Jumat, 06 Januari 2017

Apakah Kita Sudah Menjadi Tetangga yang Bijak ?

Fardan_Ode™®|| : Kita sering berharap mendapatkan tetangga yang jauh lebih baik. Namun apakah kita sudah pantas mendapat 'predikat' tetangga yang baik? Kita selalu menuntut orang lain untuk berubah sehingga diri kita terlupa bahwa kita memiliki banyak hal yang harus kita ubah.

Dari Ibn mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana saya bisa mengetahui, apakah saya orang baik ataukah orang jahat?” beliau menjawab,

“Jika tetanggamu berkomentar, kamu orang baik maka berarti engkau orang baik. Sementara jika mereka berkomentar, engkau orang tidak baik, berarti kamu tidak baik.” (HR. Ahmad 3808, Ibn Majah 4223 dan dishahihkan al-Albani)

Termasuk dalam hal bertetangga, mungkin tetangga sebelah rumah yang kita anggap biasa-biasa saja sesungguhnya di hadapan Allah, dia telah memenuhi banyak hak dalam bertetangga dibandingkan diri kita. Hal-hal sederhana yang ia lakukan bernilai besar namun sering kita acuhkan atau kita anggap hal yang lumrah.

Wahai para wanita muslimah! Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan pemberian tetangganya walau pemberiannya hanyalah kaki kambing.” (HR. Bukhari no. 2566 dan Muslim no. 1030, dari Abu Hurairah).

Jadi jangan abaikan setiap hal kecil yang dilakukan oleh tetangga di sekitar rumah. Makanan sederhana yang ia berikan mungkin ia telah berjam-jam memasaknya hanya untuk diberikan sebagian kepada kita. Atau makanan yang kurang berselera untuk kita makan mungkin itu adalah makanan terlezat yang disukai anggota keluarganya. Kita selalu menilai makanan yang dibuatnya bukan menilai nilai ikhlas untuk berbagi meski hanya sekedar.

Abdullah bin Amr disembelihkan kambing oleh keluarganya. Ketika ia datang, ia berkata, "Apakah kalian telah memberikan kepada tetangga kita yang beragama Yahudi? "Apakah kalian telah memberikan kepada tetangga kita yang beragama Yahudi?"

Rasulullah bersabda, "Sahabat yang terbaik di sisi Allah adalah yang paling baik dari mereka terhadap sahabatnya. Tetangga yang terbaik di sisi Allah adalah yang paling baik dari mereka terhadap tetangganya." (HR. Tirmidzi).


LMF : Buku Bacaan Ode

Rabu, 04 Januari 2017

Antara Marxisme dan Agama

Penyusun : La Ode Muhamad Fardan °

Akhir-akhir ini kita sering mendengar mengenai isu bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia. Beragam alasan terlontar mengenai penolakan PKI, salah satunya karena dianggap ateisme (paham yang tidak percaya akan adanya Tuhan). Apakah benar komunisme yang menggunakan paham marxisme yang digagas oleh Karl Marx dan Friedrich Engels menganggap bahwa agama adalah bagian penghambat dari perubahan corak produksi?

Propaganda anti komunisme memang sedang santer terdengar, dimulai dari ciutan Felix Siauw yang mengatakan bahwa komunisme tidak suka agama, selain itu juga ada seorang Mayor Jendral (Purn) Kivlan Zen yang menantang Goenawan Muhammad karena menganggap pikirannya sudah berkarat saat membahas soal PKI (islammedia.id), dan terakhir yang paling santer adalah FPI yang menyuarakan penolakan terhadap PKI karena dianggap tidak mematuhi hukum agama. Bahkan tanpa saya sadari ternyata Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun menggunakan kalimat “Ateisme dianut oleh semua partai komunis di dunia” untuk contoh kalimat dari lema “Ateisme”. Barangkali sedikit banyak propaganda mengenai komunis (penganut ajaran marxisme) itu ateis (orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan) cukup berhasil.

Apakah tuduhan ateis yang disematkan pada partai-partai komunis berimbas juga pada ajaran marxisme? Jadi, sekali lagi apakah benar paham marxisme menolak keberadaan Tuhan? Hal pertama yang penting kita bahas adalah teori materialisme dialektika dan materialisme historis yang menjadi pokok pemikiran dari marxisme. Secara historis filsafat marxisme adalah filsafat perjuangan kelas proletariat melawan kaum borjuis untuk menumbangkan kapitalisme dan memunculkan sosialisme dari muka bumi ini.

Sebelum jauh ke sana, filsafat materialisme pada dasarnya berpandangan bahwa semua hal yang ada di bumi ini berawal dari materi, berbeda halnya dengan idealisme yang mengatakan bahwa semua hal yang berada di muka bumi ini berasal dari ide. Materialisme digunakan oleh filsafat marxisme untuk menjadi dasar filsafatnya.

Materialisme dialektika secara garis besar menyatakan bahwa semua materi yang ada di bumi ini mengalami pergerakan/dialektika, semisal batu yang ditumbuhi lumut di sungai bukan semata-mata lahir begitu saja, namun ada penyebabnya yaitu udara, air, dll. Sama halnya dengan kesadaran kelas proletariat atas penindasan yang dilakukan kaum borjuis tidak semata-mata datang begitu saja, namun disebabkan oleh materi-materi lain di bumi, semisal manusia.

Jika kita sering mendengar ungkapan bahwa sejarah adalah milik pemenang, sedangkan jika kita mengamati pada umumnya pemenang adalah orang/kelompok yang berkuasa. Marxisme lewat materialisme historis membantah sejarah kelas penguasa, semisal Napoleon Bonaparte menjadi kaisar Prancis yang menguasai hampir seluruh Eropa karena kegeniusan perangnya. Perang Dunia II terjadi karena sosok Hitler dengan pemikiran-pemikiran fasisnya, yang tertuang di buku Mein Kampf. Revolusi Oktober di Rusia adalah karena Lenin seorang dengan kemampuannya memahami Marxisme. Di dalam sejarahnya kaum penguasa, rakyat jelata tidak memainkan peran sama sekali. Mereka bukan faktor. Mereka hanya domba-domba yang mengikuti pemimpin mereka. Dan kalaupun mereka memainkan peran, hanya sebagai sekumpulan orang liar yang melakukan kerusuhan.

Materialisme Historis menjungkirbalikkan sejarah kaum penguasa, bahwa rakyat jelatalah aktor utama di dalam perubahan sejarah. Kalaupun ada figur-figur pemimpin, ia tidak lain adalah pengejawantahan dari kelas-kelas yang ada di dalam masyarakat. Materialisme Historis tidak menyangkal peran individu di dalam sejarah, tetapi meletakkannya dalam konteks kondisi masyarakat yang ada saat itu, dalam hubungannya yang dialektis.

Materialisme dialektik dan materialisme historis memang membicarakan materi sebagai dasarnya, alasannya sifat materi yang bisa diukur, dirasa, diraba oleh alat indra manusia. Kata kunci dari materialisme adalah dapat diukur oleh indra, sedangkan Tuhan tidak bisa diukur oleh indra, hanya bisa diyakini oleh setiap orang. Ranah kajian ada pada marxisme tidak sampai pada Tuhan yang sifatnya bukan materi. Penulis rasa tidak bijak jika kita menganggap ajaran marxisme sebagai ajaran yang anti Tuhan semata-mata hanya karena tidak menyentuh ranah Tuhan dalam kajiannya.

 

Menawarkan Keadilan

Permasalahan ketidakadilan merupakan permasalahan yang harus diselesaikan oleh setiap agama, begitu pula marxisme yang menentang keras ketidakadilan. Semisal ketika kita sering mendengar mengenai riwayat nabi Musa yang melawan kejahatan yang dilakukan oleh Fir’aun dan kemudian lewat kuasa Allah, nabi Musa menenggelamkan Fir’aun berserta bala tentaranya di sungai Nil. Marxisme memandang hal tersebut juga sebagai bentuk ketidakadilan, dapat digambarkan secara historis masa tersebut adalah masa perbudakan di Mesir. Raja Fir’aun selain menganggap dirinya sebagai Tuhan, dia juga melakukan eksploitasi terhadap budak-budak di Mesir.

Menurut penulis perbedaannya hanya pada tataran sosok yang muncul pada cerita nabi Musa tersebut, marxisme menganggap sosok merupakan wujud representasi yang muncul dari kelompok kelas, bukan berarti hanya satu orang (nabi Musa) saja yang melakukan perjuangan meruntuhkan ketidakadilan di Mesir, namun juga didukung oleh kaum budak pada masa itu.

Contoh lain di Indonesia misalnya PKI yang menganut ajaran marxisme yang menjadi momok saat ini karena dianggap anggotanya adalah ateis, secara sejarah menjelaskan hal tersebut adalah salah besar. Tidak heran dalam sejarah pergerakan negara Indonesia pun kita menemukan nama-nama tokoh-tokoh komunis seperti, Haji Misbach, Tan Malaka, Alimin, yang menegaskan keberpihakan nilai-nilai agama Islam dalam arena perjuangkan kemerdekaan negara Indonesia.

Lain halnya dengan paham marxisme yang menjelaskan mengenai teori pencurian nilai lebih yang dilakukan oleh kaum borjuis kepada kaum proletariat merupakan bentuk ketidakadilan. Penulis rasa sama dengan ajaran Islam, bahwa mengambil sesuatu yang bukan hak merupakan perbuatan dosa.

Lalu bagaimana dengan pernyataan Marx bahwa agama itu candu? Penulis rasa dalam memahami sesuatu harus dipahami pula konteksnya. Pada masa itu Karl Marx mengatakan hal tersebut karena memang dogma-dogma agama dijadikan alat untuk melegitimasi aturan-aturan yang menindas rakyat. Saat ini pun menurut penulis masih sama, rakyat masih terlena oleh logika mistika yang membuat rakyat pasrah akan keadaan. Ini pula yang ditolak oleh ajaran marxisme. Semisal ceramah ustaz yang mengatakan “Kamu miskin? Hidup kamu susah terus? Ya, itu karena kamu sedang diuji oleh Allah SWT. Perbanyaklah doa.” atau ceramah-ceramah Mario Teguh yang terlalu banyak berandai-andai dalam menyelesaikan masalah. Bukankah di Islam pun dalam salah satu ayat di Al-Quran menjelaskan bahwa Allah tidak akan pernah mengubah kondisi suatu kaum jika kaum tersebut tidak berusaha mengubahnya.

Jika kita kontekskan dengan masalah di Indonesia, ketika Riau mengalami bencana kabut asap, beberapa umat Islam banyak yang melakukan salat gaib untuk meminta hujan dan menghentikan kebakaran. Hal tersebut menurut penulis tidak salah, namun yang harus digarisbawahi permasalahan kebakaran hutan di Riau bukan semata-mata kehendak Allah melainkan ada materi yang menyebabkan. Korporasi kelapa sawit yang menginginkan penggunaan lahan di sanalah yang menyebabkan hal itu. Lalu kenapa kita terus meminta keajaiban yang diberikan oleh Tuhan namun tidak mencoba mengadili pelaku pembakaran hutan tersebut? Hal yang perlu diingat pula Tuhan sebagai “Prima Causa”, penyebab segala sesuatu di dunia ini terjadi. Tetapi harus diingat pula, terdapat “Secondary Causa” yang juga turut serta menciptakan permasalahan di bumi ini.

Jadi dapat penulis katakan agama (Islam) dengan marxisme punya kesamaan filosofis yaitu pembelaan terhadap kaum tertindas, barangkali yang membedakannya nanti hanya setelah kaum tertindas terbebas dari penindasan. Dalam perjuangan marxisme berbasiskan hubungan relasi produksi, sedangkan agama (Islam) berbasiskan wahyu Tuhan.


#LMF

Selasa, 03 Januari 2017

Musuhmu Birokrat dan Kebijakannya!

“Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan,...”

Oleh : La Ode Muhamad Fardan |LMF|

Fardanode™©|Konsolidasi, audiensi, aksi, orasi, biasa dilakukan oleh para aktivis kampus yang mempertanyakan kebijakan-kebijakan kampus yang tidak sesuai dan tidak pro terhadap mahasiswa. Bagi kalangan "mahasiswa biasa" hal itu tidak perlu dilakukan karena barangkali akan merusak gelar mahasiswanya. Tapi menurut "aktivis kampus" hal itu perlu dilakukan, karena mahasiswa itu harus kritis dan jangan mau diperlakukan seenaknya oleh birokrat kampus. Itu salah satu permasalahan mahasiswa sekarang, terpecah belah akibat beda pemahaman antara "mahasiswa biasa" dengan "aktivis kampus".

Kebanyakan aktivis kampus biasanya juga menjadi anggota suatu organisasi yang berada di luar kampus atau yang sering dibilang "Organ Ekstra". Biasanya ketika masuk ke dalam organ ekstra, dalam kaderisasinya diberikan pemahaman mengenai garis politik organ ekstra tersebut. Sebut saja HMI, PMII, GMNI, dan KAMMI punya pandangan garis politik yang berbeda-beda. Jika para aktivis bergabung dalam organ ekstra kampus yang berbeda-beda pastinya mereka akan mempunyai pemahaman atau ideologi berbeda-beda pula. Barangkali berawal dari beda garis politik ini mahasiswa menjadi terpecah belah kembali. Setelah terpecah belah antara "mahasiswa aktivis" dan "mahasiswa biasa", sekarang diperparah dengan terpecahbelahnya antara mahasiswa aktivis yang mempunyai garis politik berbeda.

Berawal dari garis politik yang berbeda-beda sampai akhirnya para aktivis kampus saling baku hantam demi memperebutkan kekuasaan di kampus yang mereka diami. Ini menjadi kerugian bagi aktivis kampus yang tidak mau mempunyai garis politik dari organ ekstra, karena yang ia tahu hanya bagaimana melawan kebijakan-kebijakan kampus yang tidak sesuai. Apa yang aktivis kampus tanpa garis politik organ ekstra bisa lakukan? Mungkin saja berdoa agar aktivis kampus bisa bersatu kembali. Tapi sepertinya sulit, jika tidak ada yang meredam terlebih dahulu di antara mereka.

Sampai kapan mahasiswa terpecah belah? Entah. Mungkin para birokrat sedang duduk santai menikmati kursi nyamannya sewaktu para aktivis kampus saling berkelahi tentang garis politiknya masing-masing. Tanpa aktivis kampus yang menyikapi kebijakan-kebijakan, para birokrat tambah seenaknya membuat kebijakan yang tidak pro mahasiswa. Apa yang terjadi jika itu terjadi? Mahasiswa kembali yang akan merugi.

Teman-teman aktivis kampus, sudah saatnya teman-teman kembali bersatu. Kembali pikirkan tentang pemahaman aktivis kampus dahulu bahwa menyikapi kebijakan kampus yang tidak sesuai dengan mahasiswa lebih penting daripada terus mengedepankan ego dan kepentingan dari organ ekstra.

“...Wahai kalian yang rindu kemenangan. Wahai kalian yang turun ke jalan. Demi mempersembahkan jiwa dan raga untuk negeri tercinta.”

Oleh : La Ode Muhamad Fardan |LMF|

Analisis Perbandingan Gerakan Mahasiswa Indonesia – Jerman

Analisis Perbandingan Gerakan Mahasiswa Indonesia – Jerman [Part I]

Oleh : La Ode Muhamad Fardan

[Berhubung saya tidak akan mencetak-fisik hasil penelitian kali ini, kolom ini khusus saya buat untuk mendokumentasikan sekaligus menyebar-luaskan temuan di lapangan, agar, tidak hanya, mangkrak di perpustakaan. Sebuah bangunan megah yang kini ramai mulut penghuni, tapi pikiran tidak se-ramai mulutnya]

Sebuah Pengantar 

Suatu hari, dalam wawancara khususnya bersama Majalah Balairung, Benedict Anderson berkata bahwa nasib suatu negara tergantung pada kaum muda. Selama masih ada anak muda, generasi baru yang tidak terlalu teracuni oleh rezim keropos (Orde Baru—red), jangan khawatir.

Antropolog berkebangsaan Irlandia ini memisalkan kaum muda sebagai sekumpulan orang yang “menentukan arah” dimana kapal bernama “nasionalisme” sedang terguncang dan hendak tenggelam. Di sisi lain, jika kaum muda hanya ribut dengan kaumnya sendiri, kapal tersebut bisa hancur. Menurut Ben, Nasionalisme itu obat yang paling baik, sebuah obat yang hanya bisa ditawarkan oleh kaum muda.

Pandangan Benedict Anderson tidak hanya menunjukkan adanya hubungan penting antara nasionalisme dan kaum muda, akan tetapi sosok “yang muda” telah menjadi suatu kaum yaitu sebuah identitas (kelas) yang khas. Jika merujuk pada pernyataan Ben, ke-khas-an tersebut ada pada bagaimana “yang muda” menggerakkan kapal nasionalisme di masa krisis, di saat penumpang-penumpang lain tidak mengerti cara mengemudikan kapal. Dengan kata lain, kaum muda adalah mereka yang siap memegang kendali atas sesuatu (dalam hal ini negara) ketika sang nahkoda dianggap tidak menjalankan perannya dengan baik.

Apa yang dikatakan Ben tentu mengingatkan kita pada beberapa peristiwa yang telah terjadi di negara ini. Rentetan peristiwa “kenegaraan” yang selalu melibatkan narasi pergerakan kaum muda, utamanya mahasiswa. Pertama, bagaimana kaum muda—yang telah mengenal pendidikan itu—mempelopori nasionalisme di tiap daerah, dan berhasil mendeklarasikan terbentuknya sebuah negara baru bernama Indonesia. Kedua, kaum muda juga lah yang berhasil memukul mundur Presiden Soekarno dari kursi jabatan.

Terulang pada peristiwa berikutnya, Presiden Suharto mundur sebagai hasil tuntutan kaum muda pada masa reformasi 98.

Ketiga peristiwa tersebut—selaras dengan apa yang dikatakan oleh Benedict Anderson—mencerminkan adanya hubungan yang nyata antara kaum muda dan suatu perubahan masyarakat, juga tentang siapa kaum muda itu sendiri. Kaum muda yang saya maksud di sini adalah mahasiswa; sebuah identitas yang melekat pada perannya sebagai kaum muda terpelajar, atau yang tengah belajar di perguran tinggi negeri.Seperti yang kita ketahui, kemerdekaan Indonesia dipelopori segolongan anak muda yang sempat merasakan pendidikan di Belanda. Fakta ini secara apik ditulis oleh Harry J. Benda dalam artikel Kaum Inteligensia Timur sebagai Elite Politik.

Gerakan mahasiswa ini lah yang menyebabkan proses evolusi politik terjadi dan tuntutan kemerdekaan Indonesia dilayangkan.

Beralih pada masa pasca-kemerdekaan, pemerintah Indonesia mendirikan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mendidik kaum mudanya agar lebih “terpelajar”. Sekolah-sekolah yang didirikan oleh Belanda ditutup seketika dan diubah dengan sistem pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara. Di UGM sendiri, gerakan mahasiswanya lebih dulu ada dibandingkan organisasi kemahasiswaan secara legal formal. Saat itu, mahasiswa terlibat dalam usaha pembangunan universitas, seperti penataan infrastruktur alat perkuliahan dari Jakarta ke Fakultas Kedokteran dan pembentukan Kedokteran Gigi di Fakultas Teknik Yogyakarta. Beberapa Balai Pendidikan di Klaten, Surabaya, Semarang juga dipindahkan ke Yogyakarta.

Baru lah pada tahun 1950, berbagai gerakan mahasiswa eksternal maupun internal kampus mengorgansir diri untuk membentuk satu bentuk “pemerintahan” politik alamahasiswa. Ialah Majelis Mahasiswa (MM) dan Dewan Mahasiswa (Dema), MM merupakan representasi badan legislatif dan Dema berperan sebagi badan eksekutif. Kedua badan tersebut berada di bawah payung Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (KM UGM) dan disahkan oleh  Putusan Sementara Senat Universitet No. 891/Sn/1/52. Dalam laporan tahunan UGM pada 1952, Keluarga Mahasiswa dirikan sebagai bentuk kesatuan seluruh masyarakat Universitet Negeri Gadjah  Mada, sedangkan Dema ditetapkan sebagai bentuk perwakilan Keluarga Mahasiwa tersebut yang dalam hal-hal tertentu mengenai kepentingan mahasiswa dapat diminta pendapatnya oleh instansi-instansi universitet, dan juga atas kehendak sendiri dapat mengajukan pendapatnya terhadap hal-hal lain. Seiring berjalannya waktu, Dewan Mahasiswa bertransformasi menjadi BEM KM-UGM terhitung sejak tahun 1991.

Berbeda dengan Indonesia yang baru memiliki institusi pendidikan perguruan tinggi pada abad 19, Jerman telah mendirikan perguruan tinggi sejak abad 14. Tujuan awal didirikannya perguruan tinggi adalah mempersiapkan tenaga penerus bagi keberlangsungan hidup Gereja Katolik Romawi. Hanya ada 4 fakultas yang dibangun saat itu, antara lain Farmasi, Hukum, Teologi, dan Filsafat. Apabila dilihat dari keilmuan yang diajarkan, mahasiswa diproyeksikan untuk menjadi generasi “pemikir” guna memperluas pengaruh kekaisaran ke berbagai wilayah di Eropa.

Salah satu perguruan tinggi di Jerman yang didirikan pada abad 14 adalah Universitas Freiburg, ialah universitas kedua tertua setelah Heidelberg.

Kendati lebih dulu mengawali pendirian perguruan tinggi, kesadaran mahasiswa universitas Freiburg untuk mengorganisir dan membentuk suatu kesatuan (struktur) baru lah tumbuh pada abad 19. Keadaan tersebut dipengaruhi oleh ditetapkannya Baden-Württemberg sebagai sebuah negara bagian Jerman selatan, dan pecahnya Revolusi Perancis dimana mahasiswa merupakan penggerak utama. Keberhasilan Revolusi Perancis salah satu faktor terkuat dalam menumbuhkan kesadaran bahwa mahasiswa merupakan subjek vital bagi terciptanya suatu kondisi “perubahan”.Gerakan Mahasiswa pertama di Universitas Freiburg ialah Verfasste Studierendenschaft (VS) yang kelak berganti nama (dan formatnya) menjadi AStA pada tahun 1977, dan mengalami beberapa perombakan lagi setelahnya.

Verfasste Studierendenschaft atau Serikat Mahasiswa ditetapkan secara sah oleh Pemerintah Baden-Württemberg tahun 1953.Oleh karenanya, Serikat Mahasiswa ini berada di bawah naungan pemerintah Baden-Württemberg dengan model perwakilan mahasiswa dari setiap universitas. VS mempunyai hak penuh untuk terlibat aktif dalam berbagai macam agenda politik. Kondisi ini mengindikasikan bahwa gerakan mahasiswa saat itu sengaja dipersiapkan untuk mendukung terciptanya demokrasi yang ideal. Institusi pendidikan tidak berperan apa-apa dalam keberlangsungan gerakan mahasiswa, selain mempersiapkan nama-nama untuk mengisi Verfasste Studierendenschaft.

Tahun 1977 Pemerintah Baden-Württemberg mengganti Verfasste Studierendenschaft dengan AStA dan mengembalikan wewenangnya kepada pihak internal kampus. Pada fase ini, AStA sangat bergantung pada universitas khususnya dalam hal pendanaan. Di tahun ini juga kondisi represif menyebabkan AStA hanya boleh menyelenggarakan kegiatan yang berbau seni, akademis, dan dilarang terlibat dalam agenda-agenda politik. Guna melawan kondisi tersebut, lahir lah ü-AStA pada pertengahan akhir tahun 1980. Satu hal yang harus digarisbawahi bahwa para pegiat ü-AStA juga mengisi struktur AStA. Dengan kata lain, perbedaan antara ü-AStA dan AStA hanya ada pada status legal formal. Kondisi ini berlangsung hingga tahun 30an tahun, dan puncaknya Pemerintah Baden-Württemberg  mengakui keberadaan Verfasste Studierendenschaft pada tahun 2012. Sejak saat itu, ü-AStA di Universitas Freiburg membubarkan diri karena tuntutan telah berhasil direalisasikan oleh Pemerintah. Kini, AStA berhak untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan politik dan mendapat dana lebih banyak dari pihak rektorat.

Dari pembahasan di atas dapat ditarik satu benang merah bahwa BEM KM-UGM dan AStA Uni-Freiburg pada awal kemunculannya, merupakan gerakan mahasiswa di tingkat universitas yang bersinggungan langsung dengan berbagai fenomena politik tingkat nasional. Seiring berjalnnya waktu, gerakan mahasiswa yang tersebar lantas mengorganisir menjadi satu kesatuan “pemerintahan” politik alamahasiswa. Keduanya hendak menjiplak sistem perpolitikan Trias Politica yang dicetuskan oleh Montesquieu, di mana sistem politik terdiri dari 3 elemen Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif. Namun, penelitian kali ini lebih spesifik membahas peran lembaga eksekutif kemahasiswaan.

Oleh : La Ode Muhamad Fardan

Sabtu, 31 Desember 2016

La Ode Muhamad Fardan : Jejak CeritaKu 2016

La Ode Muhamad Fardan™|Jejak Cerita !

Cerita-cerita di Sepanjang 2016 yang Tak Selalu Berjalan Baik Tapi Ada Baiknya Tetap Diingat demi Pembelajaran di Masa Mendatan

Tulisan ini dibuat semata-mata agar dapat mengingatkan diri apa saja yang sudah dilalui setahun terakhir, agar dapat dibaca dan dikenang-kenang lagi beberapa tahun kemudian sambil tersenyum-senyum.

Rasa-rasanya tahun ini cukup terdokumentasikan dengan baik. Tulisan-tulisan acak-adut dari saya adalah hasil kontemplasi di tiap kejadian lebih banyak dibuat di tahun ini, dibanding tahun lalu. Sedihnya paling banyak, kesannya ya lebih banyak curhatnya dibanding berkarya.

Akhir tahun lalu, seseorang mendoakan sesuatu di penghujung tahun. Semoga saya bahagia selalu, tumbuh dalam kebijaksanaan semesta. Tahun ini, juga banyak sekali orang-orang yang mendoakanku terutama adalah "IBU" saya dan NurHikmah Kekasih Saya, serta teman-teman dan keluarga-keluarga saya. "Doa yang sama, sehat-sehat dan bahagia selalu".

#Awal Cerita : 2016#

Januari berlalu dengan sangat baik. Seseorang yang kutemui tahun 2013 sebelumnya menjadikan cerita di awal 2016 adalah sesuatu yang layak, Ia adalah (HIKMAH). Atas dorongannya juga, di Februari Saya memutuskan untuk Wisuda alias menyelesaikan Study Strata Satu (S-1 Komunikasi)


Maret yang sejak awal tahun kunanti-nantikan, Berhubung bulan maret tersebut adalah Hari dimana saya berada di Dunia ini, kedatangan  bulan ini berubah menjadi bom waktu yang meledak saat itu juga. Saat itu dibanding marah, saya malah sedih. Bagaimana bisa saya patah hati kepada orang yang mengajariku caranya bermimpi? Dia benar. Dia ajariku cara menghadapi kecewa agar saya masih bisa berdiri selepas apa yang terjadi dibulan ini, begitu banyak masaalah yg mengajarkan kita untuk menjadi insan yang dewasa

Ragam kegiatan kuikuti di April. Sekadar pelarian, mencari pengalaman, dan itu keputusan. Tapi apa daya, lagi-lagi kekecewaan menghampiri di sepanjang April. (masih tetap seperti bulan maret / Nganggur).

Lalu Mei datang, Tawaran pekerjaan menjadi reporter portal berita online ku terima. Keputusan yang tergesa-gesa menyebabkan keputusan bodoh lainnya. Aku berhenti tepat 3 Bulan sejak memulainya. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan.

Juni adalah momen puasa dan lebaran. Tak ada yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya kecuali pertanyaan (Sekarang sudah Kerja atau belum) dan kapan menikah. pertanyaan tersebut selalu ku jawab dengan spontan: saya mau cari kerja yang layak untuk keluarga duluh , setelah itu baru menikah.

melewati Juni dengan biasa-biasa saja, selain di akhir momen dimana giat untuk menjadi seorang penulis,tanpa mengharapkan apa-apa, dan tiba-tiba saya berpikir untuk mencari sesuatu yang lebih menghasilkan, tapi apa daya ini belum saatnya, dan tetap masih menjadi penulis walaupun penulis yg bersifat  pribadi, opini ,dan lain-lainnya. saya selalu memotivasi diri  bahwa ini adalah proses bagi saya untuk kedepannya, walaupun itu dimulai dari hal-hal kecil. "Mulailah dari diri sendiri"

Juli menjadi sedikit permulaan untuk segala hal. saya memutuskan untuk mengikuti ragam  kegiatan kerelawanan, pelatihan hingga komunitas. walaupun itu komunitas kecil , sperti mengikuti pelajaran komunitas blogger yang allhamdulillah terdiri dari beberapa teman jurnalis sulawesi tenggara. saya bertemu orang-orang baru. Kesibukan yang beruntun membuatku seperti menemukan dunia baru. sedikit merasa hidup dibanding bulan sebelumnya. akhirnya saya putuskan untuk berdamai dengan keadaan, dan yang terpenting berdamailah dengan diri sendiri, walaupun menghasilkan karya-karya yang kecil dimata teman-teman. "Berusaha dan terus Berusaha' jangan pernah untuk putus asa"

Agustus datang dengan sukacita. saya mulai rajin mengisi blog yang sudah sangat usang ini. Di penghujung Agustus dan awal September saya mengikuti pelatihan keberagaman blogger selama seminggu, yang diadakan oleh salah satu media online kota kendari. Oktober saya menyibukkan diri dengan membantu teman-teman yang selalu datang mengeluh dikamar kecil lorong olala depan kampus baru unhalu untuk memberikan arahan tentang isi naskah propsal dan unjian hasil yang mereka hadapi di jurusan komunikasi. November, aku menjadi relawan panitia rekrutmen sebuah kegiatan. Diberi kesempatan sama teman untuk bertemu dan mewancarai salah seorang penulis kesukaan  (kalau ingat ini rasanya pengen sembunyi! ada sesuatu yang terjadi disela-sela wawancara antara saya dan penulis handal itu :).

"Hingga Desember, terlibat dalam sebuah aksi blogger sosial untuk sebuah tanggung jawab yang diberikan adik-adik saya " hingga penghubung tahun.

Dari semua yang sudah terjadi, mengharapkan pekerjaan yang layak masih jauh, insya allah ditahun yang akan datang ini semua berubah, yang jelasnya perubahan yang makin baik lagi untuk masa depan. amiiin...

Satu-satunya yang kusesali di tahun ini. Di ujung tahun saya kembali dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman tentang pekerjaan dan sebuah tanggung jawab untuk  pernikahan. "yang jelasnya pertemuan hari ini : sabtu,31-Desember-2016 akan kurangkai dalam sebuah tulisan, dan inilah hasilnya". walaupun tulisannya acak-acakkan tpi inilah Karya Ku :)

#La Ode Muhamad Fardan, S.I.K
Maaf ya untuk semua teman-teman seangkatan saya,
Nama diatas saya menulisnya dengan sangat lengkap. bukan maksud saya menyinggung tapi ini adalah sebuah motivasi dari saya untuk kalian.
#KOMIK 11

"Beberapa perbincangan kami diujung tahun ini akhirnya membuatku mengambil kesimpulan. Wajar saja kalau kelak kami berada di lingkaran yang sama, yang perlu kulakukan hanyalah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan.

Di suatu masa, saya Pasti Menemukannya."Biar Waktu Yang Menyimpulkan"

Bagaimanapun 2016 benar-benar memberikan kejutannya. Sejak awal hingga akhir, banyak cerita yang tak kuprediksi terjadi. Untuk itu semuanya saya ingin mengucapkan, terima kasih untuk semua orang yang menemaniku sepanjang 2016.

"Terima kasih untuk mereka-mereka yang sudah mengajariku banyak hal. Tetap setia mendengarkan keluh kesah. Tetap bersabar menjadi tempat repetan setiap hari. Tetap ada saat saya butuh pegangan dan tempat bersandar.

Makasih Semua tentang "HikmaH"

Untuk mereka yang sudah bersamaku sejak lama, atau yang baru mengenalku. Untuk mereka yang memutuskan pergi dan tak kembali atau yang pergi lalu sesekali hadir. Terima kasih. Kalian ajarkan saya hal-hal yang perlu kupelajari.

Juga untuk segenap pembaca blogku. Terima kasih sudah setia membaca tulisan-tulisanku. Sudah mendukung hingga sekarang. saya akan berusaha lebih keras lagi untuk menghadirkan cerita-cerita dan tulisan-tulisan yang menyenangkan hati kalian semua.

*Permohonan maaf dari saya untuk adik-adik saya yang datang dari kampung (Bone-Bone Kec.Batukara) untuk tahun baru bersama sama disini "Kota Kendari", maaf saya tidak bisa menemani kalian*.

"Tetap sehat dan bahagia, kawan-kawan" !

Selamat datang, 2017!

#LMF : Judulnya memang sengaja sepanjang itu. Sesekali harus memakai judul yang panjang-panjang begitu.
:)

Oleh : Odenews _ La Ode Muhamad Fardan

Selasa, 22 November 2016

Terkhusus Untuk Kekasih Ku Nurhikmah

Sayang selamat ulang tahun...!
Meskipun usiamu sudah bertambah, tapi rasa sayangmu kepadaku janganlah berkurang sayang... Karena kamu mampu membuatku bahagia.

Selamat Ulang Tahun sayangku.. Semoga aku menjadi orang terakhir yang ngucapinnya, karena aku ingin menjadi yang terakhir untuk menjadi pendampingmu..

Sayang, selamat ultah.. semoga kita selamanya berbagi kasih untuk satu cinta tepat pada satu hati dan semoga Allah selalu menjaga rasa sayang yang kau beri untukku selama ini...

Selamat Ulang Tahun sayang…
Dengan bertambahnya usiamu, semoga bertambah pula kebahagiaanmu.
Dan bertambah juga rasa cintamu padaku, sebelum saat hari ini terlewatkan, Izinkan saya untuk menuliskan rasa ini dengan tanganKu yang Penuh Kasih ini... :)

Selamat ulang tahun kekasihku, semoga umurnya berkah dan selalu dalam lindungan_Nya dan satu harapanku di hari bahagiamu, Kita bisa bersama dalam satu cinta yang utuh...

Semoga dihari kelahiranmu, kamu diberikan umur panjang, sehat selalu, serta selalu diberi kemudahan dalam segala hal dan selalu dilimpahkan rejeki yang halal, dan serta selalu diberikan kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat sayang...Amiin

Selamat ulang tahun kasihku...
Tetaplah menjadi dirimu yang paling baik dan menggemaskan...

Sayang...
Tiada kata yang indah yang dapat saya berikan, hanya doa yang mampu aku panjatkan untuk kebahagiaan dan kesuksesanmu sayang..
Aku sangat mencintaimu, tanpamu hidup ini tak berarti...

Ditengah dinginnya malam...
Aku menjaga dan menunggu datangnya hari special...
Dimana hari itu aku ingin menyapa dirimu dengan kata yang indah
Dengan kuucapkan: Selamat Buat Kamu Sayang...

Disaat kamu tiup lilin dan seketika itu juga lilinya akan padam, tapi aku berharap cinta yang kita jalin tidak seperti lilin itu _

Selamat ulang tahun SayangKu..
semoga panjang umur, sehat selalu, makin sayang pada kekasihmu ini, dan semoga semua cita-cita dan keinginanmu tercapai sayang...!
Amiiin !!!

Untukmu Sayang "NurHikmah" dari Orang yang Menyayangi Mu (Ar Ode Muhamad Fardan)