin bagus, tetapi ia ada di masa lalu, hari ini adalah milikmu (PB)
87.
Kita bersaing karena kita sama (PB)
88.
Aku tidak akan membantah suatu teori jika aku berkarya bergantung pada itu (PB)
89.
Pikiran sesungguhnya bisa berperan mengubah perasaan menjadi ringan, juga sebaliknya (PB)
90.
Petani miskin bukan disebabkan oleh hama, tetapi oleh tata niaga yang tidak adil (PB)
91.
Kau akan mati, apa sebelum itu, supaya berguna saat di bumi (PB)
92.
Macan tidak tahu bahwa dirinya bernama macan (PB)
93.
Ketika kau masuk ke dalam kepalaku, kau hanyalah image yang sesungguhnya tidak lebih indah seperti yang kubayangkan (PB)
94.
Yang membuat galau bukan dirinya, tetapi penilaianmu yang berlebihan tentang dirinya (PB)
95.
Kalau ingin aman berjalan di tengah malam, kau jangan berjalan merangkak seperti seorang maling (PB)
96.
Kau, jangan ada dirinya, jika memang dia pergi meninggalkanmu (PB)
97.
Jika keberhasilan karyamu diukur dari banyaknya rating, maka kau bukan seniman, melainkan buruh seni (PB)
98.
Rindu adalah cara yang baik untuk membuat yang dirindu makin menjadi mempesona (PB)
99.
Manusia sempurna adalah justeru yang memiliki kekurangan dan kelebihan (PB)
100
Sekikir-kikirnya manusia, pasti akan memberi makan toilet (PB)
101
Katanya perbedaan itu adalah rahmat, tetapi dia sendiri menyurh siswa untuk seragam (PB)
102
Kebenaran di sekolah selalu berada di luar diri siswanya, yaitu kunci jawaban namanya (PB)
103
70 kali hatam membaca obat ramuan pengobatan, tidak akan menyembuhkan lukamu sampai engkau mempraktekannya (PB)
104
Sesungguhnya hidup ini adalah sendagurau, sekolah telah menyebabkannya menjadi serius (PB)
105
Sesungguhnya aku ini masih muda, anak-anakkulah yang telah menyebabkan aku menjadi orangtua (PB)
106
Neraka adalah tempat yang disediakan untuk mereka yang lolos dari hukuman dunia (PB)
107
Aku yang akan membenarkan koruptor, apabila dia melakukan tindakan korupsi, karena itu memang tugasnya (PB)
108
Bumi yang selama ini kau injak-injak, adalah bumi yang terus berputar, menunggu waktu yg tepat untuk menelanmu (PB)
109
The Panasdalam: Dengan musik, kami tunjukkan kelemahan kami di dalam bermain musik (PB)
110
Justeru kalau agamamu kuat, kau akan menghormati agama orang lain (PB)
112
Musik adalah perasaan yang bisa didengar (PB)
113
Aku bukan manusia sempurna, merasa tidak pantas menggunakan EYD, ejaan yang sudah disempurnakan (PB)
114
Tidak ada manusia yang suka dihina, tetapi dia yang ingin dipuji adalah menghina dirinya sendiri (PB)
115
Masa lalu adalah urusan perasaaan, masa depan adalah urusan pemikiran (PB)
116
Aku membuat band, bukan untuk terkenal, melainkan untuk bermain musik (PB)
117
Hidup kami, mati kau, Plagiator! (PB)
118
Tetap tenang, manusia adalah minitaur alam semesta, lebih luas dari cacian, lebih besar dari pujian (PB)
119
Mudah-mudahan kita kuat, sekuat kehidupan, cinta dan pemahaman. Kegagalan dan merasa sedih tidak selalu berarti kekalahan (PB)
120
Ini aku, entahlah kalau kalian, tapi tujuanku kuliah adalah agar nanti bisa reuni (PB)
121
Guru adalah masa lalu, murid-murid adalah masa depan, yang harus saling memahami (PB)
122
Pada dasarnya semua manusia itu bisa memasak, selama tujuannya untuk membuat masakan yang tidak enak (PB)
123
Kukira, aku tidak akan pernah berada di masa depan, karena nyatanya, aku selalu berada di hari ini, yang harus lebih baik dari kemarin (PB)
124
Kau pikir, aku tidak punya kata-kata buruk? Punya, tetapi tidak aku ungkapkan, karena aku bukan dirimu (PB)
125
Kalau kamu benar, jangan merasa paling benar. Aku pun kalau salah, tidak akan merasa paling salah (PB)
126
Di atas kita kini langit, di atas kita nanti tanah (PB)
127
Jangan marah-marah. Marah bikin susah. Kalau mau marah-marah, masuklah kau ke dalam tanah (PB)
128
Aku memang malas bangun pagi, tapi aku rajin bangun siang (PB)
129
Tenang saja, perpisahan tak menyedihkan, yang menyedihkan adalah, bila habis itu saling lupa (PB)
130
Aku mencintaimu, ini urusanku. Bagaimana engkau kepadaku, terserahlah, itu urusanmu (for Tera Errau) (PB)
131
Si Odah memang pembantuku, tapi aku juga pembantu si Odah, disuruhnya mencari uang untuk membayar uang bulanannya (PB)
132
Kalau bukan karena ada Barcelonanya, sudah lama tivi di rumahku akan kujual (PB)
133
Semua orang bisa menarik gas sekuat dia bisa, sampai 3000 cc, tapi yang membuat ngebut adalah nyali (PB)
134
Kita mncintai tanahair, orang asing mencintai apa yang dikandungnya. Kita mendapat tanah longsor dan air banjir, orang asing mendapat intan emas berlian (PB)
135
Laut itu luas menyenangkan, ikannya warna-warni dan bikini di tepinya, tapi aku ini ikan air tawar, ketentramanku tinggal di empang (PB)
126
Pergi keluar rumah untuk apa pun yang engkau lakukan, tujuannya adalah kembali ke kamar tidur (PB)
137
Bukan nama kampusnya yang harus kau junjung, tapi ilmu pengetahuannya yang harus kau sebarkan (PB)
138
Kemiskinan, mungkin bukan masalah bagi rakyat Indonesia, seandainya pejabatnya juga sama miskin (PB)
139
Kalau kamu ke Bandung di malam minggu atau pada waktu long week end, kamu tak akan menemukan Bandung yang sebenarnya (PB)
140
Ayam adalah binatang cerdas, dia tau bagaimana caranya masuk ke dalam rumah tanpa bisa kuusir, menyamar menjadi ayam goreng (PB)
141
Bandung bukan cuma masalah geografis, bagiku, tetapi juga melibatkan perasaan (PB)
142
Kalau karena aku bangun siang, nanti rizkiku dipatok ayam. Biarlah, nanti ayamnya kumakan juga (PB)
143
Pada awalnya cinta itu bisa melihat, menjadi buta karena masuk ke dalam hati yang paling dalam (PB)
144
Kalau Tuhan menampakkan dirinya, maka Dia tidak adil, karena orang buta tak bisa melihatNya (PB)
144
Bukan Tuhan yang harus kau cari, tapi jawaban, mengapa kau bodoh, mencari yang sudah bersamamu (PB)
145
Perempuan menyukai karena mendengar, laki-laki menyukai karena melihat (PB)
147
Tanpa nasi, hanya akan ada onalisme, tak akan ada nasionalisme (PB)
148
Jangan tanya apa yang sudah negara berikan padamu, tapi tanya apa yang sudah negara ambil darimu (PB)
159
Orang yang kau pilih waktu pemilu adalah dia yang dengan sirine polisi akan menyuruhmu minggir di jalan raya (PB)
150
Rakyat adalah mulut yang menjadi bisu karena diambil suaranya waktu pemilu (PB)
151
Jangan sedih, nanti rugi, karena kita dilahirkan oleh sebab orang tua yang bersenang-senang (PB)
Penulis : La Ode Muh Fardan
Di tengah Bangsa (terkhususnya Kota Kendari_Sulawesi Tenggara) yang sedang dirundung krisis kepercayaan dari rakyat khususnya di bidang penegakan hukum, hampir semua kalangan mengharapkan peran dari pemimpin bangsa untuk menghentikan dikotomi peran kepentingan antar sesama institusi penegak hukum.
Sebagai rakyat kecil Sulawesi Tenggara, Saya merasa sangat prihatin akan fenomena ini. Sepertinya kepemimpinan nasional saat ini sedang teruji kritis. Perlombaan peran dan kepentingan institusi penegak hukum seperti kasus cicak buaya yang dulu sempat mengemuka dan kasus lainnya, seringkali membetot emosi rakyat Indonesia. Termasuk penulis, hingga menggelitik nurani untuk curhat argumentatif akan nasib kepemimpinan bangsa ini.
Dalam suatu diskusi kecil dengan rekan Mahasiswa yang biasa dipanggil “Ode Barakati_Dani", penulis mendapat inspirasi tentang istilah pemimpin “bertangan besi” dan pemimpin dengan hati. Seketika berfikir, apakah dalam menyelesaikan suatu masalah bangsa yang begitu urgen dan berpotensi menimbulkan konflik di masyarakat harus menggunakan “tangan besi?”. Mencoba membuka beberapa referensi tentang kepemimpinan, ternyata hampir semua istilah tangan besi berkonotasi negatif.
"Namun ada satu artikel dari pakar pemerintahan UGM Prof Dr Warsito Utomo menyatakan bahwa dalam kondisi tertentu Negeri ini masih sangat membutuhkan Pemimpin yang bertangan besi dalam perspektif yang positif".
Tangan besi yang dimaksudkan di sini adalah metode pemerintahan yang sangat menjaga wibawa dan kedaulatan negara. Bukan yang menindas rakyatnya. Tetapi pemimpin yang bisa melindungi harga diri rakyatnya.
"Sulawesi Tenggara ini harus mempunyai pemimpin dengan ketegasan yang kerap dianggap tanpa konpromi atau sepihak"
Jika saat yang kritis dan seorang pemimpin harus diuji untuk mengambil keputusan maka tangan besi harus diambil saat kata sepakat tidak ada, dengan tujuan utama hanya untuk Persatuan dalam Memimpin Rakyatnya
Untuk menyelesaikan suatu konflik panjang yang berpotensi memecah belah persatuan yang saat ini terjadi di Kota Kendari, seharusnya Daerah besar Sultra ini haruslah dipimpin oleh Pemimpin yang bertangan besi. Sekali lagi, bertangan besi dalam hal ini bukan berarti kejam, tetapi keras, tegas dalam menegakkan aturan yang berlaku, taat dan patuh pada undang-undang dan konstitusi, tidak konfromi terhadap kepentingan golongan tertentu, tidak membiarkan masalah berlarut menjadi benang kusut permasalahan bangsa serta hanya memberi solusi yang mendamaikan dan mensejahterkan rakyat yang dipimpinnya.
Pada kesempatan yang sama pula, sekalipun mengambil pola “tangan besi” Pemimpin Sulawesi Tenggara, kini tetap diharapkan memimpin dengan hati. Rasanya saat ini, mencari pemimpin yang memimpin dengan hati amatlah sulit. Walau sulit, namun sebagai rakyat tetap memiliki asa yang besar agar pemimpin kita saat ini tetap memimpin dengan hati.
Walau kalangan orang yang skeptis berkata bahwa kini menemui pemimpin yang memimpin dengan hati menjadi barang yang langka, yang ada malah pemimpin yang lebih mengutamakan kekuasaan dan kekayaan dari pada melayani kepentingan rakyat. Namun, percayalah memimpin bukanlah persoalan banyaknya harta dan tingginya tahta yang didapatkan, tapi hakikat memimpin ialah memberi pelayanan yang baik terhadap kebutuhan rakyat.
Adalah prestasi luar biasa bagi pemimpin yang melayani kebutuhan rakyatnya dengan hati (pendekatan) bukan dengan penindasan (keterpaksaan). Pemimpin yang seperti itu, tentu akan membuat rakyat nyaman dan hidup tenang serta mensejahterakan yang dijadikan prioritas utama.
Sudah menjadi kewajiban jika pemimpin harus melayani rakyat dengan hati. Sebab, mereka ada karena dukungan rakyat pula. Sehingga perlu disadari bahwa tugas utama pemimpin ialah melayani, mengayomi serta menyejahterakan kehidupan rakyatnya. Karena rakyat ialah pemegang kedaulatan tertinggi sebuah negara, maka pemimpin ialah pelayan rakyat.
Konsep sederhana dikemukakan oleh Abu Bakar Asshidiq (sahabat Nabi) bahwa memimpin dengan hati itu bukan saja memimpin dengan tindak laku jasmani melainkan juga sikap hati dan jiwa (rohani). Sesuai ucapan dan perbuatan, terbukti teori dan perilaku. Ketika mengeluarkan pernyataan (ucapan) dia tak akan menyakiti hati kaum yang dipimpin, pada saat berbuat dia tak bersedia dipuji, tidak berharap imbalan dan menghitung-hitung. Kepemimpinannya memiliki pengaruh dan dampak pada perilaku kaum yang dipimpin. Dia akan disegani bukan karena kedudukannya sebagai pemimpin melainkan karena perilakunya.
Memimpin dengan hati itu tidak menjadi sombong dengan mengaku sebagai yang terbaik, paling ahli, paling pintar, paling punya pengaruh dan paling-paling lainnya. Memimpin dengan hati itu tidak ingin menjadi dan dijuluki sebagai pemimpin hanya agar manusia mengakuinya sebagai pemimpin, sebagai orang yang berkuasa memerintah, menghukum, memperkaya diri dan sebagainya. Memimpin dengan hati itu dapat dipercaya, ditaati, dan dicontoh oleh seluruh kaum yang dipimpin secara lahir batin.
Bungkarno pernah berpesan pemimpin itu harus memiliki sikap tegas tanpa diselimuti kepentingan golongan tertentu, namun tetap menggunakan hatinya sebagai petunjuk nilai kemanusiaan.
Semoga pemimpin Sultra saat ini dapat secara tegas keluar dari segala macam kepentingan dan tetap memimpin dengan hati, amiiin. Rakyat Menantimu.
Oleh : La Ode Muh Fardan
Penulis Pada Blogger Cakrawala Sultra