Minggu, 09 April 2017

Disuatu Sisi Kehidupan

La Ode Muhamad Fardan


Antara Umur dan Cinta

Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya dorongan untuk menulis kembali lagi. Hanya saja, kali ini aku tidak sedang ingin menulis catatan perjalanan seperti biasanya. Catatan perjalanan yang kali ini aku tulis cukup berbeda, namun hal yang umum dialami dan dirasakan semua manusia. Perjalanan cinta. Cielah.

=============================================

Umur dan cinta memiliki korelasi yang kuat, itu menurutku.

Seiring bertambahnya umur dan pengalaman, pandangan kita mengenai ‘cinta’ berubah. Entah ke arah positif maupun negatif. Yang jelas, umur benar-benar merubah cara pandangku mengenai cinta; bagaimana aku melihat, memahami, merasakan, dan mengalami cinta.

Semakin tua, terutama mendekati pertengahan umur 20, aku semakin pesimis melihat cinta. Aku tidak lagi melihat cinta sebagai suatu anugrah pun mencari cinta layaknya kisah di novel dan film-film roman. Mencari pun sudah tak kulakukan lagi; lelah. Kalau memang ada seseorang yang ditakdirkan untuk bersamaku, pasti dia akan hadir suatu saat nanti di waktu yang tepat. 

Tetapi apabila aku pikirkan lagi, pemikiranku ini benar-benar seperti seseorang yang sudah menginjak umur 30-an. Umur dimana ego sudah benar-benar menguasai diri, tidak lagi dapat menerima kehadiran orang lain karena sudah terlalu nyaman dengan ruang lingkup kehidupannya sendiri. Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini. Tapi nyatanya, pengalaman dan umur telah memberiku terlalu banyak pelajaran pahit; cikal bakal matinya pohon pengharapan.

Di sela-sela rasa penat dan lelah terhadap kehidupan percintaan, aku mencoba menghabiskan hari-hari bersama buku; satu-satunya hal yang dapat mengajakku kabur dari dunia abu-abu ini. 

Adalah satu buku yang berisikan tulisan-tulisan pendek mengenai cinta, penulisnya merupakan para pegiat suatu komunitas di Korea Selatan. Belum pernah aku membaca buku karangan penulis Korea Selata sebelumnya. Judulnya pun sederhana,Things to Know When in Love. Entah apa yang terbesit di kepalaku sampai aku mengangkat buku tersebut dari tumpukan buku-buku keluaran terbaru di toko buku yang tak jauh dari rumahku. 

Buku yang dikategorikan sebagai novel graphic ini menyajikan tulisan-tulisan pendek (benar-benar pendek, bahkan ada yang satu kalimat saja) yang dikemas dengan menarik yang penuh dengan makna.

Adapun salah satu tulisan pertama yang aku baca dari buku tersebut, Penyebab “Semakin Berumur, Percintaan Semakin Sulit”, yang membuat aku terperangah. Sedikit. Begini kutipannya:

“Penyebab ‘semakin berumur, percintaan semakin sulit’ hanya satu.

Kau dan dia telah terlalu lihai.

Telah memberikan cinta sepenuhnya

dan mencurahkan seluruh perasaan, tapi akhirnya tidak menjadi apa-apa.

Percintaan pun bukan lagi ‘sesuatu yang ingin dilakukan’.

Tapi menjadi sesuatu yang ‘kalau bisa, bagus’ atau ‘kalau tidak bisa, apa boleh buat’.”


Hok. Rasanya ada sesuatu yang menghujam dada saat membaca kalimat-kalimat tersebut. Benar juga. Semakin berumur, pengalaman dalam menjalin hubungan dengan orang lain pun telah banyak didapatkan. Pengalaman, baik itu baik maupun buruk, akan benar-benar mempengaruhi hati kita. Pengalaman yang buruk akan membuat kita memandang cinta sebelah mata. 

Teringat ketika salah seorang teman pernah berkata, “Menikahlah sebelum kamu menginjak umur 30 tahun. Memasuki umur 30, kamu akan terlalu keras untuk menerima kehadiran orang dalam hidupmu. Ego dan prinsip hidup yang sudah tertata sekian kokohnya tidak akan mudah untuk dicampurtangani oleh pasangan nantinya. Semakin besar kemungkinan cekcok muncul karena ego tersebut. Terlebih untuk kaum lelaki; menjomblo sampai umur 30 akan membuat laki-laki semakin sulit mencari pasangan, karena mereka sudah terlalu nyaman berada dalam zona kesendiriannya tersebut.”

Tetapi, bukankah begini,

menjelang pertengahan umur 20, kita akan lebih fokus untuk membangun diri dan karir; untuk masa depan yang lebih baik, mereka bilang. Bagi mereka yang tidak memiliki pasangan, hal tersebut akan menjadi tujuan utama dalam hidup;kehadiran pasangan akan mengganggu proses menuju sukses, mereka bilang. Aku pun berpikir seperti itu. Padahal aku tahu, kalimat itu hanyalah alasan bagi mereka yang sudah “malas” mencari pasangan.

Bertemu yang baru, mencoba mengenal satu sama lain dari awal. Menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Menerima sifat-sifat satu sama lain, baik itu sesuai dengan kita maupun tidak. Mencoba beragam hal baru yang belum pernah dilakukan berdua. Menghadapi permasalahan yang biasa dialami pasangan layaknya roda yang berputar. Memikirkan kembali keputusan yang telah diambil. Memikirkan apakah hubungan layak untuk dilanjutkan atau tidak. Apabila berhasil maju, ya syukur. Kalau tidak bisa, ya mungkin belum jodoh. Seperti itulah. Kita tahu, menjalankan proses itu melelahkan.

Rasa malas dan takut. Ya, takut. Takut mengalami kegagalan lagi dalam menjalankan hubungan kiranya menjadi hal terbesar yang menjadi penyebab timbulnya rasa malas dalam menjalin cinta.

Takut menyakiti dan takut disakiti. Tentunya semua manusia takut akan hal tersebut.

Pada akhirnya, semua akan menunggu. Menunggu jodohnya untuk datang tanpa perlu usaha lebih untuk menariknya. Duduk tenang dan menanti keajaiban datang, atau berjalan-jalan di toko buku berharap ada seseorang yang tak sengaja bertubrukan dengan kita dan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Di sisi lain, di seberang, entah di mana, seseorang melakukan hal yang sama dengan kita. Menunggu sampai salah satu merobohkan tembok kemalasan dan berani mengambil resiko untuk menyakiti dan tersakiti.

La Ode Muhamad Fardan

Puisi Ku ☕ Untuk Hikmah

Dalam diam,

Senyum itu datang dan menggoda

Dalam sepi

Bayangnya datang menghampiri

akulah serpihan jiwamu

suatu saat nanti

Kita lewati jarak dan waktu

Harapan dan impian jadi kekuatan

akulah sepi dalam ramainya hatimu

akulah mimpi mimpi panjangmu

dalam diam

kan kujaga asa dan mimpimu

dalam sepi

Aku kan terus menanti

Asap Putih Menyerupai Awan

Berawal dari kepulan asap putih menyerupai awan dan malam dingin hujan turun membelai mimpi, ku hisap sebatang rokok ku hembus membentuk lingkaran. di samping segelas kopi hitam yg menjadi kawan setelah tak ada lagi kawan. 

di sini, ada cerita tentang persahabatan sebatang rokok dan segelas kopi yg terpadu menjadi sajian yg kental akan hitam dan putihnya, senantiasa menikmati pahit dan manisnya karya. 

di malam yg sunyi kita berteriak "kopi hitam dan sebatang rokok sudah menjadi tradisi kita sejak kita berkawan" 

ya, di sini 
di rumah karya kita, terlahirlah sajak sebatang rokok yg tak pernah habis, 
yg akan menjadi tradisi hingga nanti.

" D   4   Ni "

Minggu, 05 Maret 2017

La Ode Muhamad Fardan : Bersama Mengenal Pemimpin Masa Depan

Pemimpin Masa Depan

Genderang pemilu telah mulai berkumandang perang politik akan segera dimulai. Semua partai sibuk dengan idealisme dan kepercayan diri yang penuh dengan konsep dipaparkan melalui permainan kata yang cukup membuat terkesima ketika mendengarnya. Kesejahteraan, kemakmuran, kamapanan, keadilan, pemerataan, vigur pemimpin diusung sebagai janji politik. Sadar atau tidak mereka, blunder politik, blunder birokrasi, blunder pemimpin, blunder janji telah terjadi disana sini. Semua partai sibuk dengan vigur dan pemimpinnya masing-masing yang diyakini dapat membawa pembaharuan bukan berdasar pada pemahaman yang melalui analisis yang panjang terhadap kemampuan pemimpinnya.

Carut-marut, kekusutan, acak kadut kehidupan berbangsa disuatu Negara merupakan harga mati yang harus dibayar oleh pemimpinnya. Wujudnya ketika permasalahan di suatu Negara tersebut telah demikIan kompleksnya. Pemimpin-pemimpin masa depan ideal adalah pemimpin yang mempunyai ide-ide cemerlang sehingga dapat memberikan terobosan-terobosan baruyang cemerlang pula bagi suatu paradigma perubahan, pemimpin masa depan adalah pemimpin yang menjadikan masalah sebagai suatu solusi bagi perbaikan, pemimpin masa depan adalah pemimpin yang general yang mampu meramu berbagai keahlIan, keadaan dan kepentingan menjadi suatu kekuatan, pemimpn masa depan adalah pemimpin yang ketika bermimpi kemudIan menjadikannya nyata, pemimpin masa depan adalah pemimpin yang percaya diri karena kemampuannya melewati berbagai pengalaman pahitnya kehidupan, pemimpin masa depan adalah pemimpin yang tidak berada dibawah bayang-bayang pendahulunya, karenanya Ia semu.
Bukanlah ………..

Pemimpin yang hanya mampu bermain dengan kata-kata, pemimpin yang hanya tebal teori dan retorika, pemimpin yang mencari solusi dengan lari dari masalah, pemimpin yang percaya diri dengan dukungan dari para anteknya, pemimpin yang hanya menjual wibawa, pemimpin yang hanya mengandalkan silsilah keluarga.

Apakah ada……???

Banjir dan kemacetan di suatu ibu kota suatu Negara merupakan masalah umum yang dihadapi hampir oleh setIap Negara yang dipandang sebagai suatu masalah, rencana untuk memindahkan ibukota Negara ke daerah yang masih baru dengan harapan penataan kota dapat dilakukan sejak dini dIanggap sebagai sebuah solusi, solusi yang mencerminkan pengambilan keputusan bukan berdasarkan pada perbaikan namun lebih kepada penyelesaIan masalah dijawab dengan lari dari masalah tersebut. Apakah dilokasi yang baru nantinya tidak akan muncul masalah baru dan ketika muncul masalah baru, keputusan yang dIambil lagi-lagi dengan memindahkan lagi lokasi kota tersebut, kapan sebenarnya kita tahu kalau sebenarnya kita telah keluar dari masalah ataukah kita hanya terjebak pada sebuah blunder sebagai akibat dari suatu keputusan.
Warisan tahta kekuasaan dahulu kala hanya terjadi pada sistem kerajaan, sekarang terjadi pula pada suatu sistem pada pemerintahan suatu Negara. Akhirnya tidak ada hal baru muncul, yang ada hanyalah berupaya melanjutkan dan mewariskan cita-cita pendahulunya, padahal zama saat ini dengan pendahulunya sangatlah berbeda. Ilmu teori pun selalu diperbaharui mengikuti perkembangan zaman, begitu juga dengan teknologi. Sedangkan konsep suatu Negara yang menyangkut ratusan juta jiwa masih menggunakan konsep yang merupakan warisan usang dari pendahulunya, sungguh suatu yang ironi.

Rakyat tidak butuh wibawa dari seorang pemimpinnya melainkan ide-ide yang dapat membawa suatu perubahan yang tentunya lebih baik akan jauh lebih penting dari wibawa tersebut. Sudah saatnya rakyat diberikan angin segar dengan datangnya pemimpin yang mempunyai ide segar. Angin perubahan tidak dihembuskan oleh wibawa pemimpinnya melainkan melalui keputusan heroik yang dIambil.

Kata-kata intelektual yang enak didengar, membuat kagum yang mendengarkannya, hanya akan menina bobokan pendengarnya. Sedangkan sebenarnya mereka harus bangun dari tidur dan bersama-sama beranjak menuju suatu kemajuan bersama. Rakyat butuh suara ayam berkokok, butuh sinar mentari agar terjaga dari tidur dan mimpi kemudIan memulai hari-hari dengan suatu kemandirIan yang difasilitas oleh pemimpinnya.

Retorika dan teori adalah suatu yang datang belakangan, Ia hadir ketika sesuatu telah dibuktikan melalui praktik yang telah terbukti dan teruji terlebih dahulu, melalui tindakan-tindakan kemudIan dibukukan untuk dijadikan pemahaman oleh mereka yang membutuhkannya. Pemimpin dengan segudang teori dan retorika harus masih melalui tahapan praktek karena dIa hanya mempunyai pemahaman tetapi tidak memiliki praktiknya. Berapa lama rakyat harus menunggu hasil perbuatan dari pemimpin seperti ini, jikalau masih memerlukan uji coba dari teori yang dipahaminya, berapa banyak yang akan menjadi korban dari kegagalan hasil uji coba keputusan. Bagaimana pemimpin tersebut tahu persis praktik kehidupan di pedesaan jikalau Ia selama ini lebih banyak hidup dikota dan sekalipun tidak pernah menginjakkan kaki di tanah kotor dan becek milik pedesaan, bagaimana pemimpin tersebut mengerti betul tentang ekonomi jika sekalipun kehidupan berbisnis tidak pernah Ia geluti, bagaimana bisa muncul terobosan-terobosan baru jikalau teori yang dipakai hanya mengandalkan teori warisan dari para pendahulunya sedangkan sekalipun Ia tidak pernah membuat sesuatu.

Dipublish: La Ode Muhamad Fardan
www.fardanode.blogspot.com

Jumat, 17 Februari 2017

Kompas Politik Sultra

#Kompas_Politik
#Kota_Kendari
#Kota_Bertaqwa
#Keren_Politiknya_Sultra

Tidak sedikit orang yang merasa kecewa karena mengalami kegagalan saat telah melewati perjalanan dan persaingan yang ketat, misalnya Pilihan Legislatif. Pertarungan yang demikian keras telah banyak menyita waktu, tenaga, dana, pikiran dan juga perasaan. Kobaran semangat di awal untuk meraih kemenangan yang diharapkan bisa jadi berujung tak memenuhi harapan dan keinginan. Keinginan yang kuat amibisi yang hebat memang halal dalam persaingan demokrasi. Menjajakan gagasan, menawarkan diri yang terbaik selama masa kampanye memang sebuah keharusan, tidak ada yang salah dalam dunia demokrasi kita saat ini. Cara apapun ternyata ditempuh asalkan dapat memberikan jaminan “esok milikmu”. Ketika segala cara itu seakan dilegitimasi halal oleh publik termasuk money politik, semuanya menjadi berubah. Pertarungan dan persaingan lebih kepada persaingan modal, siapa yang yang banyak modal ia yang paling mungkin mendapatkan peluang kemenangan. Hasil memang membenarkan demikian, walau banyak pengakuan money politik tapi tak mudah mendapatkan bukti yang paten. Inilah keadaan yang kita hadapi saat ini pasca pemilu 2017.

Banyak pengamat, pakar dan praktisi mengomentari tentang bahaya money politik karena menjadi pangkal korupsi. Namun betapun bahayanya money politik hal itu terus saja berlangsung, bahkan menggelinding bagai bola salju. “Pengamat komentar, money politik tetap berlalu”. Kesadaran akan bahayanya tak sebanding dengan ketakutan akan melanggar hukum dan dampak di masa mendatang. Keadaan demikian menunjukkan fragmatisme publik, caleg dan juga parpol. Inikah yang kita ingingkan dari demokrasi ? Dengan cara inikah kita berharap negara lepas dari praktik korupsi? Namun pemenang tetaplah pemenang walaupun dengan cara money politik.

Inikah kemenangan money politik ? 100% IYA.

Money politik telah memenangkan persaingannya dengan gaya dan caranya, dengan sistem dan dampaknya. Lalu yang tanpa money politik telah kalah ? dalam dimensi perolehan suara kalah, dalam perolehan kursi kalah dalam peta politikpun anda kalah. Maka, jika yang diperjuangkan itu adalah suara, kursi, kekuasaan dan peta politik anda kalah,tapi jika yang anda perjuangkan adalah norma, nilai, sistem yang dapat membangun karakater bangsa andalah pemenangnya. Dalam dimensi tersebut kemenangan bukanlah suara, kursi dan kekuasaan tapi nilai yang tertanam dalam publik. Setidaknya publik tahu bahwa diantara ribuan orang yang “menghalalkan segala cara” ada yang masih menanamkan kejujuran, nurani, nilai-nilai untuk bangsa dan perjuangan nilai tak mengenal dimensi waktu, tempat dan keadaan ia selalu ada beserta orang-orang yang menyadari ada bahwa benar itu ada selama Yang Maha Benar itu ada.

#Kompas_Politik
#Kota_Kendari
#Kota_Bertakwa

Sabtu, 21 Januari 2017

 "Tanggung Jawab Seorang Pendosa"

“TANGGUNG JAWAB SEORANG PENDOSA”

21 JANUARI 2017 TULISANKITA TINGGALKAN KOMENTAR SUNTING

                           Fardan dan Hikmah

Ringkasan Untuk Hari Esok “Tanggung Jawab Seorang Pendosa”

Ya Allah, jika memang ini adalah jalan pilihan yang engkau berikan kepadaKu, insya allah saya belajar untuk menerima semua ini, sudah berbagai cara saya lakukan “menentukan pilihan sendiri” tapi apadaya semua tetap kembali Kepada-Mu wahai TuhanKu.

Saat ini berilah kami kekuatan dan keberanian untuk menyampaikan ini kepada mereka yang kami sayangi dan yang menyayangi kami serta yang membanggakan kami selama ini, Ya Allah jika ini pilihan yang Engkau tunjukkan kepadaku “insya allah saya akan menerimanya dengan Bismillah” maafkan diri hambamu ini yang selalu merebut takdirnya sendiri, maafkan diri hambamu ini yang selalu menjalankan rencanannya sendiri, tanpa hamba sadari Engkau telah mempersiapkan Taqdir dan Rencana untuk Hambamu ini , Saya yakin dan percaya bahwa Rencan yang Engkau berikan kepada Hamba di dunia ini “Insya Allah semua Berkah Ya Allah”. amiiin

“Ya Allah saya menuliskan ini, karena saat ini saya dalam kebingungan melihat situasi ini”. Maafkan diri Hamba ini, yang selalu mengeluh Kepada-Mu Ya Allah, sementara hamba jarang melakukan apa yang telah Engkau perintahkan. 

“Maafkan hamba Ya Allah” 

Malam Hari ini tepatnya tanggal 21 Januari 2017, Hamba berdoa agar “Suatu Hari dan Suatu saat” Hamba mulai menjalankan kesehari-harian hamba dengan penuh senyuman,canda dan tawa, “insya allah” 

“Melepaskan semua permasalahan selama beberapa bulan ini, karena saya telah melakukan kesalahan besar terhadapnya” maka dengan izinmu Ya Allah , saya bertanggung jawab atas semua kesalahan yang telah saya lakukan, jujur dengan penuh rasa takut saya mengahadapi semua ini, tapi hamba yakin bahwa inilah jalan yang terbaik yang telah Engkau berikan Kepada Hambamu ini “Ya Allah”

Penuh rasa tangis, air mata yang berjatuhan membasahi tulisan ini, Jujur Hamba sangat takut Ya Allah, begitu berat rasanya Ku langkahkan kakiku, apapun yang terjadi “saya siap menerima kosekuensi dari Dua Bela Pihak Keluarga”  berilah saya sedikit rasa keberanian untuk mengambil keputusan,  karena saya harus bertanggung jawab atas semua yang telah saya lakukan.

“Berilah Hamba Jalan Terbaik Ya Allah”

Amiiin Ya Robbal Alamin …
Dari Ku yang Berdosa Kepada Mu

“Fardan”

Sabtu, 14 Januari 2017

Mahasiswa Akhir : Legenda Skripsi

Buka-Bukaan Penderitaan Mahasiswa Skripsi: Sebuah Kisah Non-Fiksi
The Legend of Skripsi .
Creative : LMF | Cakra La Ode |
"Karena mahasiswa yang sedang skripsi butuh dipahami"
"Sudah tidak ambil kuliah, tapi skripsinya belum selesai-selesai?"
Satu kalimat. Sederhana. Berjuta makna. Berjuta rasa. Terutama buat kita semua yang sedang menjalani skripsi.
Mungkin, mereka yang sampai hati melontarkan kalimat itu tak memahami penderitaan para mahasiswa skripsi.
1. Pusing melihat buku di perpustakaan

Referensi, Referensi, Referensi, Jurnal, Skripsi, alumni, Entah di perpustakaan kampus, di perpustakaan daerah, atau di perpustakaan pribadi (maksudnya, harus beli). Yang pasti, para mahasiswa skripsi pastinya harus tegar bolak-balik ke tempat ini. Kata dosen, biar memperkaya ilmu dalam adu argumen.
2. Pusing melihat laptop

Cari bahan tambahan di internet, kata dosen. Apa daya, kehabisan paket internet. Jadi haruslah merogoh kocek untuk ke warnet. Walaupun pada akhirnya berakhir dengan surfing bebas di internet. *yang diikuti derai air mata dua jam kemudian karena tersadar malah cari hiburan bukan bahan buat skripsi"
3. Duit sekarat

Print, Kertas, Tinta, Entah ada berapa ratus lembar. Sekalinya dilihat dosen cuma lima menit, coretan besar melintang. Ganti. Revisi. Print lagi. Sakitnya bukan cuma di dompet, tapi juga di hati, kawaaan. "sakiiiittt koneee"
4. Kering nungguin dosen

Janjinya jam satu. Berjam-jam kemudian baru muncul. Tetap mesti pasang senyum meski hati mendongkol.
5. Terlibat cinta segitiga: mahasiswa-skripsi-dosen pembimbing

Ini mimpi buruknya dari segala mimpi buruk. Kitanya ingin buat apa, dosennya mengarahkan ke mana. Belum jika dosen pembimbingnya ada dua. Siap-siap aja, terbuang sekian banyak cucuran energi, keringat, air mata dan rambut yang rontok.
6. Kurang tidur

Inginnya sih bisa kerja skripsi siang hari atau sore hari. Apa daya ide baru muncul di kala malam. Sementara siang, harus berkeliling mencari nafkah referensi.
7. Kesepian

Masuk di masa skripsi, rasanya semua teman yang dulu sering pergi ramai-ramai mendadak menghilang. Ada yang sibuk skripsi, ada yang masih ngejar SKS yang tertinggal, ada yang sudah lulus. Hehe. "terlantar gitu rasanya".
EDITORS'PICKS
8. Emosi Tidak stabil
Yah, puncak dari semuanya, mahasiswa skripsi masih dibilang labil pula. Apalagi kalau dengar pertanyaan "Sudah sampai bab berapa?" Harap maklumi kami, kalau kami jadi suka marah-marah tidak jelas, kadang nangis, kadang ketawa histeris, kadang (terpaksa) mengurung diri di kamar. Yah, itu semua kami lakukan demi skripsi.
Tapi tidak apa-apa, kami semua ikhlas melakukan semuanya asal bisa melihat senyum bangga orang tua yang mengembang di hari wisuda.



Creative : LMF | Cakra La Ode |