Kamis, 13 April 2017

Jarang pulang, meski sudah terlalu rindu

"Jarang pulang, meski sudah terlalu rindu."

 Pendidikan adalah hal yang harus diperjuangkan. Sekalipun, kamu harus memperjuangkan pendidikanmu itu ke tempat yang jauh. Kamu rela merantau ke daerah yang asing, yang tidak pernah kamu ketahui sebelumnya untuk menuntut masa depanmu. Meski berat, namun hal inilah yang menjadi nilai plus anak rantau.

 1. Kamu sanggup berjuang, meski rindu orangtuamu.

Kamu terpaksa untuk mandiri lebih awal dibandingkan teman-teman sebayamu. Di tempat yang baru, kamu harus memulai segala sesuatunya dari awal. Sendirian, kamu harus mencari tempat tinggal, mencari tempat makan yang ramah di kantong dan berkenalan dengan teman baru. Sisi survival-mu meski nggak ada orangtua di sisimu inilah yang menonjol. Meski tidak dipungkiri, kamu rindu dengan sifat orangtuamu.

 2. Kamu berusaha menghapus air matamu demi tak merepotkan orang tua.

Kamu rela bertahan di tanah rantaumu padahal libur telah tiba, karena kamu tidak ingin membebankan keadaan ekonomi orangtua. Sebenarnya, kamu sadar orangtua tidak pernah melarangmu untuk pulang, karena mereka selalu berusaha mencari uang demi melihat anaknya. Namun, kamu berusaha untuk menghapus air mata mu dan berusaha untuk kuat demi tidak merepotkan orangtua.

 3. Di saat orang lain bertemu keluarganya saat liburan, kamu berusaha untuk mencari kesibukan sendiri.

Liburan merupakan momen yang paling berharga untuk bertemu keluarga. Namun, pada umumnya tidak semua anak rantau bisa menikmati liburan. Kamu hanya bisa melampiaskan rasa rindumu dengan melihat foto keluarga. Selain itu, saat libur dan tidak bisa pulang kampung, kamu mencari kesibukan sendiri seperti mengerjakan skripsi, jalan-jalan, mendengar lagu daerah, bahkan naik motor mengelilingi daerah universitas sendiri.

 4. Bahkan ketika orangtua memasak makanan favoritmu, kamu tidak bisa pulang untuk mencicipinya.

masakan orang tua

Tidak bisa dipungkiri, orangtuamu terkadang juga memasak makanan favoritmu. Ingin sebenarnya kamu pulang dan menyantap makanan itu sambil bercanda dengan keluarga. Namun kamu tetap bertahan di daerah perantauanmu, untuk menyelesaikan pendidikanmu dan segera pulang ke rumah.


5. Skripsi tetap lanjut, kerjaan pun tetap lanjut, semua demi sebuah kesuksesan.

skripsi

Merantau adalah pilihan untuk pendidikan yang terbaik. Semua itu dilaksanakan demi sebuah kesuksesan. Anak rantau rela tidak pulang kampung dan menahan rindunya demi sebuah kesuksesan yang membanggakan keluarga di kampung halaman. Saat liburan, kamu hanya bisa berjuang demi bisa pulang di lain waktu dengan berjanji menyelesaikan skripsi bahkan berjanji bekerja sebaik mungkin demi menghasilkan uang untuk membeli kebutuhan rumah di kampung halaman.

6. Rela sakit karena terlalu rindu kampung halaman.

sakit

Kamu yang merantau saat liburan dan tidak bisa pulang kampung hanya bisa telponan dengan orangtuamu. Hanya suara yang dapat melampiaskan rasa rindu kamu sebagai anak rantau. Bahkan, sebagian besar anak rantau menjadi sakit karena terlalu merindukan kampung halaman. Namun, kamu hanya bisa menyembuhkan diri sendiri karena orangtuamu tidak ada disampingmu.

7. Berharganya waktu di rumah, hanya kamu yang mengerti manfaatnya.

waktu

Anak rantau merupakan orang yang bisa dihitung kapan pulang dalam setahun bahkan dalam tiga tahun. Nah, hanya kamulah sebagai anak rantau menghargai waktu di rumahmu. Karena, hanya kamu yang sanggup menangis dan menghapus air matamu sendiri saat rindu di daerah orang lain. Hanya kamu jugalah yang tahu bahwa perjuangan membutuhkan kerelaan untuk meninggalkan sementara kenyamanan paling berharga yakni suasana rumah.

"Satu-satunya hal yang memotivasimu selama merantau ini adalah berjuang untuk kembali ke daerahmu. Seberapa susahnya dirimu, kamu paham kalau kamu pasti akan kembali".

sumber : inspiratif | editor : admin blogger |"D  4  Ni"

Pemanfaatan Dana Desa 2016 - 2017

Selamat Sore! "petang" kota kendari

Hasil Pemanfaatan Dana Desa 2016

Pada tahun 2016, dana desa dialokasikan sebesar Rp46,98 triliun. Berdasarkan total tersebut, rata-rata dana desa yang diperoleh per desa mencapai Rp643,6 juta. Realisasi penggunaan Dana Desa diprioritaskan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. Penggunaan dana desa tersebut utamanya digunakan untuk peningkatan kualitas hidup, penanggulangan kemiskinan, kesejahteraan masyarakat, serta perluasan skala ekonomi individu dan kelompok.

Berdasarkan data periode 12 Maret 2017, hasil pemanfaatan dana desa tahun 2016 khususnya bidang pembangunan diantaranya yaitu pembangunan jalan desa sepanjang 66.884 km, 12.596 unit irigasi, serta 7.524 posyandu. Selain itu, dana desa juga dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat, diantaranya pelatihan kewirausahaan desa untuk pemuda, serta pelatihan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian.

Kini, pada tahun 2017, besaran dana desa meningkat hingga Rp60 triliun. Peningkatan tersebut ditujukan untuk penguatan desentralisasi fiskal serta mewujudkan Nawa Cita, khususnya poin membangun dari pinggiran.

Mari bangun desa untuk membangun Indonesia. Kawal pembangunan di daerahmu!

Bila temankeu menemukan indikasi penyalahgunaan anggaran dana desa, laporkan via Lapor1708 melalui sms 1708, website www.lapor.go.id, serta aplikasi lapor. Selain itu, temankeu juga dapat melaporkan melalui call center Kementerian Desa PDTT melalui 1500040 atau sms center 081288990040 / 087788990040.

#DanaDesa
#AyoBangunDesa
#SadarAPBN

Minggu, 09 April 2017

Teringat Tentang Keindahan Desaku 10 Tahun Lalu

La Ode Muhamad Fardan™| "Kenangan" Mengingatkan Tentang Keindahan Kampung Halaman Ku

Apa kabar duniaku?  kembali aku menghirup udaramu dengan rasa yang sangat-sangat baru. Akhir-akhir ini cuacamu sangat tak menentu, menemani akhir pekan yang aku rasa semakin ambigu untuk dinimati.

Tapi tak apalah, mau gimana lagi, tak mungkin kusalahkan kau tentang buruk dan baiknya cuacamu, karena aku merasa yakin bahwa kau tak beraslah dan tak punya andil dalam perubahan itu.

Kau tahu kampungku? kampungku berada dipelosok daerah sana. Dulu, ketika saya masih berumur enam hingga sepuluhan tahun, banyak orang-orang tak mengenal kampungkuu, bahkan ada nada menghina tersirat dalam ucapan orang-orang itu. Namun aku masih bangga terhadap kampungku itu.

Tahu kenapa? Karena saya merasa kampungku memiliki segalanya, ya, alam yang melimpah, tetangga yang menebar senyum, ramah tamah dalam silaturahmi, masih banyak hutan yang dapat dilihat, dan juga kepelosokannya kukira. "Kampungku Desa Bone - Bone serasa negeri yang luar biasa, memberikan ikan-ikan segar dari lautnya yang jernih, tempat para penduduk berenang serta mengais rezeki. (Desaku 10 Tahun Silam)

saya masih ingat ketika teman - teman mengajakku mencari ikan ditepi laut yanga indah dikampungku, men-jala ikan sambil belajar tersenyum dengan pemandangan ini, kami men-jala –namun masih saja tak sempurna - dan luar biasa yang kami dapatkan dari ketidak semprnaan itu, ikan-ikan segar untuk kami makan dan masuk dalam tungku ibuku.

Alam, Kali Jernih dan Laut dikampungku merupakan sahabatku, berendam lama di laut merupakan hobi kami saat anak-anak, tak jarang kami-pun demam tinggi dibuatnya karena tak dengar nasihat ibu dan nenek. Tapi, tetap saja saya dan teman - teman membandel dan tetap terjun kesungai/Kali dan Laut yang indah dikampung ku. Betapa nakalnya kami saat itu.

Tapi entah mengapa, saya merasa luar biasa bahagia. Aku pernah diajak orang tuaku berjalan kaki ke kebun yang letaknya jauh sekali dari rumah, digerogoti nyamuk, masuk jalanan berlumpur hingga kotor pakaianku.

Namun sejak aku lulus dari sekolah dasar, orang tuaku ingin aku maju. Mendambakan pendidikan yang baik sebagaimana diharapkan oleh orang-orang tua lainnya. Berangkatlah aku, dan akhirnya dengan perjalanan dan perjuangan yang berat aku sampai disini, Kota Provinsi Sulawesi Tenggara "Kota Kendari".

Kau tahu duniaku? sesekali aku pulang melihat kampungku, menjenguk orang tuaku/keluargaku, membebaskan rasa rindu yang luar biasa lama dipendam. Tapi bagaimanapun saya harus kuat, karena saya adalah seorang laki-laki.

"Laki-laki haruslah bersifat kesatria, yang tegar dan kuat serta bertanggung jawab. Begitu pepatah-pepatah yang aku dengar dari para guru".

Akhir-akhir ini saya mengerti mengapa banyak perubahan pada duniaku yang sering tak tentu ini, alam-mu yang dulu kulihat indah, lebat dan rupawan, kini tergantikan dengan degradasi besar-besaran. Hutanmu gundul rupanya, hanya menyisakan kantong-kantong uang bagi pembesar yang tak tahu aku dari mana datangnya.

saya merasa terjarah dalam kampungku sendiri, awal-awalnya saya masih merasa bodoh melihat betapa tak sesuainya keseimbangan ini, tapi sejak berada ditempat yang jauh, sedikit-sedikit saya mengerti, betapa tak aman lagi alam kampungku saat ini.

Pernah saya diajak keluargaku berjalan ke arah hulu, melihat-lihat apa perkembangan akhir-akhir ini pada negeriku. Luar biasa, hutanmu sungguh tinggal sedikit lagi, rawa-rawa menyempit dan hampir tak menyisakan air. Yang aku rasakan sesudahnya adalah panas dan gersang dibawah terik yang luar biasa, serasa matahari mendekat diatas ubun-ubunku. Lautan yang indah kelihatan marah dan berhenti memberikan ikan dikampungku, karena tangan tangan robot yang meratakkan karang-karang lautan seperti daratan yang gersang.

Sadarlah aku, keseimbanganmu talah goyah oleh generasi-generasi kami yang tidak berfikir ulang tentang bagaimana kontribusimu selama ini. Kau memberikan segalanya dari alam Tuhan ini “gratis” tak mengharap balasan, sedangkan generasi kami membabatnya dengan berbagai macam alasan.

Tahulah aku, sungai dan Laut kami yang jernih dulu, kini airnya semakin memudar, beralih keruh. Tak terlihat lagi batu-batu kali, tak terlihat lagi karang-karang penyelamat umat, tempat kami semasa anak-anak melempar-lemparkan badan ini dengan senang untuk berenang ke dasar kali dan laut indah dikampungku., "Sekarang telah sirna" Hanya tinggal tebing-tebing yang bisa melongsorkan tanahnya kapan saja ia mau, dan akhirnya aku pulang dan tak jadi berendam.

Oh, itulah rupanya curhatanku “duniaku” selama ini dengan cuacamu, negeriku yang kaya ini menggerogoti dirinya dengan mambumi-hanguskan alamnya sendiri. Entah hingga kapan generasi kami akan duduk manis mendengarkan ucapanmu dan mengamini permintaanmu. Membelai kembali alammu dengan perilaku sahaja, besahabat sebagaimana nenek moyang kami jauh sebelumnya.

Hari ini, cuaca masih panas, dan aku sebisa mungkin memahami dan mendengar dengan baik pembicaraanmu pada alam ini. Apapun itu, aku masih tetap menikmati dan tersenyum terhadapmu. Salamku..

Alam dan Cuaca Ku : "Saat ini maafkan generasi yang tak tau diri tentang keadaanmu"

Hingga tulisan ini terbit., ini terkhusus cerita tentang Desaku/Kampungku dan apabila ada kesamaan dalam tulisan ini yang menyerupai tentang permasalahan yang sama maka semoga bisa dijadikan kenangan manis bersama ☺

Oleh : La Ode Muhamad Fardan
Pengurus Pusat Studi Demokrasi Kendari
"PSD Kota Kendari"

(Sarjana Ilmu Komunikasi / Fisip UHO Angkatan 2011 )

D  4  Ni

Disuatu Sisi Kehidupan

La Ode Muhamad Fardan


Antara Umur dan Cinta

Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya dorongan untuk menulis kembali lagi. Hanya saja, kali ini aku tidak sedang ingin menulis catatan perjalanan seperti biasanya. Catatan perjalanan yang kali ini aku tulis cukup berbeda, namun hal yang umum dialami dan dirasakan semua manusia. Perjalanan cinta. Cielah.

=============================================

Umur dan cinta memiliki korelasi yang kuat, itu menurutku.

Seiring bertambahnya umur dan pengalaman, pandangan kita mengenai ‘cinta’ berubah. Entah ke arah positif maupun negatif. Yang jelas, umur benar-benar merubah cara pandangku mengenai cinta; bagaimana aku melihat, memahami, merasakan, dan mengalami cinta.

Semakin tua, terutama mendekati pertengahan umur 20, aku semakin pesimis melihat cinta. Aku tidak lagi melihat cinta sebagai suatu anugrah pun mencari cinta layaknya kisah di novel dan film-film roman. Mencari pun sudah tak kulakukan lagi; lelah. Kalau memang ada seseorang yang ditakdirkan untuk bersamaku, pasti dia akan hadir suatu saat nanti di waktu yang tepat. 

Tetapi apabila aku pikirkan lagi, pemikiranku ini benar-benar seperti seseorang yang sudah menginjak umur 30-an. Umur dimana ego sudah benar-benar menguasai diri, tidak lagi dapat menerima kehadiran orang lain karena sudah terlalu nyaman dengan ruang lingkup kehidupannya sendiri. Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini. Tapi nyatanya, pengalaman dan umur telah memberiku terlalu banyak pelajaran pahit; cikal bakal matinya pohon pengharapan.

Di sela-sela rasa penat dan lelah terhadap kehidupan percintaan, aku mencoba menghabiskan hari-hari bersama buku; satu-satunya hal yang dapat mengajakku kabur dari dunia abu-abu ini. 

Adalah satu buku yang berisikan tulisan-tulisan pendek mengenai cinta, penulisnya merupakan para pegiat suatu komunitas di Korea Selatan. Belum pernah aku membaca buku karangan penulis Korea Selata sebelumnya. Judulnya pun sederhana,Things to Know When in Love. Entah apa yang terbesit di kepalaku sampai aku mengangkat buku tersebut dari tumpukan buku-buku keluaran terbaru di toko buku yang tak jauh dari rumahku. 

Buku yang dikategorikan sebagai novel graphic ini menyajikan tulisan-tulisan pendek (benar-benar pendek, bahkan ada yang satu kalimat saja) yang dikemas dengan menarik yang penuh dengan makna.

Adapun salah satu tulisan pertama yang aku baca dari buku tersebut, Penyebab “Semakin Berumur, Percintaan Semakin Sulit”, yang membuat aku terperangah. Sedikit. Begini kutipannya:

“Penyebab ‘semakin berumur, percintaan semakin sulit’ hanya satu.

Kau dan dia telah terlalu lihai.

Telah memberikan cinta sepenuhnya

dan mencurahkan seluruh perasaan, tapi akhirnya tidak menjadi apa-apa.

Percintaan pun bukan lagi ‘sesuatu yang ingin dilakukan’.

Tapi menjadi sesuatu yang ‘kalau bisa, bagus’ atau ‘kalau tidak bisa, apa boleh buat’.”


Hok. Rasanya ada sesuatu yang menghujam dada saat membaca kalimat-kalimat tersebut. Benar juga. Semakin berumur, pengalaman dalam menjalin hubungan dengan orang lain pun telah banyak didapatkan. Pengalaman, baik itu baik maupun buruk, akan benar-benar mempengaruhi hati kita. Pengalaman yang buruk akan membuat kita memandang cinta sebelah mata. 

Teringat ketika salah seorang teman pernah berkata, “Menikahlah sebelum kamu menginjak umur 30 tahun. Memasuki umur 30, kamu akan terlalu keras untuk menerima kehadiran orang dalam hidupmu. Ego dan prinsip hidup yang sudah tertata sekian kokohnya tidak akan mudah untuk dicampurtangani oleh pasangan nantinya. Semakin besar kemungkinan cekcok muncul karena ego tersebut. Terlebih untuk kaum lelaki; menjomblo sampai umur 30 akan membuat laki-laki semakin sulit mencari pasangan, karena mereka sudah terlalu nyaman berada dalam zona kesendiriannya tersebut.”

Tetapi, bukankah begini,

menjelang pertengahan umur 20, kita akan lebih fokus untuk membangun diri dan karir; untuk masa depan yang lebih baik, mereka bilang. Bagi mereka yang tidak memiliki pasangan, hal tersebut akan menjadi tujuan utama dalam hidup;kehadiran pasangan akan mengganggu proses menuju sukses, mereka bilang. Aku pun berpikir seperti itu. Padahal aku tahu, kalimat itu hanyalah alasan bagi mereka yang sudah “malas” mencari pasangan.

Bertemu yang baru, mencoba mengenal satu sama lain dari awal. Menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Menerima sifat-sifat satu sama lain, baik itu sesuai dengan kita maupun tidak. Mencoba beragam hal baru yang belum pernah dilakukan berdua. Menghadapi permasalahan yang biasa dialami pasangan layaknya roda yang berputar. Memikirkan kembali keputusan yang telah diambil. Memikirkan apakah hubungan layak untuk dilanjutkan atau tidak. Apabila berhasil maju, ya syukur. Kalau tidak bisa, ya mungkin belum jodoh. Seperti itulah. Kita tahu, menjalankan proses itu melelahkan.

Rasa malas dan takut. Ya, takut. Takut mengalami kegagalan lagi dalam menjalankan hubungan kiranya menjadi hal terbesar yang menjadi penyebab timbulnya rasa malas dalam menjalin cinta.

Takut menyakiti dan takut disakiti. Tentunya semua manusia takut akan hal tersebut.

Pada akhirnya, semua akan menunggu. Menunggu jodohnya untuk datang tanpa perlu usaha lebih untuk menariknya. Duduk tenang dan menanti keajaiban datang, atau berjalan-jalan di toko buku berharap ada seseorang yang tak sengaja bertubrukan dengan kita dan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Di sisi lain, di seberang, entah di mana, seseorang melakukan hal yang sama dengan kita. Menunggu sampai salah satu merobohkan tembok kemalasan dan berani mengambil resiko untuk menyakiti dan tersakiti.

La Ode Muhamad Fardan

Puisi Ku ☕ Untuk Hikmah

Dalam diam,

Senyum itu datang dan menggoda

Dalam sepi

Bayangnya datang menghampiri

akulah serpihan jiwamu

suatu saat nanti

Kita lewati jarak dan waktu

Harapan dan impian jadi kekuatan

akulah sepi dalam ramainya hatimu

akulah mimpi mimpi panjangmu

dalam diam

kan kujaga asa dan mimpimu

dalam sepi

Aku kan terus menanti

Asap Putih Menyerupai Awan

Berawal dari kepulan asap putih menyerupai awan dan malam dingin hujan turun membelai mimpi, ku hisap sebatang rokok ku hembus membentuk lingkaran. di samping segelas kopi hitam yg menjadi kawan setelah tak ada lagi kawan. 

di sini, ada cerita tentang persahabatan sebatang rokok dan segelas kopi yg terpadu menjadi sajian yg kental akan hitam dan putihnya, senantiasa menikmati pahit dan manisnya karya. 

di malam yg sunyi kita berteriak "kopi hitam dan sebatang rokok sudah menjadi tradisi kita sejak kita berkawan" 

ya, di sini 
di rumah karya kita, terlahirlah sajak sebatang rokok yg tak pernah habis, 
yg akan menjadi tradisi hingga nanti.

" D   4   Ni "

Minggu, 05 Maret 2017

La Ode Muhamad Fardan : Bersama Mengenal Pemimpin Masa Depan

Pemimpin Masa Depan

Genderang pemilu telah mulai berkumandang perang politik akan segera dimulai. Semua partai sibuk dengan idealisme dan kepercayan diri yang penuh dengan konsep dipaparkan melalui permainan kata yang cukup membuat terkesima ketika mendengarnya. Kesejahteraan, kemakmuran, kamapanan, keadilan, pemerataan, vigur pemimpin diusung sebagai janji politik. Sadar atau tidak mereka, blunder politik, blunder birokrasi, blunder pemimpin, blunder janji telah terjadi disana sini. Semua partai sibuk dengan vigur dan pemimpinnya masing-masing yang diyakini dapat membawa pembaharuan bukan berdasar pada pemahaman yang melalui analisis yang panjang terhadap kemampuan pemimpinnya.

Carut-marut, kekusutan, acak kadut kehidupan berbangsa disuatu Negara merupakan harga mati yang harus dibayar oleh pemimpinnya. Wujudnya ketika permasalahan di suatu Negara tersebut telah demikIan kompleksnya. Pemimpin-pemimpin masa depan ideal adalah pemimpin yang mempunyai ide-ide cemerlang sehingga dapat memberikan terobosan-terobosan baruyang cemerlang pula bagi suatu paradigma perubahan, pemimpin masa depan adalah pemimpin yang menjadikan masalah sebagai suatu solusi bagi perbaikan, pemimpin masa depan adalah pemimpin yang general yang mampu meramu berbagai keahlIan, keadaan dan kepentingan menjadi suatu kekuatan, pemimpn masa depan adalah pemimpin yang ketika bermimpi kemudIan menjadikannya nyata, pemimpin masa depan adalah pemimpin yang percaya diri karena kemampuannya melewati berbagai pengalaman pahitnya kehidupan, pemimpin masa depan adalah pemimpin yang tidak berada dibawah bayang-bayang pendahulunya, karenanya Ia semu.
Bukanlah ………..

Pemimpin yang hanya mampu bermain dengan kata-kata, pemimpin yang hanya tebal teori dan retorika, pemimpin yang mencari solusi dengan lari dari masalah, pemimpin yang percaya diri dengan dukungan dari para anteknya, pemimpin yang hanya menjual wibawa, pemimpin yang hanya mengandalkan silsilah keluarga.

Apakah ada……???

Banjir dan kemacetan di suatu ibu kota suatu Negara merupakan masalah umum yang dihadapi hampir oleh setIap Negara yang dipandang sebagai suatu masalah, rencana untuk memindahkan ibukota Negara ke daerah yang masih baru dengan harapan penataan kota dapat dilakukan sejak dini dIanggap sebagai sebuah solusi, solusi yang mencerminkan pengambilan keputusan bukan berdasarkan pada perbaikan namun lebih kepada penyelesaIan masalah dijawab dengan lari dari masalah tersebut. Apakah dilokasi yang baru nantinya tidak akan muncul masalah baru dan ketika muncul masalah baru, keputusan yang dIambil lagi-lagi dengan memindahkan lagi lokasi kota tersebut, kapan sebenarnya kita tahu kalau sebenarnya kita telah keluar dari masalah ataukah kita hanya terjebak pada sebuah blunder sebagai akibat dari suatu keputusan.
Warisan tahta kekuasaan dahulu kala hanya terjadi pada sistem kerajaan, sekarang terjadi pula pada suatu sistem pada pemerintahan suatu Negara. Akhirnya tidak ada hal baru muncul, yang ada hanyalah berupaya melanjutkan dan mewariskan cita-cita pendahulunya, padahal zama saat ini dengan pendahulunya sangatlah berbeda. Ilmu teori pun selalu diperbaharui mengikuti perkembangan zaman, begitu juga dengan teknologi. Sedangkan konsep suatu Negara yang menyangkut ratusan juta jiwa masih menggunakan konsep yang merupakan warisan usang dari pendahulunya, sungguh suatu yang ironi.

Rakyat tidak butuh wibawa dari seorang pemimpinnya melainkan ide-ide yang dapat membawa suatu perubahan yang tentunya lebih baik akan jauh lebih penting dari wibawa tersebut. Sudah saatnya rakyat diberikan angin segar dengan datangnya pemimpin yang mempunyai ide segar. Angin perubahan tidak dihembuskan oleh wibawa pemimpinnya melainkan melalui keputusan heroik yang dIambil.

Kata-kata intelektual yang enak didengar, membuat kagum yang mendengarkannya, hanya akan menina bobokan pendengarnya. Sedangkan sebenarnya mereka harus bangun dari tidur dan bersama-sama beranjak menuju suatu kemajuan bersama. Rakyat butuh suara ayam berkokok, butuh sinar mentari agar terjaga dari tidur dan mimpi kemudIan memulai hari-hari dengan suatu kemandirIan yang difasilitas oleh pemimpinnya.

Retorika dan teori adalah suatu yang datang belakangan, Ia hadir ketika sesuatu telah dibuktikan melalui praktik yang telah terbukti dan teruji terlebih dahulu, melalui tindakan-tindakan kemudIan dibukukan untuk dijadikan pemahaman oleh mereka yang membutuhkannya. Pemimpin dengan segudang teori dan retorika harus masih melalui tahapan praktek karena dIa hanya mempunyai pemahaman tetapi tidak memiliki praktiknya. Berapa lama rakyat harus menunggu hasil perbuatan dari pemimpin seperti ini, jikalau masih memerlukan uji coba dari teori yang dipahaminya, berapa banyak yang akan menjadi korban dari kegagalan hasil uji coba keputusan. Bagaimana pemimpin tersebut tahu persis praktik kehidupan di pedesaan jikalau Ia selama ini lebih banyak hidup dikota dan sekalipun tidak pernah menginjakkan kaki di tanah kotor dan becek milik pedesaan, bagaimana pemimpin tersebut mengerti betul tentang ekonomi jika sekalipun kehidupan berbisnis tidak pernah Ia geluti, bagaimana bisa muncul terobosan-terobosan baru jikalau teori yang dipakai hanya mengandalkan teori warisan dari para pendahulunya sedangkan sekalipun Ia tidak pernah membuat sesuatu.

Dipublish: La Ode Muhamad Fardan
www.fardanode.blogspot.com