Tampilkan postingan dengan label Ragam Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ragam Mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Januari 2017

Antara Marxisme dan Agama

Penyusun : La Ode Muhamad Fardan °

Akhir-akhir ini kita sering mendengar mengenai isu bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia. Beragam alasan terlontar mengenai penolakan PKI, salah satunya karena dianggap ateisme (paham yang tidak percaya akan adanya Tuhan). Apakah benar komunisme yang menggunakan paham marxisme yang digagas oleh Karl Marx dan Friedrich Engels menganggap bahwa agama adalah bagian penghambat dari perubahan corak produksi?

Propaganda anti komunisme memang sedang santer terdengar, dimulai dari ciutan Felix Siauw yang mengatakan bahwa komunisme tidak suka agama, selain itu juga ada seorang Mayor Jendral (Purn) Kivlan Zen yang menantang Goenawan Muhammad karena menganggap pikirannya sudah berkarat saat membahas soal PKI (islammedia.id), dan terakhir yang paling santer adalah FPI yang menyuarakan penolakan terhadap PKI karena dianggap tidak mematuhi hukum agama. Bahkan tanpa saya sadari ternyata Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun menggunakan kalimat “Ateisme dianut oleh semua partai komunis di dunia” untuk contoh kalimat dari lema “Ateisme”. Barangkali sedikit banyak propaganda mengenai komunis (penganut ajaran marxisme) itu ateis (orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan) cukup berhasil.

Apakah tuduhan ateis yang disematkan pada partai-partai komunis berimbas juga pada ajaran marxisme? Jadi, sekali lagi apakah benar paham marxisme menolak keberadaan Tuhan? Hal pertama yang penting kita bahas adalah teori materialisme dialektika dan materialisme historis yang menjadi pokok pemikiran dari marxisme. Secara historis filsafat marxisme adalah filsafat perjuangan kelas proletariat melawan kaum borjuis untuk menumbangkan kapitalisme dan memunculkan sosialisme dari muka bumi ini.

Sebelum jauh ke sana, filsafat materialisme pada dasarnya berpandangan bahwa semua hal yang ada di bumi ini berawal dari materi, berbeda halnya dengan idealisme yang mengatakan bahwa semua hal yang berada di muka bumi ini berasal dari ide. Materialisme digunakan oleh filsafat marxisme untuk menjadi dasar filsafatnya.

Materialisme dialektika secara garis besar menyatakan bahwa semua materi yang ada di bumi ini mengalami pergerakan/dialektika, semisal batu yang ditumbuhi lumut di sungai bukan semata-mata lahir begitu saja, namun ada penyebabnya yaitu udara, air, dll. Sama halnya dengan kesadaran kelas proletariat atas penindasan yang dilakukan kaum borjuis tidak semata-mata datang begitu saja, namun disebabkan oleh materi-materi lain di bumi, semisal manusia.

Jika kita sering mendengar ungkapan bahwa sejarah adalah milik pemenang, sedangkan jika kita mengamati pada umumnya pemenang adalah orang/kelompok yang berkuasa. Marxisme lewat materialisme historis membantah sejarah kelas penguasa, semisal Napoleon Bonaparte menjadi kaisar Prancis yang menguasai hampir seluruh Eropa karena kegeniusan perangnya. Perang Dunia II terjadi karena sosok Hitler dengan pemikiran-pemikiran fasisnya, yang tertuang di buku Mein Kampf. Revolusi Oktober di Rusia adalah karena Lenin seorang dengan kemampuannya memahami Marxisme. Di dalam sejarahnya kaum penguasa, rakyat jelata tidak memainkan peran sama sekali. Mereka bukan faktor. Mereka hanya domba-domba yang mengikuti pemimpin mereka. Dan kalaupun mereka memainkan peran, hanya sebagai sekumpulan orang liar yang melakukan kerusuhan.

Materialisme Historis menjungkirbalikkan sejarah kaum penguasa, bahwa rakyat jelatalah aktor utama di dalam perubahan sejarah. Kalaupun ada figur-figur pemimpin, ia tidak lain adalah pengejawantahan dari kelas-kelas yang ada di dalam masyarakat. Materialisme Historis tidak menyangkal peran individu di dalam sejarah, tetapi meletakkannya dalam konteks kondisi masyarakat yang ada saat itu, dalam hubungannya yang dialektis.

Materialisme dialektik dan materialisme historis memang membicarakan materi sebagai dasarnya, alasannya sifat materi yang bisa diukur, dirasa, diraba oleh alat indra manusia. Kata kunci dari materialisme adalah dapat diukur oleh indra, sedangkan Tuhan tidak bisa diukur oleh indra, hanya bisa diyakini oleh setiap orang. Ranah kajian ada pada marxisme tidak sampai pada Tuhan yang sifatnya bukan materi. Penulis rasa tidak bijak jika kita menganggap ajaran marxisme sebagai ajaran yang anti Tuhan semata-mata hanya karena tidak menyentuh ranah Tuhan dalam kajiannya.

 

Menawarkan Keadilan

Permasalahan ketidakadilan merupakan permasalahan yang harus diselesaikan oleh setiap agama, begitu pula marxisme yang menentang keras ketidakadilan. Semisal ketika kita sering mendengar mengenai riwayat nabi Musa yang melawan kejahatan yang dilakukan oleh Fir’aun dan kemudian lewat kuasa Allah, nabi Musa menenggelamkan Fir’aun berserta bala tentaranya di sungai Nil. Marxisme memandang hal tersebut juga sebagai bentuk ketidakadilan, dapat digambarkan secara historis masa tersebut adalah masa perbudakan di Mesir. Raja Fir’aun selain menganggap dirinya sebagai Tuhan, dia juga melakukan eksploitasi terhadap budak-budak di Mesir.

Menurut penulis perbedaannya hanya pada tataran sosok yang muncul pada cerita nabi Musa tersebut, marxisme menganggap sosok merupakan wujud representasi yang muncul dari kelompok kelas, bukan berarti hanya satu orang (nabi Musa) saja yang melakukan perjuangan meruntuhkan ketidakadilan di Mesir, namun juga didukung oleh kaum budak pada masa itu.

Contoh lain di Indonesia misalnya PKI yang menganut ajaran marxisme yang menjadi momok saat ini karena dianggap anggotanya adalah ateis, secara sejarah menjelaskan hal tersebut adalah salah besar. Tidak heran dalam sejarah pergerakan negara Indonesia pun kita menemukan nama-nama tokoh-tokoh komunis seperti, Haji Misbach, Tan Malaka, Alimin, yang menegaskan keberpihakan nilai-nilai agama Islam dalam arena perjuangkan kemerdekaan negara Indonesia.

Lain halnya dengan paham marxisme yang menjelaskan mengenai teori pencurian nilai lebih yang dilakukan oleh kaum borjuis kepada kaum proletariat merupakan bentuk ketidakadilan. Penulis rasa sama dengan ajaran Islam, bahwa mengambil sesuatu yang bukan hak merupakan perbuatan dosa.

Lalu bagaimana dengan pernyataan Marx bahwa agama itu candu? Penulis rasa dalam memahami sesuatu harus dipahami pula konteksnya. Pada masa itu Karl Marx mengatakan hal tersebut karena memang dogma-dogma agama dijadikan alat untuk melegitimasi aturan-aturan yang menindas rakyat. Saat ini pun menurut penulis masih sama, rakyat masih terlena oleh logika mistika yang membuat rakyat pasrah akan keadaan. Ini pula yang ditolak oleh ajaran marxisme. Semisal ceramah ustaz yang mengatakan “Kamu miskin? Hidup kamu susah terus? Ya, itu karena kamu sedang diuji oleh Allah SWT. Perbanyaklah doa.” atau ceramah-ceramah Mario Teguh yang terlalu banyak berandai-andai dalam menyelesaikan masalah. Bukankah di Islam pun dalam salah satu ayat di Al-Quran menjelaskan bahwa Allah tidak akan pernah mengubah kondisi suatu kaum jika kaum tersebut tidak berusaha mengubahnya.

Jika kita kontekskan dengan masalah di Indonesia, ketika Riau mengalami bencana kabut asap, beberapa umat Islam banyak yang melakukan salat gaib untuk meminta hujan dan menghentikan kebakaran. Hal tersebut menurut penulis tidak salah, namun yang harus digarisbawahi permasalahan kebakaran hutan di Riau bukan semata-mata kehendak Allah melainkan ada materi yang menyebabkan. Korporasi kelapa sawit yang menginginkan penggunaan lahan di sanalah yang menyebabkan hal itu. Lalu kenapa kita terus meminta keajaiban yang diberikan oleh Tuhan namun tidak mencoba mengadili pelaku pembakaran hutan tersebut? Hal yang perlu diingat pula Tuhan sebagai “Prima Causa”, penyebab segala sesuatu di dunia ini terjadi. Tetapi harus diingat pula, terdapat “Secondary Causa” yang juga turut serta menciptakan permasalahan di bumi ini.

Jadi dapat penulis katakan agama (Islam) dengan marxisme punya kesamaan filosofis yaitu pembelaan terhadap kaum tertindas, barangkali yang membedakannya nanti hanya setelah kaum tertindas terbebas dari penindasan. Dalam perjuangan marxisme berbasiskan hubungan relasi produksi, sedangkan agama (Islam) berbasiskan wahyu Tuhan.


#LMF

Jumat, 28 Oktober 2016

Kisah yang Bermanfaat

Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"

Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia.


kisah inspirasi
Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.

Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: "Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!" amiiinnn


Kisah Inspirasi Buat Kita Semua... Terutama Buat Diri sang Penulis

Sabtu, 22 Oktober 2016

Tuhanpun Berbagi

Sedang Tuhanpun Berbagi _ Creative By : La Ode Muhamad Fardan

Sejauh saya mengerti, yang menjadi pokok soal dalam Islam ialah bagaimana kekayaan diperoleh dan bagaimana derita kemiskinan sampai diperoleh. Yang diajarkan oleh Islam bukanlah 'kaya' atau 'miskin', melainkan sikap terhadap kekayaan dan kemiskinan. Termasuk juga sikap terhadap kemunkaran sistem yang mengatur adil tidaknya harta a-lam ini dibagi kepada manusia. Sikap tersebut tak lain adalah bagian dari spiritualitas. Bagian lain dari spiritualitas ialah panggraita, meraba lebih dalam terhadap ada tidaknya nasib. Lihatlah kartu domino. Kartu-kartu sudah tertentu. Berbagai kernungkinan permainan juga bisa dipelajari. Namun persoalan pembagian kartu, kapasitas manusia hanya mengocoknya. Silahkan lakukan seratus atau seribu kocokan, tapi Anda tidak bisa menentukan apa dan bagaimana kartu Anda. Anda tidak bisa menjamin bahwa Anda akan bebas clan balak-6. Ada faktor X, peranan lain di Mar diri manusia yang dikandung oleh permainan domino. Atau sepakbola. Silahkan bikin coaching yang canggili. Dad ketrampilan individu sampai pola permaman. Namun coba gambarlah garis larinya bola selama 90 menit. Anda sama sekali tidak akan pemah bisa merancang bagaimana gambar itu. Di saat lain Anda hanya bilang 'bola itu bundar". Ada faktor X, peranan lain di luar diri manusia yang dikandung oleh permainan sepakbola. Tentu saja tidak analog bahwa sistem perekonomian yang kita anut dewasa ini sama dengan kocokan domino. Namun yang penting peranan manusia itu terbatas sampai titik tertentu. Kita tidak bisa menjamin 100% bahwa besok pagi kita masih hidup. Sekian persen jaminan itu tidak berada ditangan kita. Kita hanya bisa mengusahakan kesehatan dan ketertiban hidup, namun bukan penolakan atas maut seperti yang kita rindukan setiap hari. Di sisi kita, Allah berbagi. Allah menentukan batas fungsiNya sendiri dalam kehidupan manusia. Kehidupan jangan diserahkan 100% kepadaNya, jangan pula 100% pada diri kita sendiri. Namun itu persoalannya yang bikin hidup kita mudah karib dengan tuyul.


Creative By : La Ode Muhamad Fardan

Kamis, 28 Juli 2016

Empat Makhluk Penyebab Skripsi Macet (Dilangsir dari Komik Mahasiswa)

Sebenernya ada jutaan hal yang bisa bikin skripsi macet. Gue nggak mungkin nyebutin semuanya. Selain karena gue belum mengasuransikan jari tangan gue yang berpotensi putus tanpa gue sadarin waktu ngetik, penyebab macetnya skripsipun sebenernya kita sendiri yang membuatnya. 
Ketika hal yang nggak penting menjadi penting. Fenomena Skripsi.

Berikut 4 Makhluk Penyebab Skripsi Macet
1. Temen



Mau temen baik, temen sejurusan, temen tapi mesra, temenin aku dong, dan lain-lain. Hal yang selalu bikin kita lemah apalagi kalau bukan ajakan yang universal dan bisa dimengerti setiap suku di Indonesia ini yaitu "Main yuk". Mungkin kalau diibaratkan pas lo ngerjain skripsi ini kayak ketika lo sedang disuruh nyebrang jurang meniti tali setipis tali beha, lalu tiba-tiba seorang temen menawarkan sebuah pilihan "Mau numpang helikopter gue?" . Yak, pilihan yang sulit... TENTU AJA MUDAH BANGET BLOK. Orang habis ditabrak bis pun udah tahu bakal ambil pilihan mana dan dengan alasan yang klasik. "Duh kalau nolak dikira nggak asik nih". Oke. Fine. Skor temen lo 1 dan skor lo 0 besar yang berisi harapan skripsi lo bakal kelar sendiri habis lo pulang dari main tiada henti.
Tips: 
-Pura-pura sakit (kalau dibawa ke UGD, bilang udah enakan tapi masih ngidam steak)
-Pura-pura kere (Kalau dibayarin, ya terima aja sih)
-Pura-pura pergi ama pacar (checkin aja di path random sama lawan jenis asal yang avatarnya oke)

2. Pacar

Gue udah bersumpah dari dulu. Kalau punya pacar yang ngasih gue pertanyaan, "Kamu pilih aku apa skripsi kamu?" Gue bakalan jawab. "SAYANG , KAMU CANTIK CANTIK KOK SUKA LUPA SIH, LUPA NINGGALIN OTAK DI RUMAH" Lagian, geblek banget cemburu sama skripsi. Tapi emang bener sih, susah banget kalau pacar udah ngajakin main pas kita lagi pengen serius skripsian. Sebenernya nggak jauh beda sama temen, cuma pilihan ini lebih susah ditolak, kalau diibaratin kayak lo disuruh milih mau ditabrak pake bis atau dipeluk cewek cantik sambil naik bis. Gitu doang sih.
Tips: 
-Ngerjain skripsi di cafe sambil pegangan tangan (lah yang ngetik siapa?)
-Kasih pengertian ke pacar kamu "Sayang, kalau kamu aku nggak lulus-lulus, nanti kalau aku ketemu maba yang lebih cantik daripada kamu gimana?" dijamin pacar kamu berhenti ngajakin main sekaligus...............menampar.
3. Dosen

Gue nggak mau ngomong banyak. Ini sebenernya tergantung lo aja sih. Ada yang udah enak-enak dapet dosen asyik, tapi kepetnya malah dikasih ati minta jantung. Dosennya udah enak banget, ngerjain skripsinya kayak bekicot disuruh jalan pelan-pelan. Ada juga yang udah onfire banget, malah dapet dosen pembimbing yang disinyalir mengalami PMS 3 jam sekali. Kadang kita emang lupa bersyukur kalau hidup kita itu udah enak banget.
Tips: 
-Banyak-banyak berdoa dan membawa sesajen kepada dosen.
-Banyak-banyak main ke rumah dosen
4. Film

 
Film konon adalah olahraga yang sedang diusulkan di cabang atletik olimpiade 2016 besok. Maraton Film. Film Membuat moto hidup gue menjadi gabungan dari makna skripsian dan menonton film. "BAHAGIA DAN SUSAH ITU HARUS IMBANG : 1 JAM SKRIPSI DIBALAS 6 JAM NONTON FILM DOWNLOADAN". Mungkin kalau Mario Teguh tahu moto hidup gue kayak gitu, dia bakal dateng langsung di kamar sambil ngomong "Get a life son". Selain itu frekuensi gue ke bioskop berubah total selama skripsi dari penonton XXI jadi "Ini orang pegawai XXI apa ya kok gue lihat terus di bioskop?". Oh, kalau di akhirat nanti Tuhan nanya ke gue "Apa yang kamu perbuat semasa hidupmu?" mungkin gue nggak bakal jawab tapi bakal nanya "Warnet di surga koleksi filmnya lengkap nggak?"
Tips: 
(ON PROGRESS)
Kalau gue udah nemu solusinya gue kasih tahu. Sementara masih belum nemu.

Masih banyak lagi penyebab kemacetan skripsi yang bakalan lo temuin, masalahnya cuma bisa diselesaikan sama diri lo sendiri.

Rabu, 18 Mei 2016

Pena Intelektual untuk Para Koruptor

Cretive L40De M F4rd4N

Di Hari Libur, Sangat indah menikmati waktu istirahat Bersama segelas kopi hitam dan sebatang rokok yang baru saja ku bakar, dan hal inilah yang dapat membuatku Menghayalkan sebuah Kisah Perjuangan Hidup, , ,
Begini Kisahnya,,,
“Di zaman dahulu kala terdapatlah makhluk yang bernama KEBUDAYAAN BARAT.
Pada masa itu tak ada barang di muka bumi ini yang dikutuk orang melebihi kebudayaan barat sehingga ia dianggap sedikit saja lebih baik dariANJING KURAP.
Pada masa itu pula tak ada sesuatu pun dalam kehidupan yang DIPUJA orang melebihiKEBUDAYAAN BARAT sehingga TERKADANG IA MELEBIHI TUHAN.”
Kaum Muslim pada waktu itu sedang mencapai puncak semangatnya untuk memperjuangkan agamanya, menemukan identitas dan bentukan kebudayaannya sendiri, Maka dipandanglahKEBUDAYAAN BARAT itu oleh mereka Dengan Penuh Rasa Najis, serta Dipakailah Barang-Barang Kebudayaan Barat itu Dengan Penuh Rasa Sayang Dan Kebanggan.
Pada waktu itu Kaum Muslim mempertentangkanISLAM dengan KEBUDAYAAN BARAT sepertiMempertentangkan Cahaya dengan Kegelapan atauMalaikat dengan Setan.
Padahal sampai batas tertentu, para pelakuKEBUDAYAAN BARAT itu sendirilah yang dengan ketekunan amat tinggi MELAKSANAKAN AJARAN ISLAM.
Tak ada yang melebihi mereka dalam melaksanakan kewajiban IQRA’, meskipun kemudian disusul oleh sebagian bangsa-bangsa tetangganya.
Tak ada yang melebihi mereka dalam kesungguhan Menggali Rahasia Ilmu dan Mengungkap Kemampuan-Kemampuan Alam.
Mereka telah membawa seluruh umat manusia memasuki keajaiban demi keajaiban. Mereka mengantarkan manusia untuk mencapai jarak tertentu dalam waktu satu jam sesudah pada abad sebelumnya mereka memerlukan perjalanan berbulan-bulan lamanya. Mereka mempersembahkan kepada telinga dan mata manusia berita dan pemandangan dari balik dunia yang berlangsung saat itu juga. Mereka telah memberi suluh kepada pengetahuan manusia untuk mengetahui yang lebih besar dari galaksi serta yang sejuta kali lebih lembut dari debu.
Akhirnya timbul sebuah Pertanyaan,,,
“Apakah Mereka Dimuliakan Allah ?Jawabanya pasti “Benar”,,,
Namun, Apabila mereka meletakkan hasil IQRA’itu di dalam kerangka Bismi Rabbika-Lladzi Khalaq, & Seandainya saja mereka mempersembahkan ilmu dan teknologi itu untuk menciptakan tata hidup yang menyembah Allah, Serta Seandainya saja Mereka merekayasa kedahsyatan itu tidak untuk penekanan dalam Politik, Pemerasan Dalam Ekonomi, Sakit Jiwa Dalam Kebudayaan, serta Kemudian Kebuntuan Dan Keterpencilan Dalam Peradaban.”
“Jadi, rupanya Apa yang mereka lakukan?”
Hasil dari fakta yang ada,“Mereka Memelihara peperangan, mendirikan berhala yang tak mereka ketahui sebagai berhala, menumpuk barang-barang yang sesungguhnya tak mereka perlukan, pura-pura menyembah tuhan dan bersenggama dengan binatang.”
“Anjing Kurap,,,!!!” Demikian sebagian dari Kaum Muslim, memaki-maki Mereka, tapi kebanyakan dari Kaum Muslim itu bergabung menjadi pelaku dari pembangunan yang mengarah kepada kebudayaan yang semacam itu.”
Mereka Itulah yang saat ini sering kita disebut“Munafik !!Tidak jauh berbeda bahwa seperti kita inilah sebagian dari Kaum Muslim di masa itu. Darisekian cakrawala ilmu anugerah Allah Kita hanya mengembangkan satu saja, yakni Kemampuan Untuk Mengutuk Dan Menghardik.
“Tetapi kemudian karena tak ada sesuatu pun yang berubah oleh kutukan dan hardikan, maka para kaum muslimin itupun pergi memencilkan diri:
Melarikan diri ke dalam hutan sunyi, mendirikan kampung-kampung sendiri – di pelosok belantara atau di dalam relung kejiwaan mereka sendiri.
Mereka menjadi bala tentara yang lari terbirit-birit meninggalkan medan untuk menciptakan dunianya sendiri.
Mereka ini mungkin kita pandang Kerdil,
tetapi sesungguhnya itu masih lebih baik dibandingkan kebanyakan orang lain yang selalu berteriak sinis ‘Kalian sok suci!’ atau ‘Kami tak mau munafik!’
Sementara yang mereka lakukan sungguh-sungguh adalah Kekufuran Perilaku Dan Pilihan.
Namun demikian tetaplah Allah Mahabesar dan Maha adil, karena tetap pula di antara kedua kaum itu dikehendakiNya hamba-hamba yang mencoba Merintis Perlawanan di tengah medan perang.
Mereka menatap ketertinggalan mereka dengan mata jernih.
Mereka Ber-IQRA’, Membaca Keadaan, Menggali dan Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Kesanggupan Mengolah Sejarah, sambil diletakkannya semua itu dalam Bismi Rabbi. Ilmu Ditimba Dengan Kesadaran Dan Ketakjuban Ilahiah. Teknologi Ditaruh Sebagai Batu-Bata Kebudayaan Yang Bersujud Kepada Allah.”
“Maka lahirlah makhluk baru di dalam diri Kaum Muslim, yaitu “Gerakan intelektual. Orang dari luar menyebutnya Intelektualisme-Transendental,Intelektualisme-Religius, atau GERAKAN INTELEKTUAL ISLAM meskipun Kaum Muslim sendiri menyebutnya Gerakan Intelektual  – itu saja – sebab Intelektualitas dan Intelektualisme Islam pastilah Religius dan Transendental.“
“Itu IQRA’ namanya. Gerakan IQRA’, yang ketika sesudah dilakukan oleh Muhammad dan kemudian para ilmuwan Islam, Akhirnya kita ketahui Menjadi Sumber PengembanganKEBUDAYAAN BARAT.”
“Akan tetapi mereka, Kaum Muslim itu, – kata Tuhan – adalah orang-orang yang berselimut.Mudatstsirun.
Orang-orang yang hidupnya diselimuti oleh berbagai kekuatan tak Bismi Rabbi dari luar dan dari dalam diri mereka sendiri.
Selimut itu membuat tubuh mereka terbungkus dan tak leluasa, membuat kaki dan tangan mereka sukar bergerak, serta membuat hidung mereka tak bisa bernafas dengan lega.”
“Kepada manusia dalam keadaan terselimut itulah Allah berfirman QUM! Berdirilah.
Tegaklah. Mandirilah. Lepaskan diri dari ketergantungan dan ketertindihan. Untuk tiba ke tahap mandiri, seseorang harus keluar terlebih dahulu dari selimut. Ia tak akan bisa berdiri sendiri bila terus saja membiarkan diri terbungkus kaki tangannya serta terbungkam mulutnya.”
Firman berikutnya adalah Fa-Andzir! Berilah Peringatan. Lontarkan Kritik, Teguran, Saran, Anjuran. Ciptakan kekuatan untuk mengontrol segala sesuatu yang wajib dikontrol.
Tapi Harus Ingat…!!! Syarat untuk sanggup memberi peringatan ialah Kemampuan Untuk MANDIRI. Syarat Untuk Mandiri ialah Terlebih Dahulu Keluar Dari Selimut.
Namun pada masa itu, betapa banyak nenek moyang kita yang tak memperhatikan syarat ini.“Mereka melawan kekuasaan padahal belum bisa berdiri tegak. Mereka mencoba berdiri padahal masih terbungkus dalam selimut … “.
============================================>>>>>>>>
Tanpa aku sadari Aku tertawa sendiri dan menghisap Rokok yang Apinya mati,,,!!!
Akhirnya aku Sadar kembali, Ternyata Kisah dalam renungan kesendirian ini adalah sebuah kisah yang berasal dari buku-buku kuliahku, yang baru saja aku baca tadi malam”  Hahahahahaha….hahahahhahaa….hahahaha…..                                                               
                  ***L40De M F ***

Selasa, 17 Mei 2016

Perang Ekonomi Dunia

Catatan ini dipublikasikan dari Buku Jurnal Kiri (Penerbit: Neuron)

Ditulis pada blogger : fardan ode

Para delegasi dan tamu-tamu yang terhormat,

Mungkin, setelah anda membuat dan mengadopsi resolusi yang demikian cerdiknya—sehubungan dengan perang ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba—tanpa kami minta, maka akan lebih baik bila kami mengatkan: saudara-saudaraku tersayang.

Memang, aku begitu terkesan dengan pidato-pidato yang telah kita dengar bersama pada hari ini. Selama berjam-jam, aku mencatat semua ide-ide pokok yang diungkapkan oleh para kepala negara dan pemerintahan, oleh para wakil presiden dan para pejabat tinggi lainnya dalam kesempatan ini.

Aku pernah menghadiri banyak pertemuan tingkat tinggi para kepala negara dan pemerintahan namun, tak seperti sebelumnya, aku kini melihat betapa besarnya kepercayaan diri dalam opini pimpinan-pimpinan negeri-negeri Dunia Ketiga. Hal tersebut menunjukkan dual hal.

Pertama: bakat, kejernihan berpikir, kemampuan untuk menjabarkan dan mengkomunikasikan ide-ide, serta akumulasi pengalaman pimpinan-pimpinan negeri kita selama 40 tahun—sejak kelahiran Gerakan Non-Blok, kemudian kelompok 77, yang perwakilannya banyak hadir di sini—telah menghasilkan kemerdekaan, dan kita banyak saling-dukung sebagai negara yang bebas dan sebagai gerakan pembebasan.

Kedua: kegilaan krisis yang dihadapi negeri-negeri kita—yang sedang berupaya untuk berkembang, yang ternyata malahan mengalami ketidakadilan dan diskriminasi.

Para peserta pertemuan ini telah melaporkan, satu demi satu, ketidakadilan dan malapetaka yang mewabah pada bangsa-bangsa kita dan, itu semua, merupakan bahan yang tak habis-habisnya yang menuntut kepedulian kita semua.

Setiap pembicara menyebutkan tentang tragedi hutang yang, dalam berbagai cara, menghambat segenap sumber daya kita untuk melaksanakan pembangunan sosial dan ekonomi.

Secara praktis, terdapat kesepakatan bulat (di kalangan peserta) bahwa manfaat globalisasi hanya dinikmati oleh 20% penduduk dunia saja, dengan mengorbankan kesejahteraan 80% penduduk lainnya, sehingga jurang antara negeri-negeri kaya dengan dunia yang tersingkirkan menjadi semakin dalam dan lebar.

Terdapat juga kesepakatan (bulat) pendekatan: bahwa PBB dan sistim keuangan internasional harus ditransformasikan.

Melalui satu atau lain cara, setiap delegasi mengungkapkan pandangan bahwa perdagangan yang tak seimbang dan tak adil telah menghancurkan penghasilan ekspor Dunia Ketiga karena terdapat hambatan tarif dan non-tarif dan, dengan demikian, mempersulit kita untuk mendapatkan penghasilan minimum yang dibutuhkan untuk membayar hutang serta melaksanakan pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.

Yang juga diterima secara bulat adalah keluhan bahwa perkembangan teknik dan ilmu-pengetahuan belakangan ini dimonopoli oleh kelompok-kelompok negeri-negeri maju (yang memperoleh keistimewaan), yang tetap tak bisa kita sentuh—mereka lah yang mengendalikan pusat-pusat penelitian, memegang hampir 100% hak paten, dan semakin lama semakin menghalangi akses kita untuk menguasai keterampilan dan teknologi. Sedikit sekali pimpinan-pimpinan negeri-negeri Selatan mempertimbangkan hal tersebut untuk mengingatkan kita tentang—sesuatu yang jarang disebutkan dalam manual kebijakan-kebijakan dan ekonomi neoliberal—: pencurian yang tak tahu malu terhadap pemikiran-pemikiran yang paling berkualitas dari negeri-negeri dunia Ketiga. Negeri-negeri Utara merampasnya karena negeri-negeri Selatan tak mampu menyediakan pusat-pusat penelitian yang cukup banyak, dan mereka menawarkan gaji yang lebih rendah untuk membayar pemikiran-pemikiran tersebut, bahkan tak mengeluarkan sesen pun untuk memberikan pelatihan pada mereka. Sebagai tambahan, banyak pemuda terkemuka negeri-negeri Dunia Ketiga, yang belajar di berbagai universitas negeri-negeri bekas penjajah dan maju, tak kembali ke negeri asalnya setelah mereka lulus.

Banyak pemimpin dunia kita ini menggunakan berbagai perhitungan dan statistik, yang luarbiasa banyaknya, untuk mengungkapkan keseluruhan akumulasi kewajiban-kewajiban keuangan, dan penghinaan brutal terhadap, lusinan negeri-negeri termiskin, padahal hanya sekitar empat negeri saja yang  menjadi target pemulihan seadanya. Negeri-negeri Dunia Ketiga berteriak-teriak agar negeri-negeri maju mempertimbangkan pengurangan hutang seandainya tak bisa dihapuskan samasekali, yang dianggap sebagai keadilan dan persamaan bagi rakyat yang sudah berkali-kali membayar hutangnya selama berabad-abad yang lalu bahkan sampai sekarang.

Banyak kolega kita yang telah menyampaikan persoalan tentang kebutuhan untuk menetapkan kewajiban fiskal pada berbagai aktivitas guna membiayai pembangunan.

Kuba tetap mempertahankan—dan akan terus mempertahankannya—bahwa pajak 1% bagi semua operasi spekulatif akan mencukupi biaya pembangunan Dunia Ketiga. Tak peduli pada pendapat yang mengatakan bahwa hal tersebut tidak lah mungkin.  Sumberdaya-sumberdaya teknik dan pengetahuan yang sekarang tersedia akan menyempurnakan kemungkinan tersebut.

Ketika seseorang mendengar beberapa partisipan dalam pertemuan ini menggambarkan bahwa masih terdapat milyaran orang yang menerima kurang dari $2, kurang dari $1 atau hanya beberapa sen saja untuk mempertahankan hidupnya, mugkin orang akan percaya bahwa planet kita ini kekuarangan atau tipis rasa kemanusiaannya. Tak seorang pun yang bisa membayangkan bahwa, setelah abad revolusi kebebasan, persamaan dan persaudaraan (liberty, equality, fraternity), lebih dari 200 tahun yang lalu, yakni abad percepatan industrialisasi yang diikuti oleh penemuan-penemuan dalam bidang komunikasi, lmu-pengetahuan dan produktivitas tenaga kerja—yang sedang mendekati ajalnya—kita malahan mendiskusikan tentang ratusan juta orang yang kelaparan, kekuarangan gizi, buta huruf, pengangguran dan penyakitan, belum lagi jumlah besar-besaran anak-anak yang sulit tumbuh (pendek-pendek) dan kekuarangan berat badan dalam masa pertumbuhannya, yang tak memiliki akses pada pendidikan dan perawatan kesehatan, atau yang terpaksa bekerja dalam kondisi kerja yang kejam dan berupah rendah, apalagi bila kita sebutkan tentang tingkat kematian bayi yang kadang-kadang 20 kali lebih tinggi ketimbang di bangsa-bangsa makmur. Itu lah hak-hak azasi manusia yang disediakan bagi kita.

Lekat dalam ingatan kita, sebagai sebuah simbol dari era kita, gambaran tentang 36 juta manusia di dunia yang terinfeksi AIDS, yang 26 juta di antarnya tinggal di benua Afrika, sebagaimana yang diindikasikan oleh Sekretaris Jenderal PBB; perawatan medis bagi mereka membutuhkan $10.000 per orang per tahun. Dan, dalam 12 bulan ke depan, enam juta manusia lainnya akan terinfeksi, sehingga akan memberikan tambahan jumlah yang mengerikan.

Mengapa semua itu terjadi? Berapa lama semuanya akan berlalu?

Melalui berbagai cara, secara praktis setiap orang yang hadir di sini telah mengungkapkan harapannya pada pertemuan tingkat tinggi para kepala negara dan para kepala pemerintahan ini.

Tak pernah terjadi sebelumnya, aku melihat keprihatinan dan kesadaran seperti itu. Dan mari lah kita semuanya sadar akan kekuatan kita bila kita bergabung, sebagaimana kita pun sadar akan kecupetan dan penderitaan yang kita alami.

Mungkin, di masa yang akan datang, orang akan berbicara dalam kerangka sebelum atau sesudah Pertemuan Tingkat Tinggi Negeri-negeri Selatan ini. Terserah, semuanya tergantung pada kita apakah mau mewujudkannya.

Orang biasanya berbicara tentang apartheid di Afrika. Sekarang ini, yang harus kita bicarakan adalah tentang apartheid di seluruh dunia—lebih dari empat milyar manusia dicabut sebagian besar hak-hak dasarnya sebagai manusia: hak untuk hidup, hak untuk memperoleh perawatan kesehatan, hak untuk untuk mengenyam pendidikan, hak untuk menikmati air bersih, hak untuk mendapatkan makanan, perumahan, pekerjaan, harapan bagi masa depannya beserta anak-anak mereka.

Dengan tingkat yang sedang kita jalani, di masa yang akan datang kita akan kehilangan bahkan udara yang kita hirup ini, semakin teracuni limbah masyarakat konsumen, yang semakin mencemari unsur-unsur yang sangat berguna bagi kehidupan dan semakin menghancurkan habitat manusia. Keruskan alam, sebagaimana yang terjadi di Amerika Tengah, Venezuela, Mozambiçue dan berbagai negeri lainnya—hampir semua negeri Dunia Ketiga—dan dalam jangka watu kurang dari 18 bulan, benar-benar mengagetkan dan belum pernah terjadi sebelum abad ke-20 ini. Semua itu telah menelan korban ribuan jiwa. Itu lah konsekwensi perubahan iklim dan perusakan alam, yang tanggung jawabnya tidak bisa ditimpakan pada kita semua yang hadir di sini, yang bukan saja sedang berjuang demi standar-standar universal keadilan, tapi juga sedang menyelamatkan hidup kita di planet ini.

Dunia negeri-negeri makmur, yang seakan-akan acuh-tak-acuh pada perbudakan, kolonialisme, penghisapan brutal dan perampokan pada negeri-negeri kita (sebagai subyeknya) selama berabad-abad, merupakan penyebab dari keterbelakangan dan kemiskinan yang kita derita. Mereka melihat kita sebagai bangsa-bangsa yang rendah. Mereka membebankan kemiskinan yang kita derita pada ketidakmampuan orang-orang Afrika, Asia, Karibia dan Amerika Latin—yakni, pada orang-orang berkulit hitam dan berkulit kuning, pada suku anak-dalam dan pada orang-orang campuran—untuk mencapai tingkat pembangunan yang tinggi, atau bahkan menyalahkan ketidakmampuan kita memerintah diri sendiri. Mereka berbicara tentang cacat-cacat kita seolah-olah bukan mereka sendiri yang menyuburkan gagasan-gagasan jahat—penjajahan dan penghisapan—dalam diri nenek moyang kita yang masih bersih.

Mereka juga seakan-akan acuh-tak-acuh, seakan-akan tak ingat, bahwa yang namanya Eropa dahulunya dipenuhi oleh (yang oleh kekaisaran Roma disebut sebagai) orang-orang barbar, padahal peradaban sudah berkembang di Cina, di India, di Timur Jauh, di Timur Tengah, di Afrika Utara dan di Afrika Tengah, mereka sudah mampu menciptakan apa yang sekarang disebut sebagai keajaiban dunia, dan mereka juga sudah mampu mengembangkan bahasa-bahasa tertulis, sebelum orang-orang Yunanti belajar membaca dan sastrawan Homer menulis The Iliad. Dalam lingkup kita, peradaban-peradaban Indian Maya dan pra-Inca sudah mampu mencapai pengetahuan yang sampai hari ini masih terus mengejutkan dunia.

Aku yakin benar bahwa tatanan ekonomi sekarang ini, yang dipaksakan oleh negeri negeri maju, tidak saja kejam, tidak adil, tidak manusiawi dan bertentangan dengan hukum keniscayaan sejarah, akan tetapi juga, secara inheren, rasis. Tatanan seperti itu mencerminkan konsepsi-konsepsi rasis sebagaimana layaknya diilhami oleh pembantaian dan kamp-kamp konsentrasi Nazi yang pernah terjadi di Eropa dan, saat ini, tercermin juga dari apa yang disebut sebagai kamp-kamp pengungsi Dunia Ketiga—yang, pada kenyataannya, sedang mengkonsentrasikan korban-korban kemiskinan, kelaparan dan kekerasan. Konsep rasis itu pula yang mengilhami sistim apartheid yang mengerikan di Afrika.

Pada pertemuan tingkat tinggi para kepala negara dan para kepala pemerintahan ini, refleksi kita ditujukan demi membangun kesatuan, akumulasian kekuatan, strategi, taktik dan alat-alat untuk mengkoordinasikan serta membimbing upaya-upaya kita guna bisa menjamin bahwa hak hak vital ekonomi kita diakui. Tetapi, pertemuan tingkat tinggi ini juga merefleksikan kewajiban kita untuk memperjuangkan harga diri kita, kebudayaan kita dan hak kita agar diperlakukan secara adil.

Dalam cara yang sama, dalam jarak waktu yang tak terlalu lama, kita telah berhasil mengalahkan kolonialisme dan mencapai status sebagai negeri-negeri merdeka dan, baru-baru ini,  kita juga telah berhasil menghancurkan sistim fasis dan apartheid yang keji itu melalui perjuangan bersama Dunia Ketiga untuk mendukung para pejuang heroik Afrika Selatan. Dengan demikian, kita bisa menunjukkan pada siapa pun bahwa kita bukan lah bangsa yang rendah karena memiliki kapasitas juang, keberanian, bakat dan kebajikan.

Kita sedang memperjuangkan hak hak kita yang paling suci, hak-hak negeri-negeri miskin; selain itu, kita juga sedang berjuang untuk menyelamatkan Dunia Pertama yang tak mampu mempertahankan eksistensi spesies manusia, tak mampu memerintah dirinya sendiri di tengah-tengah kontradiksi-kontradiksi, kepentingan-untuk-menang sendiri, dan semakin langkanya cara kepemimpinan dunia yang, secara demokratik, dipimpin bersama-sama. Secara matematik, perjuangan kita itu hampir-hampir seperti: sedang menyelamatkan bumi.

Itu lah cara satu-satunya agar kapal yang kita tumpangi, yang aku sebut dalam pidato pembukaan pertemuan tingkat tingi ini, tidak karam, menenggelamkan kita semua, karena menabrak gunung es.

Itu lah cara satu-satunya agar kita bisa memandang ke depan, untuk hidup, bukan untuk mati.

Terima kasih banyak.

Oleh : La Ode Muh Fardan

Minggu, 15 Mei 2016

Suara Seorang Anak


IbuKu...
Hari ini telah kutanam dalam sanubariku
Akan sumpah dan janjiku
Akan hasrat dan impian yang menggebu
Menggebu dan menggumpal bak gunung dalam imajinasiku

Ibu... 
Kalian adalah malaikat bagiku
Yang selalu hadir memberikan cahaya
Kalian pula yang telah menjadi matahariku
Yang menaburiku sinar setiap saat ku membutuhkanmu.

Bahwa hari ini,aku telah berjanji pada asaku
Untuk mewujudkan cita-cita dan harapanmu
Agar aku tetap menjadi bunga kebangganmu
Yang sanggup mangharumkanmu didepan kumbang taman.

Demi dirimu sang matahariku...
Kukorbankan segalanya
Demi dirimu sang matahariku...
Aku berjanji akan mambahagiakanmu
Apapun yang terjadi
Send from L 40De

Ketika Pena Jurnalis Bercerita

Cretive Oleh : La Ode Muhamad Fardan. 

Sepanjang pengetahuan saya,dari apa yang saya dapatkan baik itu di bangku kuliah maupun pengalaman yang didapatkan dalam pelatihan atau kajian-kajian yang terbilang cukup membuat saya tertarik,untuk mengenal lebih jauh tentang dunia jurnalistik yang tak pernah habis untuk dibahas.

Jurnalistik merupakan proses atau suatu kegiatan yang dimulai dari mencari,mengumpulkan data,menyusunnya,lalu menulis data-data yang telah didapatkan setelah melaui proses editing,lalu kemudian dipublikasikan kepada khalayak melaui media massa,baik itu media cetak,media elektronik maupun internet,dengan segala aturan-aturan yang menyertainya,sedangkan jurnalis adalah orang yang mencari beritanya.

Namun,sebagaimana pengertiannya yang telah disebutkan diatas,sebenarnya tidak segampang membalikkan tangan ketika kita sudah sampai di lapangan,dalam artian ketika dalam proses peliputan suatu berita.Hal yang mungkin menjadi modal utama adalah semangat dan pantang menyerah menerima keadaan sampai akhirnya informasi yang diiinginkan benar-benar sudah didapatkan secara lengkap.

Jurnalistik sebagai proses,tentulah ada tahapan-tahapan didalamnya yang saling terkait satu sama lain yang dapat menuntun seorang jurnalis merasakan kepuasan tersendiri ketika yang diinginkan benar-benar tercapai,tetapi bukan dengan satu kepentingan,tetapi untuk kepentingan bersama.

Jurnalistik sebagai salah satu bidang profesi sama dengan bidang bidang profesi yang lainnya,tentu memiliki aturan-aturan dan keterbatasan dalam menjalangkannya,dikenal dengan adanya kode etik,yang sering disebut kode etik jurnalistik,yang tentu dibuat bukan untuk dilanggar,tetapi merupakan suatu aturan yang dapat mengikat sehingga tidak terjadi kesalahan-kesalahan,dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya.

Jurnalistik sebagai bidang profesi telah mengajarkan saya banyak hal,memberikan kesan yang tak dapat dinafikan,bahwa ada suka dan duka yang tetap menjadi sebuah tanggung jawab sebagaimana profesi-profesi yang lain. 

Berbicara seputar jurnalistik,lebih jauh mungkin kita perlu mengenal sejarahnya,arti secara etimologi dll,akan dibhas ditulisan berikutnya.Tapi mugkin itulah sedikit yang bisa saya tuliskan tentang "Apa sih Jurnalistik itu?".

Peran Mahasiswa Dalam Politik Kampus

Penulis : La Ode Muh Fardan
cakrawalasultra.blogspot.com

Mahasiswa memiliki peran dan tanggung jawab idiologi sebagai pewaris perjuangan bangsa maupun tangung jawab profesional yang dipersiapkan untuk menjadi ahli dalam bidang-bidang tertentu agar dapat berperan aktif dalam pembangunan.  
Pendidikan politik adalah segala sesuatu kegiatan yang berkaitan dengan urusan yang menyangkut kepentingan dari sekelompok masyarakat (negara) guna mengetahui hak-hak dan kewajibannya.
Pendidikan politik merupakan proses mempengaruhi individu agar dia mendapatkan Mendapatkan informasi, wawasan dan ketrampilan politik sehingga sanggup berikap kritis dan lebih intesional terarah hidupnya. Selain itu bisa menjadi warga Negara yang lebih mantap, tidak terapung tanpa bobot dan tanpa pengaruh orientasi terhadap keadaan sendiri dan kondisi lingkungnya.
Pendidikan politik menjadi penting bagi mahasiswa sebagai upaya penyampaian (penanaman) nilai-nilai pengetahuan dan ideologi warganegara mengenai bagaimana diberlakukannya system, regulasi dan kebijakan Negara termasuk hal yang dirumuskan oleh kebijakan dan demokrasi politik. Pengetahuan ini penting untuk dimiliki mahasiswa guna untuk mengenali hak-haknya dalam upaya berpartisipasi menegakkan keadilan dan demokrasi.
Dengaan demikian, pendidikan politik menjadi tanggung jawab bagi perguruan tinggi selain itu juga penting untuk semua pihak, seperti pemerintah, lembaga politik, LSM, media massa serta komponen-komponen masyarakat lainnya.
  Ø  Tantangannya
1.      Kebanyakan mahasiswa atau masyarakat menggangap kalau politik itu buruk, jahat dan tidak baik untuk dipelajari maka dari itu mahasiswa atau masyarakat menjadi enggan untuk mempelajari pendidikan politik.
2.      Dewasa ini, para Generasi Muda/Mahasiswa kurang berkomitmen pada Pilar-pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.
3.      Merebaknya pandangan politik dalam masyarakat Indonesia.
4.      Memandang politik sebagai ajang untuk memperkaya diri dan golongan.
5.      Adanya campur tangan yang dilakukan oleh penguasa untuk menjinakan peran para Generasi Muda agar tidak mengancam kepentingan politik kekuasaan.
  Ø  Harapan
1.   Idealnya pendidikan politik jangan sampai hanya pada saat menjelang pemilu saja, tapi terus dilakukan oleh semua pihak yang terkait sehingga masyarakat menjadi cerdas dan dewasa dalam berpolitik. Karena politik adalah seni dalam membangun kehidupan yang lebih baikdan berkualitas.
2.      Pendidikan politik sifatnya tidak boleh indoktrinatif (secara formal) akan menyebabkan Generasi Muda/Mahasiswa menjadi kaku, fanatik, dan sempit pandangan.
3.      Agar Pendidikan Politik dapat berfungsi sesuai dengan tujuannya maka dalam pendidikan politik diberikannyainformasi-informasi yang dapat merangsang wawasan social, sehingga dapat membuka cakrawala berfikir setiap mahasiswa dan anggota masyarakat.
4.      Pemerintah, lembaga politik, LSM, media massa serta komponen-komponen masyarakat lainnya dapat mendukung dan memberikan wadah bagi Generasi Muda/Mahasiswa yang berminat kepada politik.
  Ø Solusi
Dalam hal ini dibutuhkan pendidikan politik yang mampu menempa mahasiswa dalam berkarya. Dimana dengan berorganisasi mahasiswa mendapat pengetahuan dan wawasannya mengenai masalah-masalah politik. Baik dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi itu sendiri maupun mengamati fenomena politik yang terjadi di masyarakat, selain itu juga merupakan proses pembelajaran dan pendidikan politik yang baik bagi mahasiswa.

Maka dari itu membutuhkan sejumlah parisipasi politik yang di wujudkan dengan partisipasi politik. Partisipasi politikyang berada di kampus sebagai ajang pembelajaran dan pendidikan politik bagi mahasiswa selain yang di dapat lewat mata kuliah pendidikan politik yang di dapat di dalam kelas ialah adanya kegiatan mahasiswa dalam ormawa dan setiap mahasiswa di anjurkan mengikuti dan berpartisipasi dalam kegiatan ini. Karena hal ini menunjukan bahwa kegiatan mahasiswa dalam ormawa juga merupakan bentuk mpartisipasi politik mahasiswa.

Hal ini lebih dikarenakan ormawa juga merupakan organisai yang di dalamnya mempelajari politik secara keseluruhan seperti pemilihan ketua organisasi, demontrasi, kajian-kajian politik , dan lain-lain.