Sabtu, 22 Oktober 2016

Ibu Selalu Mendoakan Kita di Sepertiga Malamnya


1. Ibu merasa ada yang hilang ketika anaknya merantau
Ya, hari-hari yang biasanya diisi oleh pembicaraan dengan anaknya, rengekan minta uang dari anaknya, pergi ke pasar yang diantar anaknya, kecupan di tangannya ketika hendak berangkat sekolah, tiba-tiba hilang begitu saja. Kenangan-kenangan ini membayangi hari-hari pertama seorang ibu yang ditinggal merantau anaknya. Bahkan bisajadi ia tidak nyenyak tidur memikirkan kondisi kita semua.
2. Khawatir yang berlebihan
Adalah wajar seorang ibu khawatir kepada anaknya. Hari pertama berangkat merantau, di hari itu pasti ibu menanyakan keadaan kita, sudah sampai di lokasi atau belum, bekal makanan cukup atau tidak, uang saku bagaimana, dan sebagainya. Ketika di kampung terjadi bencana, misalnya gempa, meski tidak sampai di tempat rantau, ibu bisa panik luar biasa, karena tidak mau terjadi apa-apa dengan anaknya. Apalagi jika ia melihat berita di televisi bahwa ada kejadian buruk di kota rantau kita, bertambah gusar hati ibu di sana.
3. Belajar menggunakan handphone atau media lain untuk menghubungi kita
Bagi beberapa ibu yang tadinya tidak begitu penting urusan komunikasi dengan handphone, ia harus belajar menggunakannya hanya untuk menghubungi kita. Bahkan mungkin juga dengan media sosial kekinian, ia terpaksa membuat akun untuk dapat melihat aktivitas kita. Maka jangan heran jika suatu hari ada permintaan pertemanan dari seseorang yang ternyata adalah ibu kita sendiri, ia hanya ingin mengetahui apa yang kita lakukan di sini. Maka adalah salah ketika ibu menelepon kita, lantas kita tidak melayani dengan alasan yang tidak diterima, ibu hanya rindu pada kita.
4. Ibu akan repot luar biasa ketika mendengar berita kamu akan pulang
Betapa bahagianya hati seorang ibu ketika mendengar anak yang sudah lama ia rindukan akan pulang dalam waktu yang dekat. Ibu berusaha mempersiapkan tempat tidur kamu, membersihkan kamar kita, membeli sesuatu untuk kita makan nanti, dan lain-lain. Ia ingin ketika kita pulang, kamu suka dengan kondisi rumah.
5. Ibu selalu mendoakan kita di sepertiga malamnya
Ketika mulai berusaha menahan rasa rindunya, dan mencoba melepaskan kita, ibu melakukannya dengan curhat di hadapan Allah, Tuhan yang Maha Mendengar. Ia mendoakan kita di sana, memohon kebaikan kita. Maka jangan heran jika di suatu malam saat kamu tertidur, seperti ada yang memanggil nama kamu, yang menjadikan kamu terbangun. Bisa jadi di saat itu ibu sedang meluapkan kerinduannya lewat Tuhan, dan Tuhan menyalurkannya kepada kita. Maka bangunlah dan sambutlah doanya dengan juga mendoakannya di malam itu juga.
6. Terkadang ibu merasa kamu akan pergi selamanya
Kadang rasa rindu yang ditahannya menyebabkannya merasa bahwa ia harus merelakan kita. Terkadang ibu merasa kita tak akan kembali lagi, apalagi jika suatu hari kita pergi karena pernikahan. Rasanya berhenti sudah perannya sebagai ibu. Anak yang paling disayanginya sudah punya keluarga sendiri, dan pasti akan sangat jarang mengunjungi.

Mungkin hanya lima itu yang dapat penulis tuliskan di kesempatan ini. Pada intinya, ketika kita berada di perantauan, ada ibu atau keluarga yang merindukan kita di sana, yang terus mendoakan kita di sana. Maka, apakah benar jika di tempat rantau kita bertindak sesuka kita? Ibu menyimpan harapan besar kepada anaknya, dan adalah wajib bagi kita untuk mewujudkan harapannya. Ketika kita pulang kampung nanti, berikanlah senyum terbaik untuk ibu, dan berilah ia kabar gembira.

Penulis/Creative : La Ode Muhamad Fardan

Tuhanpun Berbagi

Sedang Tuhanpun Berbagi _ Creative By : La Ode Muhamad Fardan

Sejauh saya mengerti, yang menjadi pokok soal dalam Islam ialah bagaimana kekayaan diperoleh dan bagaimana derita kemiskinan sampai diperoleh. Yang diajarkan oleh Islam bukanlah 'kaya' atau 'miskin', melainkan sikap terhadap kekayaan dan kemiskinan. Termasuk juga sikap terhadap kemunkaran sistem yang mengatur adil tidaknya harta a-lam ini dibagi kepada manusia. Sikap tersebut tak lain adalah bagian dari spiritualitas. Bagian lain dari spiritualitas ialah panggraita, meraba lebih dalam terhadap ada tidaknya nasib. Lihatlah kartu domino. Kartu-kartu sudah tertentu. Berbagai kernungkinan permainan juga bisa dipelajari. Namun persoalan pembagian kartu, kapasitas manusia hanya mengocoknya. Silahkan lakukan seratus atau seribu kocokan, tapi Anda tidak bisa menentukan apa dan bagaimana kartu Anda. Anda tidak bisa menjamin bahwa Anda akan bebas clan balak-6. Ada faktor X, peranan lain di Mar diri manusia yang dikandung oleh permainan domino. Atau sepakbola. Silahkan bikin coaching yang canggili. Dad ketrampilan individu sampai pola permaman. Namun coba gambarlah garis larinya bola selama 90 menit. Anda sama sekali tidak akan pemah bisa merancang bagaimana gambar itu. Di saat lain Anda hanya bilang 'bola itu bundar". Ada faktor X, peranan lain di luar diri manusia yang dikandung oleh permainan sepakbola. Tentu saja tidak analog bahwa sistem perekonomian yang kita anut dewasa ini sama dengan kocokan domino. Namun yang penting peranan manusia itu terbatas sampai titik tertentu. Kita tidak bisa menjamin 100% bahwa besok pagi kita masih hidup. Sekian persen jaminan itu tidak berada ditangan kita. Kita hanya bisa mengusahakan kesehatan dan ketertiban hidup, namun bukan penolakan atas maut seperti yang kita rindukan setiap hari. Di sisi kita, Allah berbagi. Allah menentukan batas fungsiNya sendiri dalam kehidupan manusia. Kehidupan jangan diserahkan 100% kepadaNya, jangan pula 100% pada diri kita sendiri. Namun itu persoalannya yang bikin hidup kita mudah karib dengan tuyul.


Creative By : La Ode Muhamad Fardan

Jumat, 21 Oktober 2016

Tentang Kami Sebagai Anak Perantau

LA ODE MUHAMAD FARDAN


         NASIB ANAK RANTAU

di malam yg dingin ini
aku teringat akan kampung ku
kampung tempat orangtuaku
kampung tempat tingkalku
kampung yg tersimpan
sejuta kenangan
ini lah nasibku
nasib jadi anak rantau
yang jauh dari sanak keluarga
inilah nasibku
nasib hidup sendiri
di kota orang
inilah nasibku
nasib anak orang tak punya
yang jauh dari kemewahan
dicela,dihina,dimaki
ini lah sarapanku
sarapan tiap hari

By : La Ode Muh Fardan
NASIB ANAK RANTAU
Kala senja datang menghampiri bumi
Kegelapan pun datang dengan sendiri
Kesejukan udaran meniup rambut helai demi helai
Keramain berubah menjadi sepi dan sunyi
Hanya terlihat percikan mentari yang membenamkan diri
Tiada terasa air mata pun ikut membasahi bumi
Kala jiwa teringat tanah kelahiran
Kala hati rindu akan kampung halaman
Begitulah nasib anak rantau kala siang akan berganti malam
Seakan hidung tertusuk sembilu yang tajam
Hidup dirantau bukanlah senang dalam berjuang
Kadang makan kadang hanya sarapan kacang
Kadang nyanyian perut kosong yang dibawa untuk bertangang
Begitulah rintanggan yang harus di hadang
Laksana para pejuang yang kelaparan dalam berperang
Hidup dirantau seperti anak tak bertuan
Tiada orang yang perduli kala sakit menyerang badan
Hanya isak tangis menjadi teman dibawah remang cahaya bulan
Begitu pilu badan di atas tikar pandan yang dianyam tangan
Begitulah nasib badan yang malang
Bagaikan kerbau yang terjepit di kandang
Kurus badan hanya tinggal tulang
Demi mencari uang untuk mebayar hutang
Hutang nyawa terhadap orang tua



NASIB ANAK RANTAU



Dengan linang air mata
Ku susun kata
Dalam balutan sedih
Ku tulis bait demi bait
Tentang rasa ini
Tentang sedih ini
Tentang salah ini
Tentang dosa ini
Aku tau aku salah, berdosa
Tlah membuat ibu sedih
Akupun tau ibu kan tetap tersenyum
Walau sedih, takan pernah engkau murung
Ibu anakmu tak bisa pulang lebaran tahun ini
Untuk bersimpuh memohon maafmu
Untuk bersyujud menghiba doamu
Di hari nan fitri
Aku tau…. Ibu
Tak cukup secarik kertas
Tuk tuliskan permintaan maaf ini
Tak layak hanya goresan pena
Tuk coretkan permohonan ampun ini
Namun apalah dayaku
Kini terpenjara jarak
Tersekat ruang luas
Terhalang bentangan cakrawala
Ibu…
Maklumilah anakmu ini
Ampunilah anakmu ini
Doakanlah anakmu ini
Maaf dan doamu
Itu yang ku pinta
Itu yang ku damba

Kamis, 28 Juli 2016

KHYALAN MAHASISWA SALAH JURUSAN

       ANALOGI HIDUP MAHASISWA SALAH JURUSAN  (Sumber Komik Mahasiswa )

Jalan hidup gue di bangku perkuliahan ini ga semulus kepala botak dosen gue dan yang jelas ga semulus pahanya je ka te pat lapan  juga. Keadaan nya udah kayak lalulintas di jakarta,  macet. Kalian pasti pernah ke jakarta kan? pernah kejebak macet di jalan tol daerah pusat ibukota itu? Kalo belom pernah lu harus cobain.

Macet total, padat merayap, sama kayak kuliah gue. Di tingkat ini, otak gue macet dan padat merayap, otak gue berjuang mati-matian buat nerobos lampu merah yang ada didepan gue. Salip kanan, salip kiri, cuma buat sampe cepat ke tujuan akhir gue. Wisuda.

Gue selalu menganalogi kan kehidupan ini sama kayak kita dijalanan. Berangkat pagi-pagi buta dengan harapan di jalan yang nanti kita lewatin ga ada kemacetan, tapi siapa sangka kalo ditengah jalan nanti ternyata lalu lintas yang gue lewatin ga seperti yang gue harapkan. Bagi gue itu normal. Buat ngedapetin apa yang kita mau, ga semudah lu ngeliat paha dada di film horor. Semua pasti ada hambatan, sekalipun itu jalan tol yang katanya bebas habatan dan bebas dari kemacetan.

 Trus harus nyerah? Nggak. Kita tetap harus berjuang untuk mencapai tujuan yang kita mau. Buat kekampus misalnya, lu harus hadapin itu kemacetan yang ada dijalan, jangan malah lari dan cari jalan lain buat cepet sampe ke tempat tujuan. Emang itu lebih mudah, tapi kalo lo sadar, jalan lain itu mungkin aja berputar-putar disitu aja, celakanya kalo jalan itu malah bikin kalian nyasar. Bukan ketempat tujuan semula tapi malah ketempat lain yag lebih parah dari jalan semula.

Di setiap jalan pasti ada persimpangan, sama kayak lu milih jurusan, pilihan nya banyak kan? Karena itu lu harus bisa pinter-pinter memilih jalan mana yang bakal kalian lewatin.

Yakinin dalam hati kalian kalau tujuan itu pasti akan tercapai, entah lewat jalan yang mana. Yang pasti kalian harus punya peta atau GPS super canggih buat nentuin ini. Jangan tergoda sama pilihan orang, jangan mau jadi follower tapi kalian harus jadi yg selalu difollowing orang-orang. Jangan mau jadi penonton tapi jadilah pemain. Sama kayak dikelas, jangan mau dengerin dosen ceramah, tapi lo yang harus ceramahin tuh dosen.

*durhaka*

Emang buat sampai ke tujuan yang kita mau itu ga ada jalan pintas, ga ada jalan memutar. Yang ada cuma jalan panjang yang harus lu hadapin. Jalan yang benar itu ga harus lurus-lurus aja, tapi jalan yang berbelok-belok dan bervariasi itu yang bakal bikin hidup lu lebih menarik. Jangan pernah takut buat ngambil keputusan selama keputusan lu itu bisa lu pertanggung jawabkan, jadi jangan pernah ragu. Kalo nanti diujung jalan lu ketemu persimpangan, lo ga akan ragu lagi buat memilih kemana jalan yang menurut lu bener.

Kalo emang sekarang udah salah jalan terus gimana? Yaudah jalanin aja perjalanan lu itu, nikmatin aja sampai batas kesadaran lo ilang, nanti pasti bakal ada banyak petunjuk arah yang bisa lu dapetin, petunjuk itu bakal nuntun kemana arah lu pergi karena disetiap persimpangan jalan pasti didepan nya bakal ada persimpangan-persimpangan yang lainnya. Nah disitu lo bisa pake tuh petunjuk arah.

Selama gue mendapat title mahasiswa salah jurusan, gue selalu ngerasa gue salah arah. Yang harusnya gue menuruti minat dan bakat gue, tapi malah melenceng ke minat dan bakat orang tua gue. Tapi gue nikmatin perjalanan yang selama ini udah gue tempuh, karena gue selalu berfikir, pilihan orangtua kita ga ada yang salah.

 Ga ada orangtua yang mau menjerumuskan anaknya, dan biasanya proses awalnya memang terlihat salah tapi ketika kita menjalani itu dengan sungguh-sungguh pasti ada nilai yang berarti dari petunjuk orangtua kita itu.

Contoh kasus gue, minat dan bakat gue dibidang seni dan design tapi kedua orang tua gue selalu menunjukkan kearah ekonomi. Awalnya memang gue menganggap ini salah, tapi setelah gue menjalaninya gue baru merasa kalo ilmu ini bermanfaat. Seandainya gue ga masuk akutansi, tentu gue ga bisa menjalankan bisnis yang lagi gue kembangkan ini. Jalannya bisnis ini juga tidak lepas dari peran serta ilmu ekonomi yang gue pelajarin di kampus. 

Ada pepatah yang bilang,”malu bertanya sesat dijalan”. Pepatah ini ada benarnya juga, klo emang penunjuk arah yang diandalin ga cukup buat menuntun jalan lo, jangan ragu bertanya keorang-orang terdekat, apalagi ke orang yang lebih tua karena biasanya mereka punya pengalaman yang lebih dari kita.

*ngelap air mata*

So, menurut gue yah nikmatin aja setiap kilometer yang udah lo tempuh dan akan lo tempuh, karena mungkin lu ga bisa balik lagi ke belakang karena jalan kehidupan itu cuma satu arah bukan dua arah. Jalan terus kedepan, jadikan kilometer yang udah lu lewatin sebagai pelajaran. Tapi saran dari gue hati-hati di kilometer tujuh puluh sampai sembilan puluh, apalagi di tol cipularang, karena disitu.... Angker. (kata orang).

Apa yang kamu yakini, kamu jalani, dan kamu turuti saat ini, tanpa ada dukungan dari orang-orang yang kita sayang terutama orang tua, semua ga bakal berjalan lancar. Restu orang tua, nasihat orang tua kita jadi satu-satunya kunci kesuksesan kita.
Creative By : Fardan Ode

Hancurkan Karakter JahatKu

Hancurkan Kebinatanganku _ Creative By : Fardan Ode

Pada setiap raka'at sembahyang yang tanpa duduk tahiyat, Anda memerlukan tahap transisi ruku' dari qiyam menuju posisi sujud. Tapi kemudian dari posisi sujud ke qiyam, Anda melakukannya langsung tanpa ruku'. Ini acuan pertama. Acuan kedua adalah pertemuan Anda dalam shalat dengan beberapa karakter atau sifat Allah swt. Ini berdasarkan kalimat-kalimat yang Anda ucapkan selama melakukan shalat. Pertama, tentu saja Allah yang akbar. Lantas ia bagai rabbun. Selanjutnya, rahmân dan rahîm. Kemudian hakekat kedudukannya sebagai mâlik. Dan akhirnya Allah yang `adhîm dan a`lâ. *** Kedudukan Allah sebagai akbar atau Yang Maha Lebih besar (Ia senantiasa terasa lebih besar, dinamika, tak terhingga, seiring dengan pemuaian kesadaran dan penemuan kita)—kita ucapkan untuk mengawali shalat serta untuk menandai pergantian tahap ke tahap berikutnya dalam shalat. Artinya, setiap langkah kesadaran dan laku kita letakkan di dalam penghayatan tentang ketidakterhinggaan kebesaran-Nya, melainkan mengasah kita melalui fungsi-Nya sebagai rabbun. Sebagai Yang maha Mengasuh, Ia bersifat penuh kasih dan penuh sayang, Rahmân dan Rahîm. Penuh cinta dalam konteks hubungan individual Ia dengan Anda, maupun dalam hubungan yang lebih `heterogen' antara ia dengan komprehensi kebersamaan kemanusiaan dan alam semesta. *** Tapi jangan lupa Ia adalah Raja Diraja, Ia Mâlik, hakim agung di hari perhitungan. Ia sekaligus Maha Legislatif, Maha Eksekutif dan Maha Yudikatif. Dan memang hanya Ia yang berhak penuh merangkum seluruh kehidupan itu hanya dengan diri-Nya yang sendiri, tanpa kita khawatirkan terjadi ketidakadilan dan ketidakjujuran—yang pada budaya kekuasaan antara manusia dua faktor itu membuat mereka menciptakan perimbangan sistem trias politica. Kemudian karakter dan kedudukan-Nya sebagai `Adhîm dan A`lâ, Yang Maha besar (horisontal) dan Maha tinggi (vertikal). *** Yang ingin saya kemukakan kepada Anda adalah bahwa kita menyadari-Nya sebagai A`lâ, Yang Maha Tinggi itu tatkala dalam shalat kita berposisi dan bersikap sebagai binatang. Artinya, ketika kita menyadari kebinatangan kita, yakni dalam keadaan bersujud: badan kita menelungkup bak binatang berkaki empat. Ketika kita beroperasi setengah binatang, waktu ruku' bagaikan monyet yang seolah berdiri penuh seperti manusia namun tangannya berposisi sekaligus sebagai kaki—yang kita sadari adalah Allah sebagai `Adhîm. Dan ketika kita berdiri (qiyâm), Allah yang kita hadapi adalah Allah Rahmân, Rahîm, dan Mâlik. Binatang yang ruku' dan sujud' tidak memiliki tradisi intelek dan kesadaran ontologis, sehingga tidak terlibat dalam urusan dengan mâliki yaumiddîn. Raja Hakim hari perhitungan. Kadal dan monyet, termasuk juga virus HIV, tidak diadili, tidak masuk sorga atau neraka. Ketika kita menjadi binatang atau menyadari potensi kebinatangan diri saat sujud dan ruku', kedudukan subyek kita waktu itu adalah aku. Maka kita ucapkan subhâna rabbiya...., bukan subhâna rabbinâ.... Subyek `aku', dengan aksentuasi egoisme, individualisme, egosentrisme, dst. lebih dekat ke kebintangan, dan itu yang harus kita sujudkan kehadapan Allah swt. Adapun ketika kita berdiri `qiyâm', kita menjadi manusia kembali. Dan subyek kita ketika itu bukan lagi menjadi `aku' melainkan `kami'. Artinya, tanda-tanda eksistensi kemanusiaan adalah pada kadar sosialitasnya, kebersamaannya, integritas kiri-kanannya. Kalau binatang, secara naluriyah ia bermasyarakat, tapi oleh Allah tidak dituntut atau ditagih tanggung jawab kemasyarakatannya. Tuntutan dan tagihan itulah yang membedakan antara binatang dan manusia, itu pulalah yang menghinakan manusia, atau justru memuliakannya. *** Mungkin itulah sebabnya maka sesudah kita ber-takbiratul ikhram dan berdiri `sebagai manusia', Allah menyuruh kita untuk terlebih dahulu menyadari potensi kebinatangan kita dalam sujud, melalui transisi ruku'. Nanti sesudah sujudnya penuh, silakan langsung berdiri kembali sebagai manusia. Nanti menjelang Pemilu, pesta demokrasi yang urusannya bergelimang kekuatan dan kekuasaan di antara sesama manusia—ada baiknya semua pihak memperbanyak sujud. Agar supaya kebinatangan diminimalisir. Dan semoga jangan banyak-banyak yang bersikap sebagaimana iblis, yang menolak bersujud, karena merasa lebih tinggi, lebih benar, lebih takabur. Ah, nanti panjang sekali kalau saya teruskan....[] (Emha Ainun Nadjib/"Keranjang Sampah"/Zaituna/1999/PadhangmBulanNetDok) MENANGIS Sehabis sesiangan beker­ja di sawah-sawah serta disegala macam yang diperlukan oleh desa rintisan yang mereka dirikan jauh di pedalaman, Abah Latif rnenga­jak para santri untuk sesering mungkin bershalat malam. Senantiasa lama waktu yang diperlukan, karena setiap kali memasuki kalimat "iyyaka na'budu..." Abah Latif biasanya lantas menangis tersedu-sedu bagai tak perpenghabisan. Sesudah melalui perjuangan batin yang amat berat un­tuk melampaui kata itu, Abah Latif akan berlama-lama lagi macet lidahnya mengucapkan "wa iyyaka nasta'in..." Banyak di antara jamah yang bahkan terkadang ada satu dua yang lantas ambruk ke lantai atau meraung-raung. "Hidup manusia harus ber­pijak, sebagaimana setiap pohon harus berakar", ber­kata Abah Latif seusai wirid bersama, "Mengucapkan kata-kata itu dalam al-Fatihah pun harus ada akar dan pijakannya yang nyata dalam kehidupan. 'Harus' di situ titik beratnya bukan sebagai aturan, melainkan memang demikianlah hakekat alam, di mana manusia tak bisa berada dan berlaku selain di dalam hakekat itu"'. "Astaghfimllah, astaghfirullah", geremang turut menangis mulut para­santri. "Jadi, anak-anakku", beliau melanjutkan, "apa akar dan pijakan kita dalam mengucapkan kepada Allah iyyaka na'budu?" "Bukankah tak ada salahnya mengucapkan sesuatu yang toh baik dan merupakan bimbingan Allah itu sendiri, Abah?", bertanya seorang santri. "Kita tidak boleh mengucapkan kata, Nak, kita hanya boleh mengucapkan kehidupan". "Belum jelas benar bagiku, Abah". "Kita dilarang mengucapkan kekosongan, kita hanya diperkenankan mengucapkan kenyataan". "Astaghfirullah, astaghfirullah", geremang mulut para santri terhenti ucapannya, Dan Abah Latif meneruskan, "Sekarang ini kita mungkin sudah pantas mengucapkan iyyaka a'budu. Kepada-Mu aku menyembah. Tetapi Kaum Muslimin masih belum memiliki suatu kondisi keumatan untuk layak berkata kepada-Mu kami menyembah, na'budu". "Al-Fatihah haruslah mencerminkan proses dan tahapan pencapaian sejarah kita sebagai diri pribadi serta kita seba­gai umatan wahidah. Ketika sampai di kalimat na'budu, tingkat yang harus kita capai telah lebih dari 'abdullah, yakni khalifatullah. Suatu maqam yang dipersyarati oleh kebersamaan Kaum Muslimin dalam menyembah Allah di mana penyembahan itu diterjemahkan ke dalam setiap bidang kehidupan. Mengucapkan iyyaka na'budu dalam shalat mustilah memiliki akar dan pijakan di mana kita Kaum Muslimin telah membawa urusan rumah tangga, urusan perniagaan, urusan sosial dan politik serta segala urusan lain untuk menyembah hanya kepada Allah. Maka, anak-anakku, betapa mungkin dalam keadaan kita dewasa ini lidah kita tidak kelu dan airmata tak bercucuran tatkala harus mengucapkan kata-kata itu?" "Astaghfirullah, astaghfirullah", geremang mulut para santri. "Al-Fatihah hanya pantas diucapkan apabila kita telah saling menjadi khalifatullah di dalam berbagai hubungan kehidupan. Tangis kita akan sungguh-sungguh tak berpeng­habisan karena dengan mengucapkan wa iyyaka nasta'in, kita telah secara terang-terangan menipu Tuhan. Kita berbohong kepada-Nya berpuluh-puluh kali dalam sehari. Kita nyatakan bahwa kita meminta pertolongan hanya kepada Allah, padahal dalam sangat banyak hal kita lebih banyak bergantung kepada kekuatan, kekuasaan dan mekanisme yang pada hakekatnya melawan Allah". "Astaghfirullah, astaghfirullah", gemeremang para santri. "Anak-anakku, pergilah masuk ke dalam dirimu sendiri, telusurilah perbuatan-perbuatanmu sendiri, masuklah ke urusan-urusan manusia di sekitarmu, pergilah ke pasar, ke kantor-kantor, ke panggung-panggung dunia yang luas: tekunilah, temukanlah salah benarnya ucapan-ucapanku kepadamu. Kemudian peliharalah kepekaan dan kesang­gupan untuk tetap bisa menangis. Karena alhamdulillah seandainya sampai akhir hidup kita hanya diperkenankan untuk menangis karena keadaan-keadaan itu: airmata saja pun sanggup mengantarkan kita kepada-Nya".!


Creative By : Fardan Ode

Syair dari Seorang Penulis

Penyairpun Bukan 
Aku hanya tukang 
Mengembarai hutan 
Menggergaji kayu 
Bikin ragangan Mainan pesanan Tuhan 
 
Penyairpun bukan 
Aku hanya pelayan 
Meladeni cara 
Meracik kata 
Mengais rahasia 
Agar tak mati fana 
 
Penyairpun bukan
 Aku hanya penyelam 
Menukiki samudera 
Pulang ke permukaan 
Membawa batu purba 
Untuk melempari cakrawala


Creative By : Fardan Ode

Bercerminlah Manusia

Creative By : La Ode Muhamad Fardan 

Jangankan menjadi Nabi: jadi manusia saja, siapa yang benar-benar lulus? Alangkah mengagumkan sahabat-sahabat yang gagah menyertakan kata Ulama, Kiai, Ustadz, Syekh, Maulana, di depan namanya. Yang tanpa hati ragu memakai surban di kepalanya, mengenakan jubah semampir pundaknya, terlebih lagi rangkaian butir tasbih di jari-jemarinya. Apakah beliau sangat meyakini diri, ataukah setiap kali perlu meyakin-yakinkan diri. Adapun ilmuwan, cendekiawan, seniman, budayawan, Begawan, Undagi, Ulil Abshar, Ulil Albab, Ulin Nuha, terlebih lagi wadag-wadag seperti Profesor, Doktor, Profesional, Pejabat, Presiden: di satu sisi itu adalah perjalanan kebenaran dan kemuliaan, di sisi lain itu adalah "mata'ul ghurur", perhiasan dunia, serta "la'ibun wa lahwun", permainan dan senda gurau. Pakai common sense saja: adakah kaki telah melangkah sebagaimana yang dimaksudkan dulu oleh Peciptanya. 

Adakah tangan telah mengerjakan mendekati gagasan Pembikinnya. Adakah mata telah melihat, telinga telah mendengar, akal telah mengolah ilmu dan wacana, mulut telah memakan segala sesuatu yang dulu merupakan visi missi Pihak yang merancangnya. Kata Islam, seseorang adalah Nabi karena nubuwah. Adalah Rasul karena risalah. Adalah Wali karena walayah. Dan adalah manusia karena khilafah. Keempat 'ah' itu milik Allah, dilimpahkan alias diamanahkan kepada makhluk dengan strata dan kualitas yang Ia bikin berbeda, dengan Ia siapkan tingkat 'human and social penetration'yang juga bertingkat-tingkat. Khilafah itu titipan atau pelimpahan bagi semua dan setiap manusia: tidak relevan, tidak rasional dan tidak realistis dan a-historis untuk diambil sebagai 'icon' suatu golongan. Begitu engkau bukan dimaksudkan Tuhan sebagai Malaikat, Iblis, Jin, hewan atau alam, maka engkaulah Khalifah yang menyandang khilafah. Secara simbolik-dinamik sering saya memakai idiom persuami-istrian. Sebagaimana Allah 'memperistri' makhluk-makhlukNya, lelaki 'memperistri' perempuan dan Pemerintah 'dipersuamikan' oleh rakyat -- maka ummat manusia dinobatkan menjadi 'suami' bagi alam semesta. 

Tugasnya adalah menghimpun ilmu, melakukan pemetaan, menyusun disain dan methodologi, menggambar dan mensimulasikan sistem dan managemen untuk memproduksi "rahmatan lil'alamin".Sejarah ummat manusia di muka bumi telah mencatat peradaban-peradaban para suami istri itu dengan penumpahan darah yang terlalu banyak, dusta dan peperangan yang selalu berlebihan, hipokrisi dan kepalsuan yang bertele-tele, kebodohan ilmu dan kemandegan akal yang amat memalukan, serta kekerdilan mental dan kebutaan spiritual yang senantiasa ditutup-tutupi dengan berbagai mode kesombangan yang mewah namun menggelikan dan menjijikkan. Manusia tidak bisa disebut pernah sungguh-sungguh, konstan dan konsisten mempelajari Tuhan, setan, demokrasi, nafsu, kebenaran, kemuliaan, dan terutama mempelajari dirinya sendiri. Manusia melangkah serabutan, berpikir sepenggal, bertindak instan, menimbang dengan menipu timbangan, tetapi Tuhan sendiri memang 'terlibat' dalam hal ini: "Inna khalaqnal insana fil'ajal": sesungguhnya Aku ciptakan manusia cenderung bersikap tergesa-gesa.... 

Sejarah sekolah dan universitas tidak pernah benar-benar menyiapkan perjalanan tafakkur dan ijtihad ummat manusia melalui tahap-tahap pola berpikir linier, zigzag, spiral hingga thawaf siklikal. Universitas hanya mewisuda Sarjana Fakultatif meskipun kampusnya bernama universitas. Belum tuntas kaum muda menjadi murid (murid: orang yang menghendaki ilmu), dipaksakan naik ke bangku keangkuhan dengan menggelari diri maha-siswa. Para pembelajar dan pencari ilmu bersemayam di 'koma' -- begitu dia maha, finallah dan titiklah sudah perjalanan ilmiahnya. Di manakah pintu ilmu, babul 'ilmi? 

Di manakah kota raya ilmu, madinatul 'ilmi? Siapa kaum terpelajar yang tertarik pada idiom itu, apalagi menjelajahinya? Bagi kaum muda Indonesia, cukuplah Thukul bagi mereka. Sambil tiba-tiba menaiki 'maha'-kendaraan yang bernama demokrasi, world class society, pilkada pemilu pildacil, public figure, album 'religi', Majlis Ulama, clean government, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang semakin tak pantas menyandang nama itu, di tengah lautan meluap, gunung meletus, bumi bergoyang-goyang sampai ke urat syaraf otak manusianya. Padahal kapasitas sistem syaraf otak manusia itu takkan pernah sanggup dirumuskan atau dikuasai oleh si manusia sendiri. Padahal pendaran-pendaran elektromagnetik 'nur' Allah yang bertebaran bertaburan keseluruh permukaan bumi, memusat menggumpal di seputar bagian atas ubun-ubun kepala setiap manusia. Abracadabra! Siapakah yang tak sesat di antara kita? Makan saja sesat sampai ke propinsi kolesterol, asam urat, jantungan, gagal ginjal, ganti hati dan stroke. Kehidupan berbangsa dan bernegara kita adalah festival demi festival kesesatan nasional. Pemilu salah pilih wakil dan pemimpin. 220 juta manusia tersesat ke satu lorong cita-cita: mau kaya, eksis dan berkuasa. Jalannya beribu-ribu, profesinya berbagai-bagai, icon-nya berjenis-jenis, namun menuju satu lorong itu juga. Kesesatan sistem. Kesesatan moral. Kesesatan budaya. Kesesatan ilmu. 

Kesesatan bermacam-macam kesesatan, dengan kadar yang juga berbeda-beda. Sesat moral atau akhlak. Sesat fiqih atau hukum. Sesat sosial. Setiap keputusan ekonomi yang menjerumuskan orang banyak, policy politik yang kontraproduktif terhadap keharusan kemajuan dan pembangunan, adalah - pinjam bahasa Tuhan - "dhulmun 'adhim", kesesatan yang nyata. Sesat di segala wilayah: perda, perpres, perdes, di rumah tangga, perusahaan, di jalanan. Khalifah Umar bin Abdul Aziz menangis membentur-benturkan kepala ke lantai, bersujud mohon ampun kepada Allah, 'hanya' karena seekor onta terpeleset di jalan di wilayah pemerintahannya. Sementara dalam kehidupan kita jumlah penganggur bertambah puluhan juta tak ada yang merasa bersalah, dilemma kesengsaraan ribuan penduduk bawah jalan tol belum beres, pemimpinnya tega nampang mencalonkan diri akan jadi Presiden. Dan sama sekali tak bisa kita simpulkan bahwa berbagai macam kesesatan yang sedang kita alami atau sedang menimpa mayoritas bangsa kita kalah berbahaya dibanding yang kita ributkan dengan kesesatan AlQiyadah. Hanya saja AlQiyadah menyentuh wilayah 'pamali', 'sirik', 'wadi', 'jimat' hatinya ratusan ribu orang. Yakni aqidah. Teologi. 

Wacana sangat privat yang sudah lebih mendalam di lubuk jiwa -- meskipun mungkin karena saking mendalamnya maka susah diaplikasikan keluar diri manusia untuk menjadi kebaikan sosial bersama. Andaikan AlQiyadah mengajak korupsi, ia pasti terpuji dan ke mana-mana pasti banyak kawan. Andaikan AlQiyadah memakai tabir Parpol, segera para pencoleng akan berkumpul mengerumuninya. Sebab bagi cara berpikir keagamaan umum: parpol, uang, korupsi, keculasan -- itu tidak sealamat dengan Allah dan Nabi Muhammad. Diam-diam saya pribadi menemukan bahwa alhamdulillah kesesatan-kesesatan hidup saya tidak diketahui umum atau pihak yang berwajib. Saya mohon dengan sangat bagi teman-teman yang tahu bahwa selama ini saya mendayung perahu hidup saya di aliran-aliran sesat karena tidak umum dan bukan mainstream: hendaklah tak usah melaporkan kepada MUI dan Pemerintah. Itu semua karena sampai usia menjelang 60 th Allah memperkenankan saya menjadi penduduk yang tak diperhatikan, tak didengarkan, tak dianggep, selalu diletakkan di luar garis-garis pemetaan dlam hal apapun saja. Segala yang saya dan kami lakukan, rekor apapun yang pernah kami capai, ke benua dan kota-kota besar dunia belahan manapun kami mengibarkan Merah Putih, dengan berapa ribu dan puluh ribu massapun saya bercengkerama, prestasi dan kualitas apapun yang kami gapai: saya dan kami tetap di luar peta. Bahkan rasa syukur tertinggi saya adalah jika kelak saya masuk sorga - sesudah lewat neraka: orang tetap tidak percaya bahwa saya masuk sorga. Itulah sebabnya pembicaraan di setiap forum selalu saya awali dengan kalimat "Jangan percaya pada saya, percayalah sama Allah dan Muhammad". 

Saya merasa bodoh kalau saya membaiat orang, karena dengan begitu aku yang melegitimasi kedudukanny, sehingga aku akan harus turut bertanggujng jawab atas apa yang dilakukan oleh orang yang saya baiat. Sedangkan di hadapan peradilan Tuhan, tidak logis kalau aku bisa menolong anakku atau aku bisa ditolong istriku. Tidak ada orang disumpah atau disyahadati, yang ada adalah orang bersumpah atau bersyahadat dengan dirinya sendiri. Saya tidak pernah mengakui diri saya sendiri, karena yang substansial adalah pengakuan Allah atasku, jika hal itu sekarang atau kelak mungkin terjadi. Saya tidak tega dan geli kalau orang menjadikan saya sebagai panutan, menyebut saya Ustadz, Kiai, bahkan ada spanduk berbunyi "Selamat Datang KH Emha Ainun Nadjib". 

Ya Allah lucunya. Maka tak pernah ada keberanian pada diri saya untuk mengajak orang lain, apalagi untuk meyakini apa yang saya yakini, untuk berpikir seperti saya berpikir, untuk menganut apa yang saya anut. Setiap orang jangan memandang saya. Pandanglah Allah, Muhammad, Yesus, Budha, Sang Hyang Widhi: take it or leave it. Atau tak usah memandang siapapun kecuali dirimu sendiri, kepentinganmu sendiri, sebagaimana Firaun. Engkau merdeka bahkan untuk menjadi Firaun. Itu urusanmu dengan Tuhan dan dirimu sendiri, bukan dengan saya. Semua Nabi dan Rasul, umpamanya Adam atau Yunus, hanya berani menyebut dirinya dholim, "Robbana dholamna anfusana", "Inni kuntu minadh-dholimin". Maka siapakah aku, sehingga mantap untuk tak melihat diriku tersesat? Kesesatan adalah milikku sehari-hari. 

Oleh karena itu mengaku diri manusiapun rasa belum pantas. Andaikanpun aku ini Ahlul Bait keturunan Rasulullah SAW gabung dengan darah Brawijaya, pasti kututupi sebagaimana kurahasiakan auratku. Akan tetapi apakah saya menolak keseyogyaan dakwah? O tidak. Saya seorang Da'i pelaku dakwah. Da'wah artinya panggilan, yad'u artinya memanggil, pelakunya Da'i. Menyapa. Memanusiakan. Meneguhkan bahwa yang selain saya itu benar-benar ada. Da'wah itu panggilan pada skala horisontal dengan sesama makhluk. Kalau vertikal, dari kata yang sama menjadi du'a, bahasa Indonesianya: doa, kata kerjanya juga yad'u, subyeknya juga Da'i. Berdoa adalah menyapa Allah. Kalau kita tiap saat minta-minta terus kepada Tuhan, menurut suatu logika berpikir: tak akan lebih dikasihi oleh Allah dibanding kalau kita rajin menyapaNya, rajin 'gaul' sama Dia, 'mentuhankan' Tuhan sebagaimana memanusiakan manusia. Tetangga lebih simpatik kepada kita yang suka menyapanya dibanding yang sering meminta-minta -- meskipun menurut pemahaman lain Tuhan tidaklah sama dengan tetangga. 

Pinjam puisinya Chairil Anwar: bukan kesesatan benar menusuk kalbu, keridhaanmu menerima segala tiba, tak setinggi itu atas debu, dan duka maha tuan bertahta.... Allah sendiri, Masya Allah memang Maha Menyesatkan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah tak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan olehNya tak seorangpun bisa memberinya petunjuk.


Creative By : La Ode Muhamad Fardan